Dahulunya di Ulak Patian Rokan Hulu  Infrastruktur Kesehatan jauh dari kata layak,mereka tidak mengenal Medis, tidak mengenal Dokter, Puskesmas, mantri, bidan ataupun yang lainnya.

Jika ada yang sakit maka diobati dengan ritual Tarian yang diiringi dengan musik dan pembacaan mantra, Tarian tersebut adalah Tari Burung Kwayang. Berbagai penyakit disembuhkan dengan pengobatan tradisional dengan mengundang jin-jin, ritual pengobatan ini  dipimpin oleh Bomo yang dalam tarian itu disebut Dondayang. Dalam istilah keseharian yang sakit selalu disebut dengan anak cucu Datuk Said Panjang jangguik dan Uak paneh Sopotang. Begitulah mereka mengakui bahwa mereka adalah keturunan datuk tersebut, dan masih berharap dengan perlindungan dari makhluk halus ini.


salah seorang penari burung kwayang dari Bonai, Rokan Hulu mengatakan, tari burung kwayang adalah sebuah ritual pengobatan yang biasa dilakukan oleh masyarakat adat bonai. Tari burung kwayang dibawakan oleh seorang bomo atau dukun yang bertindak sebagai dondayang atau perantara dengan makhluk halus, yang disebut dengan deo. Di samping itu, penari penari yang disebut sebagai pomantan, yang dirasuki oleh para deo, dipanggil oleh sang dukun.

"Sebelum pengobatan ini dimulai, disiapkan sejumlah makanan tradisional, berbagai ramuan obat, air bunga, kemeyan, jeruk purut, dan lainnya. Ritual dimulai dengan pembacaan mantera oleh bomo untuk memanggil makhluk halus atau deo, yang dimasukkan ke tubuh pomanten



Setelah deo masuk ke tubuh pomaten, terjadi dialog yang membicarakan maksud penggilan deo tersebut. Pasien yang diletakkan di tengah-tengah dubalangpun mulai diobati oleh makhluk halus. Sedangkan bomo kembali membaca mantera untuk memanggil delapan deo lagi yang dimasukkan ke tubuh pomanen dengan menyebutkan namanya, yaitu Rajo Anak Tangah Koto, Anak Rajo Pulau Pinang, Dayang Limun, Dayang Mak Inai, Olah Kisumbo, Buaya Gilo, Burung Kwuayan, dan Kudo Lambung.

Para pomaten yang sudah dirasuki oleh roh para deo tersebut menari berputar-putardiiringi oleh music tradisionalyang terdengar magis. Pengobatan sesi pertama selesai, dan bomo membaca mantera untuk mengeluarkan para deo dari tubuh pomanten. Tapi pada sesi berikutnya, bomo kembali memanggil deo-deo yang lain, yakni, deo Uda Balai, Mak Ino Kuning Tanah Dareh, Anak Rajo Jopun, Anak Rajo Lelo Mongok, dan Kumbang Sulendang.

Pasien  kembali diobati oleh para deo tersebut dengan iringan musik tradisional hingga pengobatan selesai, dan bomo membaca mantera untuk mengusir para makhluk halus.

Pada Tahun 2019 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah  menetapkan 267 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan Tari Burung Kwayang menjadi salah satu dari Warisan BudayaTak Benda dengan Nomor Registrasi 201900838.






Sumber FacebookTiga Naga Fotball Academy & Soccer School


Klub Sepakbola Tiga Naga (disingkat KS Tiga Naga) asal Pekanbaru menjadi Tim Fenomenal karena  berhasil promosi pada tahun 2019 dan akan berlaga di Liga 2 2020. 

Tiga Naga merupakan Akademi Sepakbola Profesional asal Pekanbaru yang memiliki Fasilitas cukup lengkap, Beberapa waktu lalu kami sempat berkunjung ke Stadion Tumpal Sinaga yang merupakan Training Ground Akademi Sepakbla Tiga Naga  dan Juga Home Base Tim Tiga Naga, Stadion Tumpal Sinaga dengan luas 2hektare, Kualitas rumput bisa kami pastikan inilah Rumput yang terbaik di Sumatera, rumput hijau yang selalu dirawat serasa melihat Rumput Stadion di Eropa, rumput berwarna hijau dibuat bergaris selang seling.

