Tampilkan postingan dengan label KESUSASTERAAN MELAYU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESUSASTERAAN MELAYU. Tampilkan semua postingan

Helat Budaya Tepian Langit di Desa Rantau baru Kecamatan Pangkalan Kerinci
Desa Rantau Baru Kecamatan Pangkalan Kerinci yang biasa disebut dengan Melaka Kecil atau Rantau Baru Bawah, Rantau Baru adalah salah satu potret kampung khas Melayu yang masih relatif terjaga keasrian alamnya. Di sana terdapat sejumlah tasik seperti Danau Karang, Danau Sepunjung dan Danau Buntar yang alam semula jadinya masih cukup baik. Di Danau Sepunjung bahkan masih ada sekumpulan kayu sialang yang dihuni koloni lebah. Masyarakat sekitar masih kerap mengambil madunya. Pengunjung bisa merasakan pengalaman naik pompong menyusuri sungai dan tasik. Untuk menyusuri anak-anak sungai, bisa menggunakan sampan.

Di sepanjang sungai kita akan menemukan kehidupan khas negeri sungai seperti orang menjaring, membawa lukah dan lain sebagainya. Suasana sufi di Rantaubaru juga terwakili oleh adanya bangunan-bangunan suluk untuk mengaji dan lengkap dengan balai silat. Rantaubaru merupakan  gerbang lahir dan berkiprahnya ulama-ulama sufi terkemuka di kawasan Kampar Hilir, bahkan ada pameo yang melekat bagi masyarakat di pelalawan hingga saat ini  kalau mau jadi ulama menetaplah di Rantaubaru atau Melaka Kecil.


Desa Rantau Baru kecamatan pangkalan Kerinci yang merupakan perkampungan sufi, praktis selama 2 hari tanggal 3 dan 4 November 2012 menjadi pusat perhatian Seniman dan Budayawan Riau dan juga media massa baik itu media massa Lokal dan Nasional, dan ini juga tidak luput dari perhatian saya bersama teman-teman Blogger Bertuah Pekanbaru untuk berkunjung ke Desa Rantau Baru untuk menyaksikan pegelaran  Seni dan Budaya Melayu dengan tema “Helat Budaya di Tepian Langit, Ketika Laut Embun Bercerita”.

Akses menuju Desa Rantau Baru

Majalah SI KARI Majalah Humor dan Kartun Lokal Riau dengan slogan "Majalah Gelak Antar gelaksi" telah di soft launching pada tanggal 14 Maret 2012 di Rumah Seni dan Budaya Siku Keluang Jalan Dwikora Pekanbaru. SI KARI merupakan majalah aseli tempahan pekanbaru (produk lokal pekanbaru) karya dari SIndikat KArtunis RIau (Si Kari).  Mengusung Slogan "Majalah Gerak Antar Gelaksi", gelak sendiri berarti bunyi orang tertawa sedangkan gelaksi merupakan plesetan dari Galaksi. Slogan majalah SI KARI sebenarnya merupakan hiperbola dari harapan agar majalah ini suatu masa kelak dibaca se alam raya.


Bahasa yang digunakan dalam majalah SI KARI ini adalah bahasa tutur yang biasa kita dengar dalam pergaulan sehari-hari di Kota Pekanbaru, dimana Pekanbaru adalah Kota yang heterogen dihuni oleh warga dengan berbagai latar belakang suku yang mempunyai dialek yang berbeda beda seperti Melayu, ocu bangkinang, Minang, Jawa, Batak.  Majalah ini tidak hanya menyajikan Cerita Kartun dan Humor saja ,majalah SI KARI memiliki rubrik KARI PEDIA yang berisi kuliner Melayu dan Budaya Melayu dan juga memiliki Rubrik ZODIAKAKAKA dengan ramalan berdasarkan zodiak yang dipandu oleh Ahli Nujum yang memiliki jam praktek 24 jam kecuali jika tidak mood.



Dijamin bagi yang membaca Majalah SI KARI akan membuat tertawa terbahak-bahak, jika pun tidak terbahak-bahak segaris senyum pun jadilah. Majalah SI KARI terbit bulanan dengan harga Per eksemplar Rp. 15.000. Majalah SI KARI bisa didapatkan di Sekretariat SI KARI dengan alamat gedung Dewan Kesenian Riau (DKR) Kompleks Bandar Serai Raja Ali Haji (Purna MTQ) atau bisa menghubungi Marketing SI KARI dengan Donny Adam di nomor 081275465881.



Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya (Numera) di Padang, Sumatera Barat, INDONESIA, yang akan berlangsung pada 16-18 Maret 2012 murni kegiatan yang mengusung sastra dan budaya. Tidak ada unsur kepentingan lain di dalamnya, apalagi politik. Acara ini bersifat silaturahim sesama sastrawan dan terkhusus penulis-penulis muda yang diharapkan menjadi penerus tongkat estafet bangsa, mewarisi nilai-nilai budaya Melayu yang menjadi akar kebudayaan Indonesia, dan negeri-negeri serumpun Melayu lainnya.

  UNDANGAN :


Kepada
Yth. Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara (i)
Sastrawan Numera dan Penulis Muda
Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam,
Singapura, Thailand
 
di-
Tempat

Assalamualaikum Wr. Wb.

Kami doakan semoga Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara (i) dalam keadaan sehat walafiat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik.

Kami beritahukan bahwa Temu Sastrawan Numera (Nusantara Melayu Raya) untuk pertama kali akan dilaksanakan di Padang, Sumatera Barat, INDONESIA, pada 16-18 Maret 2012. TSN-1 ini bertema “Sastra, Bahasa, dan Budaya Melayu”. Rangkaian kegiatan meliputi: Seminar Internasional, Silaturahim Sastrawan, Lomba Baca Puisi, Bazar dan Peluncuran Buku, Malam Baca Puisi bersama Sastrawan Numera, serta Wisata Sastra.

Sehubungan dengan itu, kami mengundang Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara (i) para Sastrawan dan penulis muda dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, untuk mengikuti kegiatan ini. Panitia menyediakan penginapan, makan-minum, sertifikat, transport lokal, serta cenderamata selama 2 hari (16-17 Maret). Mengingat keterbatasan dana, panitia tidak menyediakan biaya transportasi peserta undangan dari tempat asal ke lokasi tujuan (PP).

Demikian Undangan ini kami kirimkan, atas perhatian, kerjasama dan partisipasi Bapak/Ibu/Tuan/Puan/Saudara, kami ucapkan terima kasih.

Wassalam,

Padang, 20 Januari 2012
Panitia Temu Sastrawan Numera-1


Catatan:
 Informasi dan permintaan Undangan dapat diajukan ke email: numeraindonesia@yahoo.com atau via pesan (sms) ke nomor 0813 7444 2075.

UNDANGAN TERBATAS!!!

***

SEKILAS│AGENDA TSN 1

TEMA


“Sastra, Bahasa dan Budaya Melayu”
LOMBA BACA PUISI PADANG
Lomba ini digelar pada tanggal 14 Maret 2012, lebih awal sebelum kedatangan rombongan sastrawan Numera, bertempat di Taman Budaya Padang*). Diikuti 50 siswa tingkat SLTA se Kota Padang. Peserta Lomba Baca Puisi akan membacakan puisi-puisi karya pemenang Lomba Cipta Puisi Padang 2011 yang diselenggarakan oleh Alumni Don Bosco (IADB) Padang akhir 2011 lalu. Koordinator lomba baca puisi Romi Zarman. Tiga pemenang mendapat kesempatan membaca puisi bersama Sastrawan Numera.
SEMINAR INTERNASIONAL
Seminar Internasional “Sastra, Bahasa dan Budaya Melayu” diikuti oleh seluruh peserta TSN 1 yang terdiri dari para sastrawan-sastrawan Indonesia-Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Singapura, Thailand, dll. Para sastrawan diundang secara terbuka untuk mengikuti acara ini. Selain sastrawan, pembicara juga terdiri dari Cendekiawan, Sejarahwan, Antropolog, yang ditunjuk mewakili masing-masing negara dipandu oleh moderator. Disamping para sastrawan, peserta seminar juga diundang guru-guru dari berbagai disiplin ilmu dengan jumlah maksimal 500 peserta. Penanggung jawab Acara Zusnelly Zubir, dan kepanitiaan dari Masyarakat Sejarahwan Indonesia (MSI) Sumbar.

SILATURAHIM SASTRAWAN
Silaturahim Sastrawan Numera bertujuan untuk mengkaji persoalan-persoalan terkait budaya dan sastra Melayu. Kegiatan ini khusus diikuti para sastrawan yang diundang dari negara-negara rumpun melayu. Kegiatan diskusi di Taman Budaya Sumatera Barat*). Diharapkan akan lahir berbagai pemikiran dan rekomendasi tentang persiapan kegiatan TSN di tahun-tahun yang akan datang. Boleh jadi Sumatera Barat menjadi tuan rumah kembali, tetapi tak tertutup kemungkinan juga daerah-daerah lainnya di Tanah Air ikut berpartisipasi menjadi Tuan Rumah. Tujuannya satu, agar semangat TSN dapat menyebar ke seluruh pelosok negeri.

BAZAR DAN LAUNCHING BUKU
Pada kesempatan ini juga akan diluncurkan Buku Puisi karya penyair-penyair muda Indonesia (150 puisi) yang lolos seleksi dan sebelumnya mereka mengikuti Lomba Cipta Puisi Padang 2011. Peluncuran ini bersamaan dengan acara Silaturahim Sastrawan yang bertempat di Taman Budaya Padang*). Pemenang lomba cipta puisi Padang yang sebelumnya diberangkatkan ke Malaysia dalam agenda Wisata Sastra juga diharapkan hadir dalam acara peluncuran ini. Selain itu, diadakan juga pameran buku karya para sastrawan dan penulis-penulis muda yang telah menerbitkan buku.

PERSEMBAHAN KARYA SASTRAWAN NUMERA
Persembahan karya Sastrawan Nusantara Melayu Raya berupa baca puisi, fragmen, dengan diselang selingi musikalisasi puisi dari Sumbar Talenta, Komunitas Sastra yang terpilih, komunitas teater yang terpilih, juga penampilan musik tradisi.

WISATA SASTRA
Seluruh peserta TSN yang diundang (selama 2 hari, 16-17 Maret) mendapat fasilitas akomodasi dan penginapan serta transportasi dari penginapan ke lokasi acara (transportasi dari daerah asal peserta (PP) ditanggung masing-masing peserta. Di penghujung acara peserta akan mengikuti agenda Wisata Sastra, di samping mengunjungi objek-objek wisata yang ada di Kota Padang.
PROGRAM│JADWAL KEGIATAN

JUMAT, 16 MARET 2012

Pukul 10.00 WIB – 18.00 WIB 
Peserta melakukan Registrasi dan Chek in ke penginapan.
   
Pukul 19.00 WIB – 22.00 WIB 
Welcome Dinner, jamuan makan malam di Palanta Rumah Dinas Walikota Padang. Dalam acara ini Walikota dan Ketua DPRD Padang menyampaikan Pidato Kebudayaan. Acara dibuka dengan tari Pasambahan, dibawakan anak-anak Talenta Sumbar.
Pukul 22.00 - ..Kembali ke penginapan.
SABTU, 18 MARET 2012-01-07

Pukul 8.00 WIB – 12.30 WIB 
Seminar Internasional. Tempat di auditorium Museum Adityawarman Padang. Pembicara: Sastrawan, Budayawan, Sejarahwan, Antropolog, Cendekiawan, yang ditunjuk mewakili negara-negara yang diundang. Beberapa panelis yang terpilih (akan ditetapkan dalam rapat). Peserta para sastrawan dan guru se Sumatera Barat.
Pukul 12.30 WIB – 13.30 WIB
 Istirahat, Shalat, Makan.
Pukul 14.00 WIB - 16.00 WIB 
Silaturahim Sastrawan Numera. Acara ini berbentuk diskusi sesama sastrawan, membicarakan berbagai persoalan terkait sastra Melayu dan perkembangannya. Perlu membicarakan juga masa depan sastra Melayu. Tempat di Taman Budaya Padang*).
Pukul 19.00 WIB – 24.00 WIB (Makan Malam di penginapan pukul 18.00) 
Malam baca Naskah Numera (puisi, cerpen, fragmen novel) karya sastrawan Indonesia-Malaysia dan sastrawan negara yang diundang lainnya. Pemenang Lomba Baca Puisi tingkat SLTA yang diadakan pada tanggal 14 Maret 2012, diundang khusus untuk ikut membaca puisi dalam kegiatan ini. Tempat di Ruang Teater Utama Taman Budaya Padang*).
MINGGU, 18 MARET 2012