Drainase Stadion cukup baik, drainase ada di lapangan aupun pinggir lapangan, kita tidak perlu khawatir jika hujan terjadi , air akan cepat merembes ke Tanah
Disekitar Stadion terdapat Kolom renang mini untuk underwater treatment, untuk Kualitas penerangan cukup baik, dimana saat Liga Tiga Musim 2019 lalu Tiga Naga mampu menjadi Tuan Rumah yang baik dengan menggelar pertandingan di malam Hari .
 


Berawal dari Akademi Sepak Bola

Tiga Naga melakukan pembinaan pemain Usia Muda dengan melakukan seleksi di berbagai Kota, tujuan mulia dari Sang Pemilik yaitu untuk mencetak pemain berbakat dan tentunya dapat berprestasi di kemudian hari. " Kami Ingin Memberikan Kontribusi Buat Bangsa & Negara Indonesia Melalui Sepak Bola Pembinaan Usia Dini " demikian sebuah Postingan Facebook Akun Tiga Naga Football Academy & Soccer School.

Berawal dari Pembinaan Usia Muda apa yang diimpikan bapak Rudy Sinaga sang Pemilik sudah menjadi kenyataan, Tiga Naga sudah mampu memberikan kontribusi untuk Indonesia, Di Timnas U19 ada Aji Kesuma dan di Timnas U16 ada debutan Wahyu Pratama yang mencetak 2gol saat Indonesia membantai Mariana Utara 15 - 1 dan spesialnya mereka adalah Putra Riau. Saat ini ada 2 orang pemain didikan Tiga Naga yang menjalani Latihan di Klub Liga 2 Spanyol Numancia yaitu Alowisius Sandi Ardiles dan Ignasius Abelard Tegar Pambudi dan beberapa pemain lain yang permah mengikuti Seleksi Tim Nasional Indonesia


Liga 3 2019

Mengawali Musim Liga 3 2019 , KS Tiga Naga Memulai dari Liga 3 Pra Nasional 2019. KS Tiga Naga termasuk dalam grup A yang di huni oleh, KS Tiga Naga, SEL 50 Kota FC,  Persika Karawang dan Persiba Bantul. KS Tiga Naga keluar menjadi juara Grup ditemani Persiba Bantul di posisi Runner-Up dan  berhak lolos ke Liga 3 Nasional 2019.
 
Di Liga 3 Nasional 2019 Babak 32 Besar KS Tiga Naga kembali berada di Grup A bersama Karo United FC,  Persikota Tangerang dan Tim satu Kota Pekanbaru yaitu Tornado FC dan di 32 Besar Liga 3 Nasional 2019 ini KS Tiga Naga kembali keluar sebagai juara grup A serta berhak LOLOS ke babak 16 Besar di temani oleh Karo United FC.
Di 16 Besar Liga 3 Nasional 2019 KS Tiga Naga menghadapi tim asal Kepulauan Riau yaitu 757 Kepri Jaya FC, babak 16 Besar Liga 3 Nasional berlangsung di Stadion Tumpal Sinaga dan laga ini dimenangkan oleh KS Tiga Naga dengan skor tipis 1-0 dan KS Tiga Naga lolos ke 8 Besar Liga 3 Nasional 2019.

Babak 8 Besar Liga 3 Nasional 2019 KS Tiga Naga menempati grup barat bersama PSKC Kota Cimahi, Persidi Idi Rayeuk dan Persekat Kab. Tegal. Pertandingan pertama yang bermain di Stadion Siliwangi melawan Persekat Kab. Tegal., KS Tiga Naga menang dengan skor 2-1, namun sayang dipertandingan kedua KS Tiga Naga harus menelan kekalahan 1-5 dari tuan rumah PSKC Kota Cimahi, Kekalahan ini memaksa KS Tiga Naga harus melakukan pertandingan Hidup Mati melawan Persidi Idi Rayeuk dan Tiga Naga berhasil  memenangkan pertandingan terakhir dengan skor 2-1, dan menempatkan KS Tiga Naga sebagai Runner Up Grup Barat dan berhak mendapatkan tiket promosi ke Liga 2 2020

Tiga Naga tidak berjuang sendirian, Suporter Setia Ultras Draco selalu mendukung. Nama Ultras Draco sediri merupakan nama naga asli andemik sumatera yeng bernama Draco Lizard.