Pukul 08.00 WIB – 12.00 WIB 
City tour Pantai Padang, Keripik Balado Mahkota/Christine Hakim, Jembatan Siti Nurbaya, Kota Tua, Teluk Bayur, Unand, Bypass. Wisata Sastra ke Rumah Puisi*).
Pukul 12.00 WIB -16.00 WIB (Acara bebas, penginapan bebas) 
Wisata belanja ke Kota Jam Gadang Bukittinggi. Peserta dipersilakan menikmati kuliner nasi Kapau di Pasar Atas Bukittinggi serta mengunjungi sejumlah objek wisata, seperti Taman Panorama dan Lobang Jepang.
Pukul 16.00 WIB – 18.00 WIB 
Kembali ke Padang. Peserta bermalam di penginapan (jika masih memerlukan penginapan, panitia dapat membantu menghubungkan dengan penginapan di Padang, namun biaya ditanggung oleh masing-masing peserta), dan keesokan harinya Chek Out dari penginapan untuk kembali ke daerah masing-masing.






PETUNJUK TEKNIS (JUKNIS) KEDATANGAN PESERTA
TEMU SASTRAWAN NUSANTARA MELAYU RAYA (TSN)
PADANG, 16-18 MARET 2012
Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya Raya (TSN) yang berlangsung di Padang, Sumatera Barat pada tanggal 16-18 Maret 2012, tinggal menghitung hari. Segala persiapan panitia untuk menyelenggarakan acara ini sudah hampir mendekati 100 persen kerja. Artinya, tinggal menerima kedatangan tamu dan menggelar sejumlah kegiatan-kegiatan yang direncanakan sebelumnya.
Sebagai PANDUAN PESERTA dalam mengikuti kegiatan ini, berikut kami sampaikan beberapa hal teknis terkait kedatangan dan kegiatan-kegiatan TSN:
A. KEDATANGAN
  1. Peserta TSN diharapkan sudah tiba di Padang pada tanggal 16 Maret 2012 dan melakukan registrasi ulang paling lambat pukul 17.00 WIB di Sekretariat Panitia.
  1. Penjemputan peserta TSN di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Padang dilakukan oleh panitia dari pukul 10.00 s/d 13.00 WIB.
  1. Kedatangan peserta di bandara lewat dari pukul 13.00 WIB, panitia mengarahkan agar peserta naik angkutan umum, yaitu taksi (dengan tarif ongkos l.k. Rp50-70 ribu,- atau Bus DAMRI dengan tarif ongkos Rp. 20.000/orang.
  1. Lokasi pendaftaran ulang peserta (Sekretariat Panitia) dipusatkan di Asrama Haji Parupuak Tabing, Padang.
  1. Khusus Peserta TSN dari Luar Negeri (Singapura, Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam) diinapkan di Hotel Bunda, Jalan Bundo Kanduang, Padang (pembagian kamar akan diatur oleh panitia)
  1. Peserta TSN dari dalam negeri (Indonesia) akan diinapkan di Wisma Asrama Haji Parupuak Tabing, Padang (pembagian kamar akan diatur oleh panitia).
  1. Khusus peserta yang berdomisili di dalam kota Padang, panitia tidak menyediakan penginapan. Penginapan diprioritaskan untuk peserta di luar kota Padang dan luar negeri. (keadaan ini dimohonkan kemakluman).
B. RUNDOWN KEGIATAN
JUMAT, 16 MARET 2012 (PEMBUKAAN TSN)
Pukul 18.30 WIB - 19.00 WIB
- Peserta menuju Palanta Rumah Dinas Walikota Padang
- Peserta disambut dengan Tari Pasambahan
(Peserta dijemput oleh bus pengantar dari penginapan ke Palanta Rumah Dinas Walikota)
Pukul 19.40 WIB – 22.00 WIB
- Pembukaan TSN
- Pembacaan doa
- Sambutan Ketua Pelaksana
- Sambutan Ketua DPRD Kota Padang
- Welcome dinner
- Penyerahan cenderamata
- Hiburan
- Peserta kembali ke penginapan
SABTU, 17 MARET 2012
Pukul 08.00 WIB – 12.30 WIB
Seminar Internasional Budaya Nusantara Melayu
Tempat:
1. Aula Auditorium Museum Adityawarman
2. Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat
Pukul 12.30 WIB – 13.30 WIB
ISHOMA
Pukul 13.30 WIB – 17.00 WIB
Lanjutan Seminar dan Sesi Diskusi
Pukul 17.00 WIB – 19.00 WIB
ISHOMA
Pukul 19.00 WIB – 24.00 WIB
SILATURAHIM SASTRAWAN dengan agenda:
1. Peluncuran buku karya peserta TSN.
2. Malam baca puisi bersama sastrawan dan penyair muda.
3. Ramah Tamah.
Pukul 24.00 WIB – 00.00
Peserta kembali ke penginapan
MINGGU, 18 MARET 2012 (ACARA TAMBAHAN)
Pukul 08.00 WIB – 10.00
City tour kota Padang
Pukul 10.00 WIB – 13.00 WIB
Wisata Sastra ke Rumah Puisi Taufiq Ismail di Aie Angek, Tanah Datar.
Pukul 13.30 WIB – 16.00 WIB
Acara bebas.
Pukul 16.00 WIB – 18.00 WIB
Kembali ke Padang (selesai)
SAYONARA!
Keterangan:
1.   Fasilitas penginapan diberikan kepada peserta hanya untuk tanggal 16-17 Maret 2012.
2.   Bila pada tanggal 18 Maret 2012 malam peserta masih ingin menginap, biaya penginapan ditanggung oleh masing-masing peserta.
3.   Juknis ini bersifat TENTATIF, sewaktu-waktu dapat berubah sesuai situasi dan kondisi di lapangan.
Padang, 10 Maret 2012
Tertanda
PANITIA TSN
Catatan:
1.   Juknis ini dikirimkan ke alamat email masing-masing peserta serta diposting di blog panitia: www.numeraindonesia.blogspot.com yang ditujukan sebagai pedoman kedatangan peserta.
2.   Kegiatan-kegaiatan peserta di luar Juknis ini menjadi tanggung jawab masing-masing peserta.
CONTACT PERSON PANITIA:
Muhammad Subhan (0813 7444 2075)
Romi Zarman (0852 6396 1056)
Zusneli Zubir (0813 9224 0062)
Sastri Bakry (0877 9201 1258)

Di  Yogyakarta atau Kota lain di Jawa, Siswa SD begitu akrab dengan bahasa dan budaya Jawa, mereka sedari kecil sudah dididik untuk mengerti budaya Jawa, mereka sudah dididik untuk menggunakan bahasa jawa semenjak bayi. Di Bangku Sekolah mereka akan bertemu dengan Mata Pelajaran Bahasa Jawa. Tradisi ini terpelihara dengan sendirinya,sehingga  generasi muda mengerti dan tahu  warisan luhur nenek moyangnya.

Papan Nama RSUD Arifin Achmad yang menggunakan Tulisan Arab Melayu

Di Riau hal yang sama juga terjadi namun cara ini tidak berlangsung lama, dulunya di tahun 90an hingga awal 2000an Sekolah di Riau memiliki Mata Pelajaran Muatan Lokal Arab Melayu. Tulisan arab melayu menjadi program wajib kurikulum dasar muatan lokal yang meberikan arti dan makna bagi pelestarian budaya.  Mata Pelajaran Arab Melayu ini memiliki  makna sebagai interaksi dalam kehidupan masa lalu yang teraktualisasi pada pada cerita-cerita rakyat yang menggambarkan perilaku budaya yang ditampilkan dalam bentuk syair, hikayat, gurindam, pantun, petuah. 



Perkembangan kesusteraan Melayu ditandai dengan penggunaan Huruf Arab Melayu,masyarakat melayu merasa tulisan tersebut telah  menjadi milik dan identitasnya, awalnya tulisan ini disampaikan melalui media dakwah dalam penyeberan agama islam disemenanjung melayu.

Dulunya Huruf Arab melayu atau Jawi menjadi bahasa yang universal di nusantara, Surat-surat Raja-Raja Nusantara ditulis dalam huruf Arab melayu (Jawi),  Sebagian besar karya sastra nusantara seperti Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja-raja Pasai, dll ditulis dalam huruf Jawi, Cap atau stempel kerajaab pun ditulis dengan dalam huruf Jawi (Arab Melayu), mata uang di awal-awal penjajahan yang diterbitkan VOC pun dengan huruf Jawi. Kini tradisi tersebut telah hilang seiring waktu, Mata Pelajaran Muatan Lokal Arab Melayu di Riau hanya bertahan sebentar, generasi saat ini di Kota Pekanbaru dan Kota Lain di Riau maupun  Nusantara tidak akan mengenal dan mengerti dengan huruf Arab melayu.

Plang Nama Kantor Bupati pelalawan dengan Tulisan ARab Melayu

Kini dengan adanya Visi Riau 2020 yang  menjadikan Riau sebagai Pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara, sebagian besar masyarakat kembali  mengenal dan mengerti dengan tulisan arab melayu (jawi), Visi Riau 2020 mulai terlihat hampir sebagian besar nama-nama jalan di Riau dan kabupaten/kota ditulis dengan huruf arab Melayu.



PUAK MELAYU DI INDONESIA kini hanya dipandang sebagai bagian kecil dalam konsep nusantara. Padahal, di masa jaya kerajaan Sriwijaya dengan wilayah takluk yang begitu luas, sebenarnya konsep ke-Melayuan itu sempat menaungi sebagian besar wilayah Indonesia di masa silam.

Namun, jejak-rekam keperkasaan Melayu (baca juga: Melayu Nusantara) kini berbekas dalam wujud wilayah geografis yang sempit dengan indikasi-indikasi masih adanya peninggalan adat-tradisi dan nilai-nilai budaya.

Menoleh ke latar belakang sejarah yang panjang, orang-orang Melayu Nusantara yang menghuni sebagian wilayah teritorial di Indonesia berasal dari ras Weddoide yang kini direpresentasikan melalui suku-suku asli yang ada di Riau, Palembang dan Jambi, seperti suku Sakai, Kubu dan Orang Hutan. Setelah itu, antara tahun 2500-1500 SM datanglah golongan pertama ras Melayu dari bangsa Proto-Melayu yang menyeberang dari benua Asia

ke Semenanjung Tanah Melayu terus ke bagian Barat Nusantara termasuk Sumatera. Di Riau, keturunan Proto-Melayu ini dapat dijumpai melalui suku asli Talang Mamak dan Suku Laut.

Gelombang kedua kedatangan ras rumpun Melayu ini sekitar tahun 300 SM yang disebut Deutro-Melayu. Kedatangan bangsa Deutro-Melayu ini memaksa bangsa Proto Melayu menyingkir sehingga ada yang menyingkir ke pedalaman dan ada pula yang berbaur dengan pendatang. Bangsa Deutro Melayu inilah yang menjadi cikal-bakal rumpun Melayu yang ada di sebagian wilayah nusantara.

Sementara Prof. S. Husin Ali, Guru Besar dari Universiti Malaya menngatakan bahwa pendatang pertama di Semenanjung diperkirakan berasal dari kelompok Mesolitik dan Neolitik (sering disebut Proto-Melayu) yang berasal dari daerah Hoabinh di Indocina. Perpindahan ke arah selatan itu dimulai kira-kira 3000-5000 tahun yang lalu dan kebudayaan mereka sering disebut kebudayaan Hoabinhiano. Kelompok orang-orang ini terdiri dari orang-orang bertubuh kecil dan kuat, berkulit hitam dan berambut lebat. Mereka menyebar ke arah selatan Semenanjung dan beberapa di antara mereka menyeberang ke Pulau Sumatera, sedangkan lainnya terus ke Selatan sampai ke Kepulauan Melanesia di Lautan Pasifik.