Gambaran singkat tentang perjalanan Tiga Naga yang berawal dari sebuah Akademi Sepak bola menjadi suatu Klub Sepak bola Professional di Liga 2 Indonesia 2020 dapat disaksikan di Video Berikut yang kami kutip dari Akun Resmi Youtuber Tiga Naga : TigaNaga TV






Baghandu berasal dari bahasa daerah ( Ocu ), dan jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia bisa diartikan dengan “Bersenandung” atau makna-makna lain semisalnya bernyanyi, melantunkan, ayunan, buaian.

Sudah menjadi pemandangan umum bagi masyarakat Kampar pada masa dulu, bertani secara berpindah-pindah, hal ini didukung oleh alam nan hijau luas terbentang dan ketika penat saat bertani mereka  melepas kelelahan dengan Baghandu dan  melantunkan nyanyian dan nada-nada kehidupan. 

Salah satu baghandu yang melegenda adalah senandungan ibu-ibu meninabobokan buah hatinya. Hal ini diambil dari potongan Hadist Rasulullah Saw”tuntutlah ilmu itu dari ayunan hingga ke liang lahat”. Dengan dasar ini orang tua-tua Kampar mengenalkan dasar Islam kepada anak-anak balitanya dengan dua kalimat syahadat melalui ayunan atau Baghandu, bait berikut merupakan penggalan dari kalimat baghandu :

”Laa ilaa ha illallaah,
Muhammaa dur-Rasulullaah,
Tiado tuhan salain Allah
Muhammad du rasul Allah
Kok ai ba bilang ai,
Suda komi la jumat pulo,
Kok nak tontu nak agamo kami,
         Namonyo Islam, Muhammad nabi nyo...”
Bila mendengar kata Silat yang terpintas bagi kita di Riau adalah Silat Pangean, dternyata di Riau tidak hanya ada Silat Pangean tetapi juga terdapat jenis Silat lainnya. Salah satu jenis Silat tersebut adalah Silat Tiga Bulan yang berasal dari Rokan Hulu atau dengan bahasa Lokal Rokan biasa disebut Silek Tigo Bulan.


Pada Tahun 2018 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah  menetapkan 225 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan Belian menjadi salah satu dari Warisan Budaya Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201800633.

Salah satu jenis Silat Melayu Sungai Rokan yang paling terkenal adalah silat tiga bulan. Jenis silat ini kemudian hari dibagi menjadi dua yaitu sendeng dan tondan. 

Gelanggang yang mengutamakan pelajaran dan latihan gerak ketangkasan disebut tondan. Sedangkan gelanggang yang lebih mengutamakan ketahanan fisik disebut sendeng. Kebanyakan orang lebih suka belajar tondan terlebih dahulu baru kemudian belajar sendeng.

Selain silat yang tersebut di atas masih ada istilah silek rimau (silat harimau), silek boruk (silat beruk), silek ula (silat ular), yang muncul karena perilaku pendekar itu seperti harimau, beruk atau ular. Inti pelajaran silat adalah memahirkan penggunaan nur (cahaya). Cahaya itu terbagi tiga, dua di antaranya mempunyai warna khas, dan satu lagi tidak dapat diwujudkan. Ketiga jenis cahaya itu berubah-ubah warnanya.

Selama tiga bulan itulah murid mompolasinkan (memahirkan) penggunaan cahaya tersebut dalam gerak silat. Untuk menamatkan pelajaran silat ini diperlukan waktu selama tiga bulan belajar silat gerak di tanah, ditambah 10 hari untuk menamatkan (kaji batin). hitungan 10 hari adalah kaji di rumah berupa; tujuh hari belajar kaji batin, sehari kaji duduk (silat dalam posisi duduk), sehari kaji togak (silat dalam posisi berdiri), dan sehari hari kaji guliang (silat dalam posisi guling). Kaji guling ini dilakukan dengan mandi berlimau terlebih dulu, kemudian guru menggulingkan muridnya. Dalam keadaan guling tersebut murid diserang dengan tikaman pisau belati. Murid yang guling tadi pasti dapat menghindar karena telah josom. Ujian silat yang terakhir adalah dua orang yang berada dalam satu kain sarung dibekali pisau belati sebilah seorang kemudian mereka saling tikam-menikam.

Jumlah bilangan hari yang dilalui hingga tamat belajar silat tiga bulan ini adalah 100 hari. Silat tondan biasanya lebih dahulu mempelajari silat batin barulah kemudian belajar silat gerak. Kaji di rumah dilalui selama 21 hari. Dalam rentang 21 hari tersebut sebenarnya hanya perlu 7 hari saja. Bilangan 7 hari itu untuk memberi tenggang waktu sebab di antara murid-murid tidak akan sama daya tangkap dan kemampuannya. Kaji di tanah dilakukan selama 21 hari, jumlah masa belajar silat tondan ini 70 hari.

Tondan mengutamakan keahlian, kecepatan dan ketepatan gerak silat, sehingga perlu kecerdasan memahami gerak. Keputusan tondan dan sendeng adalah moilak (mengelak) dan lak, disamakan dengan la (tidak, Arab), apabila ?lah dapek lak mako non tido kan konai kecuali datang molaikat maut? (kalau sudah mendapat keputusan lak maka tidak akan kena kecuali maut). Pendekar bertarung dengan memperhatikan tanda-tanda atau kotipanan yaitu ?apobilo lai nampak non kan di colo, mako indo kan mati indo kan luko? (apabila masih tampak tanda-tanda, maka tidak akan mati dan tidak akan luka) Sementara itu belajar silat sendeng biasa memakan waktu berbulan-bulan, berupa latihan tenaga dan kekuatan fisik. Pendekar sendeng berciri-ciri kuat dan tahan terhadap serangan.

Sumber 
Rudianto (Pegawai Bank Riau Kepri Capem Dalu-Dalu)
https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailCatat=1790


Berikut Video Singkat Gerakan dari Silek Tigo Bulan

Genggong merupakan alat musik jenis harpa mulut yang banyak tersebar di Indonesia dan Alat musik ini dimainkan sebagai hiburan pada waktu senggang.
Genggong adalah alat musik yang terbuat dari bambu, pelepah enau, kayu, atau logam, yang dimainkan dengan mendekatkannya ke rongga mulut, kemudian menarik-narik utas (tali) yang dihubungkan dengan lidah getar pada alat musik tersebut, atau memetik lidah getar berupa lamela logam, sedangkan mulut si pemakai berfungsi sebagai resonator.




Genggong merupakan alat musik khas tradisional Suku Talang Mamak yang terbuat dari pelepah enau. Umumnya Begenggong (memainkan Genggong) dilakukan pada saat- saat istirahat menghibur diri sendiri. Dapat juga dimainkan pada saat menunggu padi masak, acara-acara begawai atau upacara-upacara tradisional lainnya pada Suku Talang Mamak. 

Bagi jejaka, begenggong dilakukan pada saat malam hari untuk memanggil gadis agar turun ke tanah. Begenggong bagi jejaka adalah untuk memikat anak gadis.


Bagaimana dengan Alunan Suara Genggong, saksikan video berikut : 
Kini gerakan anti  sedotan plastik cukup marak dilakukan oleh penggiat dan pecinta lingkungan, masalah sampah plastik yang semakin membahayakan lautan sudah cukup kronis, sampah sedotan plastik di laut mengancam kelestarian satwa.

Kini beberapa makann cepat saji sudah tidak menyediakan sedotan plastik, dan Suku Talang Mamak dari Indragiri Hulu memberikan solusi pengganti sedotan plastik, yaitu Sedotan dari Kerajinan Batang Resam.

Resam adalah sejenis akar yang tumbuh liar di hutan dan bentuknya lurus tidak ada ruas dan panjangnya mencapai dua meter.
 
Sedotan ini terbuat dari bahan Alami, selainmaterial yang alami dan proses pembuatannya juga alami tanpa bahan kimia, Resam yang didapat dari hutan dipotong kemudian isinya dikeluarkan dan dikeringkan  dua minggu. Sedotan dari Resam ini mampu bertahan hingga 3tahun ,setelah digunakan sedotan resam ini dicuci kemudian dikeringkan

 












 Photo : TIKA (AMAN INHU)


Tertarik Untuk Membeli Resam serta Kerajinan Lainnya dari Suku Talang mamak bisa menghubungi TIKA : 081270260953
Siang itu bandara Sultan Syarif kasim II Pekanbaru telihat ramai, beberapa bule terlihat membawa papan selancar. Teluk Meranti sebuah desa di Kabupaten Pelalawan menjadi tujuan mereka, menciptakan rekor terlama berselancar disungai menjadi tujuan mereka. Peselancar Australia itu kelihatan cukup lelah dan kontras menarik perhatian dan sekali kali mereka melambaikan tangan kearah  orang yang melihatnya.

Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II merupakan salah satu bandara tersibuk di Pulau Sumatra, sekurangnya ada beberapa jalur penerbangan yang rutin menuju Pekanbaru Ibu Kota Provinsi Riau,yaitu melalui Jalur Batam, Jakarta, Medan, Denpasar, Yogyakarta, Bandung, Singapura dan Kuala Lumpur dan jalur penerbangan kota lainnya.

Provinsi Riau yang dikenal sebagai daerah dengan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) nya, sudah saatnya tidak lagi terus bergantung kepada  Minyak dan Gas, Kelapa Sawit, Kayu, sudah saatnya Riau  fokus pada pengembangan objek wisata. Provinsi Riau kaya akan berbagai potensi wisata, baik itu wisata alam, wisata syariah, wisata minat khusus, wisata budaya, wisata sejarah maupun wisata lainnya, dan jika dikemas secara baik maka Riau tidak akan kalah dengan Provinsi lainnya yang dapat mengandalkan sektor wisata dan Ekonomi Kreatif sebagai sumber PAD.

Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi telah dinobatkan sebagai Kota Tujuan Investasi Terbaik bahkan BPS menetapkan Riau sebagai sebagai Provinsi dengan penduduk paling bahagia, Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi terus berbenah untuk menjadikan Kota Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE). Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi tidak menawarkan Air Terjun, Hutan, Pantai, Goa, Istana, Sejarah maupun gunung yang menawan, melainkan wisata MICE, posisi geografis yang strategis dan besarnya perputaran uang di Pekanbaru menjadi modal utama, MICE memang menjadi perlengkapan industri pariwisata yang terus menjadi kebutuhan masyarakat modern. Pekanbaru sebagai Tujuan Wisata MICE terbukti dari banyaknya acara besar hingga tingkat hunian hotel dan penginapan yang terus meningkat tiap tahunnya di Pekanbaru. Sedangkan Kabupaten dan Kota lain di Riau menyuguhkan wisata alam, wisata religi, wisata sejarah, wisata kuliner, wisata bahari, Wisata Budaya.   
 

Riau kini sedang berbenah untuk menjadi salah satu destinasi wisata dan juga salah satu upaya untuk menambah PAD karena Kekayaan Alam yang dimiliki Riau kian menyusut. Selama ini Provinsi tetangga sumatra Barat (Sumbar) menjadi Destinasi utama masyarakat Riau untuk berwisata, harus kita akui bahwa infrastruktur pendukung wisata dan juga alam yang menawan menjadi nilai plus dan unggulan Sumbar dan kita perlu banyak belajar kepada Sumatra Barat. 

Riau yang berada di tengah pulau sumatra  dengan masyarakat masih berpegang teguh pada nilai-nilai budaya melayu dan agama islam sedang bertransformasi menjadi salah satu tujuan wisata.
Pemerintah terus mendorong pembangunan infrastruktur, sebagai upaya kita untuk menggaet dan mempermudah akses wisatawan yang berkunjung ke Riau ini, - See more at: https://www.potretnews.com/berita/baca/2016/07/18/minyak-segera-habis-riau-beralih-ke-pariwisata/#sthash.OJWyS9jT.dpuf
Pemerintah terus mendorong pembangunan infrastruktur, sebagai upaya kita untuk menggaet dan mempermudah akses wisatawan yang berkunjung ke Riau ini, - See more at: https://www.potretnews.com/berita/baca/2016/07/18/minyak-segera-habis-riau-beralih-ke-pariwisata/#sthash.OJWyS9jT.dpuf




BONO SUNGAI KAMPAR
Bono merupakan fenomena alam unik yang terjadi di Sungai Kampar Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau.  Bono adalah fenomena alam yang datang sebelum pasang. Air laut mengalir masuk dan bertemu dengan air sungai Kampar sehingga terjadi gelombang dengan kecepatan yang cukup tinggi, dan menghasilkan suara seperti suara guntur dan suara angin kencang. Pada musim pasang tinggi, gelombang sungai Kampar bisa mencapai 4-6 meter, membentang dari tepi ke tepi menutupi keseluruhan badan sungai. Peristiwa ini terjadi setiap hari, siang maupun malam hari. 





Melihat orang berselancar di pantai atau laut adalah suatu hal yang sudah biasa. Tetapi melihat orang berselancar di arus sungai adalah suatu hal yang luar biasa. Kegiatan berselancar di sungai hanya ada di beberapa tempat di dunia. Dan salah satu diantaranya terdapat di Muara Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau yang biasa di sebut dengan Ombak Bono Sungai Kampar.



Bagi dunia peselancar (surfer) maupun wisatawan dari luar, Bono Kampar adalah sebuah penemuan yang mengagumkan bahkan para selencar dunia mengungkapkan luar biasa untuk "Bono Kampar", seperti diungkapkan oleh Chris Mauro dalam tulisannya yang  dimuat GrindTV.com :  “A dreamlike wave found in an Indonesian river is stunning surf world (sebuah gelombang impian yang ditemukan di salah satu sungai di Indonesia memukau dunia selancar),” . Tulisan Mauro itu sendiri lantas merujuk pada apa yang ia sebut ‘penemuan luar biasa’ oleh tim (ekspedisi) Rip Curl baru-baru ini, yang menurutnya “mungkin tak tertandingi” (may be unrivaled).
Bono merupakan tempat idaman bagi peselancar manapun, bahkan Rekor Dunia berselancar terlama ada di Bono. Guinness World Records telah mencatat rekor berselancar terlama di ombak sungai (Longest surfing ride on a river bore) yang dilakukan oleh James Cotton secara perorangan sejauh 17.2 km di Ombak Bono Sungai Kampar, Riau - Indonesia pada tanggal 10 Maret 2016, selain itu James Cotton dari Australia juga memecahkan rekor berselancar terlama dan terpanjang secara tim bersama  Roger Gamble dan Zig van Sluys, ketiganya memecahkan rekor dunia dengan total jarak selancar 37,2 kilometer dalam waktu 1 Jam 5menit.
Perlahan tapi pasti nama Bono Sungai Kampar sudah dikenal wisatawan bahkan Anugrah Pesona Indonesia (API) 2016  Gelombang Bono tersebut masuk nominasi  kategori Tempat Berselancar Terpopuler (Most Popular Surfing Spot).


FESTIVAL PACU JALUR
Kabupaten Kuantan Singingi sangat kaya akan keragaman adat dan budaya,salah satu diantaranya adalah Pacu jalur.  Pacu berarti lomba adu cepat, sedangkan jalur berarti perahu besar yang dapat memuat40-50 orang anak pacu. Jalur dibuat dari sebatang pohon Bonio atau kulim kuyian dengan panjang 30 meter atau lebih dengan diameter 2meter.

Untuk membuat Pacu banyak ritual yang mesti dilalui, kayu yang diambil dihutan diawali dengan upacara persembahan dan semah yang dipimpin oleh pawang,kayu tersebut dianggap memiliki penghuni,upacara ini dilakukan agar proses penebangan kayu dapat berjalan lancar. Kemudian pohon ditebang sesuai dengan panjang jalur yang akan dibuat,setelah pohon ditebang lalu diseret bersama-sama ke Desa dengan menggunakan tenaga manusia, nuansa gotong royong dan kebersamaan masih kental dalam proses pembuatan jalur.



Pacu jalur awalnya dilaksanakan untuk memperingati hari besar agama Islam seperti Maulid nabi, Idul Fitri, Tahun Baru Islam 1 Muharam. Tetapi Ketika Penjajah Belanda memasuki daerah Riau diawal tahun 1900 mereka memanfaatkan Pacu jalur sebagai peringatan Ulang Tahun Ratu Wilhelmina  yang jatuh pada setiap tanggal 31 Agustus. Namun sejak Indonesia merdeka Pacu jalur menjadi Agenda untuk memperingat Hari kemerdekaan, kini Pacu jalur diadakan setiap Bulan Agustus atau dipercepat sebelum Agustus jika pada Saat Bulan Agustus bertepatan dengan Bulan Ramadhan.

Kini Pacu jalur menjadi pesta masyarakat Kuantan Singingi dan masyarakat Riau pada umumnya yang telah menjadi kalender  Pariwisata Nasional. Pacu Jalur ini diadakan di Tepian batang Narosa Sungai Kuantan Taluk Kuantan, event Pacu Jalur tidak hanya diikuti oleh Jalur dariKecamatan yang ada di Kabupaten Kunatan Singingi saja tapi juga diikuti oleh Jalur dari Kabupaten lain di Provinsi Riau dan juga diikuti Jalur Provinsi tetangga dan juga negara lain.