Antara abad VII-XIII pada masa jaya kerajaan Sriwijaya yang pada mulanya berpusat di Muaratakus (Kampar, Riau) kemudian berpindah ke Palembang (Sumsel), wilayah kekuasaannya menyebar di seluruh Sumatera, Selat Melaka dan Semenajung Tanah Melayu. Di ujung kekuasaan Sriwijaya yang kian melemah, salah seorang Dinasti Syailendra bernama Sang Sapurba meninggalkan kerajaan Sriwijaya untuk melakukan perjalanan sambil membangun pengaruh di kerajaan-kerajaan yang sudah ada. Sang Sapurba sampai di Kerajaan Tanjungpura (Kalimantan), Bintan (Riau Kepulauan), Kuantan (Riau Daratan) dan membina hubungan baik dengan mengawinkan putra-putranya dengan putri kerajaan yang dikunjunginya. Selanjutnya, Sang Sapurba mulai membangun Dinasti Melayu melalui kerajaan-kerajaan yang ada seperti Kerajaan Bintan, Tumasik (Singapura), Melaka, Kandis, Kuantan, Gasib, Rokan, Segati, Pekantua dan Kampar.

Di Kerajaan Bintan, seorang anak Sang Sapurba yang bernama Sang Nila Utama dikawinkan dengan putri Kerajaan Bintan yang kemudian dinobatkan menjadi raja. Sang Nila Utama pula yang membangun kerajaan Tumasik. Kerajaan Tumasik dengan raja terakhir, Prameswara saat diserang Kerajaan Majapahit, selanjutnya mendirikan Kerajaan Melaka.

Kerajaan Melaka akhirnya ditaklukkan Portugis. Muncullah kemudian Kemaharajaan Melayu dibawah kepemimpinan Sultan Mahmud Syah I yang berkedudukan di Bintan kembali merebut bekas-bekas taklukan Kerajaan Melaka.

Bentangan sejarah masa silam itu, memberikan gambaran bagaimana perkembangan puak Melayu di kawasan Nusantara yang dominan berada di kawasan Semenanjung Tanah Melayu dan pesisir Timur Sumatera. Di masa jaya Kerajaan Melaka, seorang Panglima Angkatan Lautnya yang sangat termasyhur, Laksemana Hang Tuah mengikrarkan semboyan yang sangat memuja kejayaan bangsa Melayu. Ikrar Hang Tuah itu berbunyi:
Esa hilang dua terbilang
Tak Melayu hilang di bumi
Tuah sakti hamba negeri

Perkembangan puak Melayu setelah masa jaya kerajaan-kerajaan Melayu senantiasa memberikan peluang bagi kaum pendatang untuk berasimilasi. Di abad ke-18, lima orang putera Upu Tenderi Burang Relaka dari Luwe mengembara di Kepulauan Riau. Kelima orang itu adalah Daeng Perani, Daeng Menambun, Daeng Marewa, Daeng Celak dan Daeng Kemasi yang bergabung dengan para putera Sultan Abdul Jalil Riayat Syah II menggulingkan Raja Kecil yang memerintah Kemaharajaan Melayu di Bintan. Inilah awal mulanya para pendatang Bugis secara turun-temurun ikut memerintah atau menjadi pembesar kerajaan Bintan.

Proses migrasi dari para pendatang yang ada di sekitar kawasan Melayu Riau baik di masa bermunculannya kerajaan-kerajaan Melayu maupun setelah masa kemerdekaan, makin terbuka bagi para pendatang. Proses perbauran atau asimilasi tak terhindarkan sebagai proses alamiah terbentuknya puak Melayu Baru. Proses yang sama berlangsung pula di kawasan Melayu terutama di Sumatera dan Kalimantan seperti Palembang, Deli (Medan), Jambi, dan Pontianak. Puak Melayu Baru inilah yang membentuk pluralitas (kemajemukan) Melayu sehingga orisinalitas Melayu sangat sulit ditemukan sejak dulu.

Bila pemahaman ‘putra daerah’ Melayu dimaksudkan asal-usul orang Melayu yang pertama mendiami bumi Nusantara ini, tentulah dari ras Weddoide, Proto-Melayu dan Deutro Melayu yang kini tersisa sebagai suku-suku asli. Tapi pada generasi Melayu Baru, amat sulit mencari orisinalitas Melayu karena pengaruh perbancuhan ras dan suku yang datang silih-berganti di kawasan-kawasan bersempadan (perbatasan).

Bila daerah Melayu-Riau dijadikan studi kasus perbancuhan orang tempatan (penduduk yang menetap lebih awal di suatu kawasan) dengan orang-orang pendatang, maka sebenarnya orang-orang Melayu Riau tersebar dan dipengaruhi sekurang-kurangnya 5 sub-kultur dari hasil asimilasi budaya tersebut.

Kelima sub-kultur yang berbancuh dengan kultur Melayu itu adalah: Pengaruh Bugis dengan wilayah sebaran di Riau Kepulauan dan Indragiri Hilir, Pengaruh Minangkabau (wilayah Kampar dan Taluk Kuantan, Kuantan-Singingi), Pengaruh Banjar (wilayah Indragiri Hilir), Pengaruh Mandahiling (wilayah Pasir Pangarayan, Rokan Hulu), Pengaruh Arab (wilayah Siak Sriindrapura, Pelalawan, Indragiri Hulu).

Dalam wacana ‘putra daerah’ di era Otoda, pluralitas Melayu dapat dijadikan pertimbangan untuk melakukan redefinisi yang lebih fleksibel. Pengakuan politis dan sosiologis bagi seseorang untuk disebut sebagai orang Melayu dapat dipertimbangkan pola Malaysia yang mempertegas definisi orang Melayu di dalam konstitusi yang menetapkan seorang Melayu dicirikan dengan penganut agama Islam, berbicara dalam bahasa Melayu dan mematuhi adat-istiadat Melayu.


Bagi Melayu Riau, definisi orang Melayu versi konstitusi Malaysia ini menjadi dilema tersendiri karena adanya pluralitas Melayu yang dikebat oleh jalinan sejarah yang panjang. Bila persyaratan ‘berbicara dalam bahasa Melayu’ dijadikan kasus, pertanyaan yang muncul adalah bahasa Melayu di daerah pengaruh kultur apa? Sebab, orang-orang Melayu di Kampar dan Taluk Kuantan misalnya, sehari-hari ternyata menggunakan bahasa ibu yang dialek dan langgamnya mirip bahasa Minangkabau. Begitu pula, orang Pluralitas Melayu dalam Bentangan SejarahMelayu yang ada di Tembilahan justru sehari-hari dominan berbahasa Banjar dan Bugis. Bisa jadi, orang Melayu di Riau Kepulauan dan Siak Sri Indrapura yang justru berbahasa Melayu yang juga digunakan dalam bahasa pergaulan sehari-hari di negara tetangga, Malaysia dan Brunei Darussalam, yang kelak dijadikan sebagai cikal-bakal bahasa Indonesia.