MENIKMATI MATAHARI TERBIT DI PULAU RUPAT

Belum lengkap jika tidak menikmati matahari terbit di pulau ini.
Indahnya Pantai Rupat Utara Pasir Putih Sepanjang 17 Kilometer. Siapa bilang Provinsi Riau tak memiliki wisata pantai.
Coba datangi Pulau Rupat di Kabupaten Bengkalis.

Kawasan pulau dengan luas kurang lebih 1.500 Km persegi  tersimpan destinasi wisata bahari yang asri dan menawan.



Beting Aceh di Rupat Utara serta Pasir Putih yang panjang menjadi Destinasi Baru wisata , selain keindahannya tentunya letak geografis yang strategis yang berada di Perairan Selat Melaka menjadu saya tarik sendiri. Matahari terbit berlatar Selat Melaka . Keindahannya membuat perjuangan saya bangun lebih pagi hanya untuk menyaksikan Matahari terbit dan melihat nelayan pulang membawa hasil tangkapan ikan, perlahan semburat jingga semakin terlihat hantaman ombak Selat Melaka semakin syahdu suasana pagi hari dan akhirnya

Matahari kian meninggi. Pagi pun memunculkan imaji luar biasa Rupat Utara Bengkalis pulau eksotisme yang membawa saya ke dimensi baru berwisata di Riau.



FESTIVAL BAKAR TONGKANG SALAH SATU RITUAL BUDAYA TERSUKSES DIN INDNESIA


Copyright @ imamhartoyo @Flickr
Festival Bakar Tongkang merupakan Festival tahunan yang luar biasa, hebat, mampu menarik puluhan ribu wisatawan bahkan kunjungan wisatawan tiap tahunnya selalu meningkat demi menyaksikan sebuah ongkang yang dibakar.Ritual Bakar Tongkang salah satu contoh suksesnya ritual budaya dimiliki Indonesia dan memberikan dampak positif bagi Penyelenggara , nyaris ratusan ribu wisatawan hadir ke Kota Bagansiapiapi
Puncak acara Festival Bakar Tongkang sendiri ketika kapal dibakar, peserta begitu antusias untuk melihat arah tiang tongkang itu jatuh. Menurut kepercayaan warga Tionghoa Bagansiapiapi, arah jatuhnya tiang menunjukkan keselamatan dan peruntungan usaha.  Bakar tongkang menjadi tradisi unik yang melegenda bagi masyarakat Tionghoa di Bagansiapia, Tradisi ini melekat dengan sejarah awalnya masyarakat Tionghoa yang tinggal di Riau bermigrasi dari Kampung Leluhur mereka menggunakan sebuah kapal yang disebut dengan Tongkang. Tahun 2017 silam Festival Bakar Tongkang di ganjar menjadi Atraksi Budaya Terppuler di Indonesia dalam Ajang Anugerah Pesona Indonesia, dan pada saat tahun 2017 silam Riau menjadi Juara Umum dengan memenangkan 7 kategori dari 15 Kategori yang ada.


PASAR BAWAH, OBJEK WISATA BELANJA TERPOPULER DI INDONESIA.


Tak lengkap jika berkunjung ke Pekanbaru jika tidak singgah atau berbelanja di Pasar Bawah Pekanbaru. Orang-orang dari luar Pekanbaru selalu menjadikan pasar bawah sebagai salah satu tempat yang harus dikunjungi jika mampir ke pekanbaru. Pasar Bawah Pekanbaru merupakan pasar yang tertua di kota Pekanbaru yang berada di persis di tepi sungai Siak dan Pelabuhan.


Pasar yang terletak di sebelah utara Pekanbaru ini merupakan pusat perbelanjaan yang banyak menyediakan barang-barang antik, pernak-pernik aksesori rumah tangga, baik dari dalam maupun luar negeri. Selain itu, pasar ini juga terkenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan barang elektronik bekas (second hand) yang berasal dari luar negeri. Dahulu, barang-barang bekas atau selundupan dari luar negeri belum diawasi ketat oleh pemerintah. Namun, seiring berjalannya waktu, berangsur-angsur pemerintah mulai memperketat peraturan. Barang-barang yang dulunya bisa masuk, sekarang tidak bisa bebas masuk lagi.  