Dilema lain berkaitan dengan penggunaan adat-istiadat atau nilai budaya Melayu yang juga cukup majemuk. Tradisi yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Melayu di daerah sebaran dan pengaruh 5 sub-kultur yang ada ternyata sangat berbeda. Sebutlah tradisi nikah-kawin, kelahiran anak, pemberian gelar adat atau pengangkatan pemuka adat ternyata sangat bervariasi di masing-masing daerah di 5 sub-kultur tadi.


Barangkali jadi menarik pernyataan Prof. Tan Sri Ismail Hussein, budayawan Malaysia yang terkenal dengan konsepnya ‘memperbesar bilik-bilik kebudayaan Melayu’. Dalam pandangannya, rumpun Melayu Nusantara harus dipandang sebagai kesatuan budaya Melayu makro. Dalam kaitan ini, orang Minangkabau, Jawa, Sunda, Bugis, Bali di Indonesia dapat dipandang sebagai rumpun Melayu dalam arti yang luas.

Pandangan Tan Sri Ismail Hussein ini bisa terinspirasi atas pluralitas Melayu Baru di Malaysia yang kini sangat berbancuh dengan para pendatang dari kelompok pribumi termasuk pendatang-pendatang dari Indonesia yang mengalir deras sejalan dengan pertarungan nasib dalam mencari kerja. Di dalam sensus penduduk Malaysia, ada kecenderungan para pendatang Indonesia dari berbagai variasi suku dan ras yang ada dipandang sebagai orang-orang Melayu. Apalagi sebagian di antara mereka juga sudah terbiasa berbahasa Melayu atau logat dan dialek Melayu baik akibat pergaulan sehari-hari atau proses nikah-kawin dengan orang-orang tempatan.

Kesulitan dalam membuat pengakuan sebagai orang Melayu ini, pernah dilansir Prof. S. Husin Ali, seorang Guru Besar pada Universiti Malaya dalam bukunya, Rakyat Melayu: Nasib dan Masa Depannya. Prof. Husin Ali memberi tamsilan, sebuah pertanyaan dapat diajukan, dapatkah seorang Cina Melaka (baba) yang berbicara dalam bahasa Melayu, menyanyikan lagu-lagu Melayu (dondang sayang), mengenakan sehelai sarung di rumah, makan dengan tangan (tanpa sendok atau sumpit), serta duduk bersila di atas lantai dan menikahkan anaknya menurut adat Melayu, dianggap sebagai orang Melayu?

Selanjutnya, Husein Ali menambahkan, dan bagaimana dengan seorang perwira Melayu yang memperistri seorang gadis berkebangsaan Inggris, di rumah berbicara dalam bahasa Inggris, makan di atas meja dengan menggunakan sendok dan garpu, minum bir, mengenakan piyama waktu tidur dan mengawinkan anaknya menurut cara Barat dan mengadakan resepsi di Hilton? Bukankah ini bertentangan dengan Baba Melaka tadi? Tak seorang pun meragukan bahwa ia seorang Melayu atau mempersoalkan asal-usulnya jika pada masa pensiunnya ia menjadi seorang politisi yang memperjuangkan hak-hak Melayu, tetapi memanfaatkan posisinya yang penting itu untuk memperoleh surat izin untuk dirinya sendiri atau untuk ditunjuk sebagai dewan pengurus dari suatu perusahaan asing dan pada akhirnya diangkat sebagai seorang Datuk atau Tan Sri. Semuanya itu bisa dicapai, meskipun dengan pergaulan dan cara hidup non-Melayu.

Prof. Husin Ali juga mempertanyakan bagaimana dengan imigran yang berasal dari berbagai daerah di persada Nusantara Melayu ini yang karena latar belakang sejarah dan sosial budaya menjadi orang Melayu? Minangkabau, Aceh, Bugis, Banjar dan sebagainya. Kebanyakan dari mereka tinggal di negeri ini (Malaysia) semenjak kecil tetapi juga terdapat pendatang-pendatang baru. Banyak di antara mereka yang hanya menggunakan dialek bahasanya sendiri dan bukan bahasa Melayu. Dengan kata lain, persyaratan bahasa tidak mereka penuhi. Apakah dengan ipsio facto ini mereka bukan orang Melayu dan karenanya tidak berhak atas hak istimewa yang diperuntukkan bagi orang Melayu? Kelompok mereka dapat dianggap sebagai bagian dari rumpun besar Melayu Indonesia. Jika kita berbicara mengenai kebudayaan, mereka harus dianggap sebagai orang Melayu. Tetapi ini menurut definisi sosial-budaya dan bukan menurut definisi hukum yang sah. Dalam konstitusi (Malaysia) tidak ada pengakuan bahwa bahasa Jawa, Minangkabau dan Aceh masih berhubungan dengan bahasa Melayu.

Barangkali, konsep pluralitas Melayu menjadi penting untuk memperkecil penyempitan wawasan kebangsaan menurut ras atau suku secara mikro yang selalu ditumpangkan atas nama ‘putra daerah’. Bisa jadi, arogansi ras yang pernah diagung-agungkan Hitler dengan bangsa Aria di masa lalu justru makin memecah belah rasa kesatuan dan persatuan antar bangsa-bangsa dunia. Lebih-lebih lagi, tak ada sebenarnya dominasi suatu ras atas ras lain karena sesungguhnya semua bangsa-bangsa dunia pada mulanya adalah satu: we are the world.

Oleh :
Fakhrunnas MA Jabbar

Dalam masyarakat Melayu Indragiri Hulu, salah satu prosesi adat pernikahan adalah membacakan Surat Kapal atau bisa juga disebut dengan Syair Cendrawasih atau Cerita Kapal. Syair Cenderawasih merupakan syair yang khusus dibacakan ketika keturunan bangsawan menikah, baik sesama keturunan bangsawan (Raja) maupun salah satu diantaranya berdarah biru. Sedangkan Surat Kapal atau Cerita  Kapal khusus dibacakan dan dilantunkan bagi orang kebanyakan (masyarakat umum).