Berbagai  barang eks luar negeri dengan kualitas impor yang dijual dengan harga "miring", seperti keramik dari Cina, karpet dari Timur Tengah, tas wanita dari Italia, dan aneka guci dan patung. Selain itu, di pasar ini terdapat beragam barang-barang elektronik dan berbagai jenis makanan kecil yang hampir semuanya merupakan produk luar negeri. Di pasar ini juga tersedia jenis makanan khas Riau seperti lempuk Durian, Dodol kedondong, ikan salai, Ikan Asin, selain itu juga tersedia kerajinan khas Riau seperti batik Riau , Kain Songket Riau, Baju Melayu Khas Riau dll.

Tahun 2017 dalam sebuah Ajang Anugerah Pesona Indonesia  Pasar Bawah mampu mengalahkan Pasar Beringharjo (Yogyakarta) dan Sentra kerajinan kulit tanggulangin Sidoarjo sebagai Objek Wisata Belanja Terpopuler di Indonesia.


KEMILAU ISTANA SIAK MENJADIKANNYA SITUS SEJARAH TERPOPULER
Bila anda ke Kabupaten Siak, anda akan terpesona melihat keindahan Istana Siak, Istana ini dibangun oleh Sultan Siak ke-11 yakni Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Istana ini dibangun saat Sultan Syarief Hasyim begitu sebutan singkatnya, baru mulai memimpin Kerajaan Siak pada 1889.

Menurut riwayatnya, Istana ini dirancang oleh arsitek asal Jerman. Kebetulan dulu sang Sultan memang kerap melawat ke Belanda dan Jerman. Sekarang pun, salah satu koleksi antik yang ada di istana ini adalah alat musik Komet buatan Jerman, yang memiliki piringan pemutar berdiameter 90 cm. Konon, di dunia ini Komet hanya diproduksi dua buah: yang satu masih di negara asal, yang satu lagi yang berada di Istana Siak.


Istana Siak berada Jalan Sultan Syarif Kasim, di tepian Sungai Siak, tak jauh dari Jembatan Siak, jembatan gantung sepanjang 1.203 meter, yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2007. Nama resmi jembatan ini adalah jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah.  Tahun 2017 lalu Istana Siak menjadi Pemenang Ke - 2 sebagai Objek Wisata Sejarah Terpopuler dalam Ajang Anugerah Pesona Indonesia.


Hal tersebut diatas merupakan sebagian dari Objek Wisata Andalan Riau, kini berbagai Infrastruktur di gesa untuk menunjang Sektor Wisata, Pengembangan pariwisata daerah sangat  membutuhkan 3A (atraksi, amenitas, akses) seperti digembor-gemborkan Kementrian Pariwisata selama ini agar kegiatan pariwisata itu dapat berjalan optimal.


Akses jalan di sebagian besar wilayah Riau masih belum baik ,masih banyak jalan yang mengalami rusak parah, bergelombang, berdebu, berlubang lubang besar sehingga laju kendaraan tidak optimal untuk dapat menuju Objek Wisata. Terlebih jika Objek Wisata tersebut membutuhkan perjalanan yang lama, tentunya ini sangat tidak efesin dan efektif , penumpan sudah merasakan  capek di perjalanan.

Amenitas di Pekanbaru sudah sangat baik, namun hal ini tidak diimbangi oleh Kabupaten dan Kota di Riau, terutama di daerah Pesisir yang memilki sumber air tidak bagus, dan bukan hal yang aneh jika kita ke Pesisir menyaksikan air di Hotel yang sangat tidak bersahabat dengan kondisi air yang bau, air yang berminyak. Hotel dan Wisma yang ada di kabupaten dan Kota di Luar Pekanbaru jumlahnya belum banyak, dan belum mampu menampung Wisatawan jika diadakan sebuah Event nasional atau event besar.

Atraksi. Atraksi hal penting untuk kemajuan wisata, Atraksi yang ada perlu dikembangkan, mungkin hal yang sepele dalam sebuah event , masih banyak kita menyaksikan tidak adanya keseragaman Kostum,dan Atraksi yang ditampil hanya melulu itu saja sehingga Wisatawan enggan untuk berkunjung dan akan berkata Dari Dulu Objek Wisatanya begitu saja tanpa ada perubahan.



(OPINI : HASRINALDI : Riau Travel Blogger Founder www.riaudailyphoto.com)