Surat Kapal menceritakan siapa calon pengantin, dimana pertemuannya, apa aktivitasnya, siapa keluarganya dan keturunannya dan melalui syair Surat Kapal ini calon pengantin diminta belajar banyak bagaimana filosofis perjalanan kapal. Seperti bagaimana melawan ombak perkawinan, riak-riak kecil perjalanan rumah tangga dan sebagainya.

Berikut contoh Surat Kapal di salah pesta pernikahan di Kecamatan Peranap, Indragiri Hulu :


1. Dengan bismillah saya mulakan
Assalamualaikum saya ucapkan
Tiada lain untuk tujuan
Surat kapal saya bacakan

2. Rumpun bambu di tepi perigi
Tumbuh rebung menjadi buluh
Ampun hamba tegak berdiri
Wujudnya hamba duduk bersimpuh

3. Pujian syukur kita panjatkan
Ke hadirat Allah pencipta alam
Melimpahkan rahmat siang dan malam
Kepada umat penghuni alam

4. Selawat dan salam beriring pula
Nabi Muhammad pemimpin kita
Salat lima waktu janganlah lupa
Salat disebut tiang agama

5. Dengan bismillah permulaan kalam
Kertas dan dawat berwarna hitam
Cerita dibuat siang dan malam
Menyampaikan hajat seorang insane

6. Kami kisahkan seorang pemuda
Duduk termenung berhati hiba
Niat di hati mencari intan permata
Di rawah kononnya ada

7. Duduk di teras di atas kursi
Ambil gitar bawa bernyanyi
Lagunya merdu bernada tinggi
Lagunya bernama si jali-jali

8. Encik Masbah seorang pemuda
Pergi berjalan kendaraan honda
Astrea grand ataupun supra
Cari hiburan senang hatinya

9. Amaliah terpandang pula
Kecik dan mungil pula manis wajahnya
Masbah tercantul hati dia
Ingin berkenalan malu pula

10. Besok harinya diulang lagi
Terus-terang saja tak sabar lagi
Malam tadi ku tidur bermimpi
Gadis kuidamkan di pelukan ini

11. Teringat semalam tidur bermimpi
Gadis yang tampak berjumpa lagi
Inikah jodoh Tuhan takdiri
Siang terbayang malam bermimpi
Dalam adat melayu lazimnya di acara persandingan atau resepsi pernikahan ,iringan dari Pihak Laki-laki berjalan kaki menuju Rumah pihak wanita sembari diiringi alunan suara kompang dan alat musik melayu, kemudian dilanjutkan dengan Perang Beras Kuning anatara Iringan Wanita dan Iringan Laki-Laki, setelah itu lazimnya diadakan petarungan seni beladiri pencak silat. Setelah pencak silat dilakukan iringan Pihak Laki-laki menuju Pintu Rumah pihak pengantin Perempuan , setibanya dimuka pintu rumah pengantin laki-laki belum dibenarkan untuk memasuki ruang rumah. Terjadilah pantun berbalas diantara kedua belah pihak.



Pihak Laki-Laki      : 

” Assalamualaikum, wahai Tuan Rumah bolehkah kami masuk ”


Pihak Perempuan    :  

” Waalaikumsalam Wr. Wb, 
Wahai orang yang berada ditanah. Masuk tu boleh saja, tetapi sebelumnya kami mau tahu apa maksud dan tujuan. Kalaulah datangnya baik tentu kami sambut baik kalau datangnya membawa petaka elok tuan balik segera.


Pihak Laki-Laki    : 
  
Cik Puan ini kura-kura dalam perahu
Pura-pura tidak tau. 
Sudah gaharu cendana pula 
Sudah tahu bertanya pula
  
        Buah pauh selasih sayang
        Angin menyapa  ditengah sunyi
        Dari jauh kami datang
        Ingin berjumpa idaman hati
Anak gagak tepi perigi 
Jatuh berlutut berdarah kaki 
Kalaulah tidak karena hati 
Rasa tak patut kami kemari


Pihak Perempuan     : 

Oooh........begitu, 
Nampaknya besar sungguh hajat dibawa 
Tapi, apakah kami boleh percaya dengan kata-kata tuan 
Maklum ........ sebelum terkena elok waspada

Tikar pandan tikar anyaman 
Tikar ada sejak berjaman 
Kalaulah benar ucapan tuan 
Apa taruhan sebagai jaminan


Pihak Laki-Laki    :  

Jika begitu yang Puan tanya 
Kedatangan kami nampaknya masih diragukan
Begini sajalah.
Perahu berlayar ke Tanjung Tuan 
Angin bertiup kearah Selatan 
Apa taruhan yang Puan inginkan 
Cobalah sebut jangan lah segan


Pihak Perempuan     : 

Pasang lilin dalam perahu 
Perahu sakat melanda pantai 
Sengaja dihalang pengantin baru 
Karena syarat adatnya belum selesai


Pihak Laki-Laki     :  

Indung-indung si anak kandung
Hujan reda cuaca pun terang 
Kami datang semuanya bingung 
Mengapa dipintu kami dihalang

Kagum melihat kain terhalang 
Beginikah adat resam melayu 
Hajat baik kami yang datang 
Mengapa pula diempang pintu


Pihak Perempuan     :  

  
Empang pintu resam melayu 
Kain panjang dipegang erat 
Begitulah adat jaman dahulu 
Pintu diempang menurut adat
Ambil sapu dibalik dinding 
Jangan tunduk jangan menyuruk 
Tapi kita sudah berunding 
Adakah dibawa penawar sejuk


Pihak Laki-Laki    :  

Orang melayu masak ketupat 
Berisi pulut bercampur santan 
Tapi kan kita sudah sepakat 
Kami nak masuk mengapa ditahan  
            
Jika tuan ketanjung balai 
Kami dendang senandung Asahan 
Syarat dan rukun sudahpun selesai 
Pengantin nak masuk masih ditahan

( utusan laki-laki sedikit mengomel )
        
Ketasik sudah........ke Penang sudah........ ke kedah pun sudah 
Hanya kemersing yang belum 
Merisik sudah – meminang sudah – menikah pun sudah 
Hanya bersanding saja yang belum 
Jadi mau apa juga lagi.


Pihak Perempuan     : 
  
Bersabarlah dulu tuan 
Impal larangan tegak berdiri 
Lengkap pula dengan senjata 
Jika nak masuk sediakan kunci 
Barulah pintu dapat dibuka

Pihak Laki-Laki    :
   
Menurut adat dan suku sakat 
Datuk Nenek pernah berpesan 
Kalaulah pintu dijaga ketat 
Syarat pembuka tolong tunjukkan


Pihak Perempuan     : 
  
Negeri Malaka porak poranda 
Sejak Hang jebat jadi durhaka 
Kalaulah pintu hendak dibuka 
Pakai kunci emas, bukan suasa

Pihak Laki-Laki     :
   
Pisang emas masak setandan 
Mari letakkan diatas meja 
Ini kunci emas kami berikan 
Bukalah pintu dengan segera.


Pihak Perempuan     : 

Tunggu dulu tuan,
kami hendak melihat 
Apakah asli atau tiruan 
Karena syarat telah terpenuhi 
Dipersilahkan Raja sehari 
Menjumpai permaisuri
Pengantin Laki-laki dibawa oleh Mak Andam duduk dipelamin, kedua mempelai setelah duduk dipelamin dipersilahkan mengambil tempat dimuka pelaminan bersama sanak keluarga melaksanakan makan nasi damai. 
Upacara bersanding diakhiri dengan upacara menyembah, yang dilakukan oleh kedua mempelai terhadap pihak keluarga dari mempelai laki-laki.


Di buton banyak orang bertani
Orang bergajah Dua beranak
Pantun Pembuka pitu selesai disini
Kapal berlayarpun sudahlah jejak

Asalnya sembilu dari buluh
Jika dianyam jadikan tampian
Kami menyusun jarinya sepuluh
Salah dan silaf mohonlah dimaafkan

Menulis syairnya dan pantun dengan bismillah
Memohon keampunan kesilapan dan salah
Mudah-mudahan kita memperoleh keredhoannya Allah
Karena syairnya dan pantun mempunyai masalah
Pinggannya jorong mangkukpun jorong 
Pinggan sabun berisikan minyak 
Terdapat kejanggalan dan kata-kata terdorong 
Mohonlah kiranya agar dimaafkan banyak-banyak

Kita ini senantiasa sangatlah bimbang
Dilalaikan dengan hutangnya piutang
Malaikat maut hampirkan dating
Entahkan pagi atau petang

    Buahnya cempedak dan buah nangka
    Bemban lebat ditepinya lembah
    Kita tidak menduganya dan menyangka
    Dengan tiba-tiba kita dipanggil oleh Allah

Janganlah lupa kita memujinya Tuhan
Supaya rahmatNya dating kasihan
Marilah kita ingat kepada Tuhan
Nafsunya syaitan hendaklah ditahan
  
    Tebanglah tebu panjang pandak
    Tebunya dibawa pergi ke Malaka
    Tuntutlah ilmu biarlah banyak
    Buatnya perlindungan dari api neraka

Dua puluh lima Nabi Rasul pilihan
Namanya tersebut dalam Al-Qur’an
Martabatnya tinggi dilebihkan Tuhan
Marilah kita jadikan buat pedoman

    Muhammad Isa bermainkan sulfa
    Kelapa gading jatuhnya serentak
    Manusia tak luput daripada silaf
    Dan tak ada gading yang tak retak

Senantiasa badan kita tergoling
Tidak bergerak dan tidak berpaling
Adik dan Kakak duduk berkeliling
Ada yang menghadap ada yang berpaling

    Senantiasa badan kita terlentang
    Tidak bergerak sepertinya batang
    Sanak famili semuanya dating
    Ada yang menoleh ada yang memandang

Datangnya si’alim dari hulu
Mengajarkan kalimah bertalu-talu
Hendak menjawab lidah tak lalu
Bibirpun berat lidahpun kelu

  
    Sakitnya nyawa akan melayang
    Daripada badan awang dan dayang
    Mundam seperti mabuk kepayang
    Rupanya tinggal kasih dan sayang

Berhimpunlah kaum kerabat handai dan tolan
Memandikan jenazah serta dikapan
Kemudian sholat jenazah dilaksanakan
Dimasukkan dalam keranda daripada papan

    Sampai kelubang dibuka papan
    Diberikan bantal tanah disandarkan
    Dihantarkan mayat dengan ketetapan
    Lakunya seperti orang disimpan

Ditimbus    lubangnya tanah diberi
Dua buah pula nisannya berdiri
Talqin dibaca serta diajari
Bangkitlah mayat menatapnya diri

    Asam kandis dan asam gelugur
    Asam paya dan asam iyang-iyang
    Menangislah mayat didalam kubur
    Mengingat diri tidak sembahyang

Mungkaru nangkir datang segera
Merah padam warnanya muka
Takutnya itu tidak lagi terkira
Dihati nan tidak dapat berbicara

    Datangnya itu menanyai kamu
    Engkau ini siapakah Tuhanmu
    Jikalau salah sedikit jawabmu
    Kepala dipalu sekalian badanmu

Pertama pahala disebutkan dahulu
Kepada dosanya sangatlah malu
Kariman katabin marah terlalu
Diangkat cemarnya lalu dipalu

    Beribu-ribu itiknya Pak Daud
    Itiknya yang timpang lajunya berenang
    Setitik embun jatuhnya dilaut
    Tidak diduga menjadikan gelombang

Musangnya jebat meniti akar
Ayam hitam putih dadanya
Hujannya lebat gunung terbakar
Insyaallah setitik embun padamlah baranya

    Tidak salah bunganya lembayung
    Salahnya pandan yang menderita
    Tidaklah salah bunda mengandung
    Hanya salah badan buruk pinta


Tinggi bukit gunung merembung
Gunung talang sandara alu
Putusnya benang dapat disambung
Putusnya arang bercerai lalu

    Membawa perahunya dari pecan
    Belajar mari membawa ikan patin
    Masa berlalunya tak berguna lagi dikesalkan
    Terimalah azabnya zahir dan bathin

Indang mengindang kepantai nani
Berdekatan pantai bujang kelana
Syair dan pantunnya hingga disini
Mudah-mudahan bermanfaat dan berdaya guna

    Terbilang Datuk laksamana Raja Dilaut
    Makamnya berada di bukit Batu
    Mohonlah diralat mana yang tak patut
    Agar menghasilkan maknanya yang bermutu

Pak Taufiq menjahitnya kopiah
Kopiah dijahitnya baldu yang utuh
Wabillahi taufiq Walhidayah
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Sumber : 
Mak Andam Pernikahan Di Sei Pakning Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis