Young Dolah atau yang nama aslinya adalah Abullah Bin Endong merupakan seniman berasal dari Bengkalis, cerita yang didapatinya bersal dari pengalaman pribadinya yang penuh khayalan, lelucon dan kekonyolan. Sosok Yong Dolah selalu pembual  yang suka bercerita, tapi yang diceritakan adalah kosong belaka. kisah-kisah yong dolah ini sudah jarang ditemui, karena kurang publikasi dari penerus ke penerus, sehingga cerita - cerita Yong Dolah ini hilang satu - persatu.

Dalam ia bercerita Young Dolah sangat pandai berekspresi dan sangat hiperbola sehingga yang mendengar ceritanya bisa membuat kita tertawa terbahak-bahak dengan cerita yang dibawakannya. Yong Dolah bercerita tidak mengenal batas waktu bahkan tidak menggunakan bahan literatur  atau referansi, sehingga ceritanya mengalir begitu saja seperti air tanpa putus, yang pastinya lucu sesuai dengan kepiawaian beliau.



Legenda Bengkalis ini seakan hilang begitu saja padahal beliau sangat berarti bagi orang Bengkalis, kisah - kisah beliau yang lucu hilang begitu saja, ini di akibatkan kurangnya publikasi dari generasi - kegenerasi sehingga nama beliau tidak harum sebagai budayawan dan sekaligus seniman Bengkali.


Beberapa Kisah Yong Dolah
  • Yong Dolah sang Abu Nawas Melayu
  • Yong Dolah Naik Haji
  • Perjalanan yong Dolah ke Negri Ngotjoleria
  • Yong Dolah - Memanjat Patung Liberty 
  • Yong Dolah - Jadi Kapten Kapal Pesiar 
  • Yong Dolah - Orang Riau Ikut Perang Teluk  
  • Linggis dan Tangga Yong Dollah
  • Umpan Daun Yong Dolah
  •  Yong Dolah Dan Piala Dunia
  • Yong Dolah Jadi Kapten Kapal Pesiar
Masih banyak lagi kiasah - kisah sang lagenda Yong Dolah ini, tetapi sayangnya sudah ditemukan lagi, sayang sekali apa bila kisah - kisah Yong Dolah ini hilang begitu saja, dan masih banyak tokoh - tokoh seperti beliau yaitu lebai malang , pak pandir dan lain - lain.

Sumber : Dari berbagai Sumber
Raja Ali Haji adalah keturunan Bugis dan Melayu. Lahir di Selangor pada 1808, ia wafat di Pulau Penyengat, Riau, pada 1873. Ia terkenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa, buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia. Raja Ali Haji juga menulis Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk. Karya lainnya adalah sejarah Melayu yang berjudul Tuhfat al-Nafis, serta ketatanegaraan dan hukum berjudul Mukaddimah fi Intizam. Berkat kehebatannya dalam berkarya, dia dijadikan sebagai penasihat kerajaan.

Kemampuannya dalam berkarya itu tak lepas dari pengaruh ayahnya, Raja Haji Amad, yang juga seorang sastrawan. Saat mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai utusan Riau ke berbagai daerah dan negara, Raja Ali Haji menimba ilmu agama dan budaya. Ketika kembali ke Riau, ia pun menjelma menjadi ulama yang disegani. Atas jasa-jasanya, Raja Ali Haji dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 5 November 2004.


Gurindam I

Ini gurindam pasal yang pertama:
Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang yang ma'rifat
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah Ia dunia mudarat.

Gurindam II

Ini gurindam pasal yang kedua:
Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.

Gurindam III

Ini gurindam pasal yang ketiga:
Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadaiah damping.
Apabila terpelihara lidah,
niscaya dapat daripadanya paedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi'il yang tiada senunuh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjaian yang membawa rugi.

Gurindam IV

Ini gurindam pasal yang keempat:
Hail kerajaan di daiam tubuh,
jikalau lalim segala anggotapun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur2.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.

Gurindam V

Ini gurindam pasal yang kelima:
Jika hendak mengenai orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Gurindam VI

Ini gurindam pasal yang keenam:
Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh dimenyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,

Gurindam VII

Ini Gurindam pasal yang ketujuh:
Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah landa hampirkan duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
I'ika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.

Gurindam VIII

Ini gurindam pasal yang kedelapan:
Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar dan pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syarik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebalikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.

Gurindam IX

Ini gurindam pasal yang kesembilan:
Tahu pekerjaan tak baik,
tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.

Gurindam X

Ini gurindam pasal yang kesepuluh:
Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.

Gurindam XI

Ini gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hajat.
Hendak dimulai,
jangan melalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.

Gurindam XII

Ini gurindam pasal yang kedua belas:
Raja muafakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh anayat.
Kasihan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.



Jami Mosque is located in the Pasar Usang Desa Tanjung Cape Berulak Air Tiris, Kampar, about 52 km from Pekanbaru. This mosque was founded in 1901 on the initiative Engku Mudo Sangkal, a scholar who consolidate the potential ninik-mamak and cerdik-pandai from 20 villages in Air Tiris. The mosque was completed in 1904 which was inaugurated with great fanfare by the entire community with Air Tiris buffaloes were slaughtered 10.



Monumen Dirgantara atau Tugu Pesawat biasanya warga Pekanbaru menyebutnya. Tugu ini berdiri dengan gagah tepat berada di Titik 0 (nol) km Kota Pekanbaru. Tugu ini sangat erat kaitannya dengan Perjuangan Pekanbaru. Dulunya Pekanbaru (Riau) pernah menjadi basis dan pemusatan kekuatan Angkatan Udara RI ketika konfrontasi dengan Malaysia sekitar tahun 1950-an.


Pesawat yang ada di Tugu Pesawat Tempur,merupakan pesawat tempur asli jenis Sabre 86 J388. Pesawat ini  dibeli secara patungan oleh sejumlah pengusaha di Pekanbaru, termasuk salah seorang penyumbangnya adalah Saleh Abbas, pengusaha yang bermukim di Pasar Bawah yang namanya diabadikan menjadi sebuah nama jalan di Pasar bawah yaitu Jalan Saleh Abbas. Pesawat tempur Sabre 86 jenis J388 ini pernah digunakan untuk melawan Belanda saat masa kemerdekaan demikian Narasi yang beredar di Masyarakat, dulunya Saleh Abbas bersama Pengusaha dan Saudagar Pekabaru lainnya berniat untuk membeli pesawat , namun pembelian pesawat urung dilakukan.

Lantas Ini Pesawat apa ?

Avon Sabre 86 adalah pesawat tempur TNI-AU yang dihibahkan dari Australia dekade 70an dan resmi memperkuat TNI-AU pada tahun 1973 dan 1976. Tahun 1973 adalah pesawat bekas pakai RAAF (Australia sebanyak 18 unit) sedangkan yang datang tahun 1976 adalah pesawat bekas pakai TUDM (Tentara Udara Diraja Malaysia) yang sebelum dipakai oleh Malaysia juga dipakai oleh RAAF (Australia).

Pesawat ini "aslinya" dibuat oleh pabrik North America di USA dengan nama F-86 Sabre. Namun, karena lisensi ikut dibeli oleh perusahaan Avon asal Australia, maka dibuatlah nama "baru lahir" menjadi Avon Sabre 86. Pesawat ini kondang di Perang Korea tahun 1950an dengan sebutan "MiG Killer". Karena pesawat ini banyak sekali "membunuh" pesawat MiG-15 milik musuh.

Pesawat yang dipakai TNI-AU ini hibah dari Australia dan Malaysia secara bekas pakai sebanyak 23 unit (18 Australia, 5 Malaysia). Mendatangkan pesawat Avon Sabre 86 dilakukan melalui sebuah operasi yang bernama "Garuda Bangkit". Pesawat ini hadir untuk mengisi arsenal TNI-AU di Skadron Udara 14 Lanud Iswahjudi, Madiun

 

Kini keberadaan Tugu Pesawat sudah berpindah tempat, Tugu Pesawat sendiri dipindahkan persis di Depan Gedung Juang Pekanbaru, sedangkan di eks Lokasi Tugu Pesawat dibangun Tugu Zapin. Tugu Tari Zapin ini terbuat dari Perak, patung dari perak ini dibuat oleh pematung kelas dunia dari Bali I Nyoman Nuarta. Tugu Zapin  ini berharga 4,5Milyar. Tugu Zapin ini menggambarkan ciri khas daerah Riau dengan menampilkan Tarian Zapin sebagai simbol Melayunya. Tugu atau patung ini berbentuk sepasang pemuda-pemudi yang sedang menarikan Tarian Zapin.



Berikut- daftar SMP negeri yang ada di Kota Pekanbaru Provinsi Riau :
  1. SMPN 1 PEKANBARU
    Jl. Sultan Syarif Qasim 157
  2. SMPN 2 PEKANBARU
    Jl.Prof.M.Yamin SH No.65
  3. SMPN 3 PEKANBARU
    Jl. Dahlia No. 102  
  4. SMPN 4 PEKANBARU
    Jl. Dr. Sutomo 110 
  5.  SMPN 5 PEKANBARU
    Jl. Sultan Syarif Kasim Negeri
  6. SMPN 6 PEKANBARU
    Jl. Paus Rumbai 
  7.  SMPN 7 PEKANBARU
    Jl. Lokomotif No. 28 
  8.  SMPN 8 PEKANBARU
    Jl.Adi Sucipto No.115 
  9.  SMPN 9 PEKANBARU
    Jl.Imam Munandar 
  10.  SMPN 10 PEKANBARU
    Jl. Dr. Sutomo No.108 
  11. SMPN 11 PEKANBARU
    Jl.Bambu Kuning No.28 
  12.  SMPN 12 PEKANBARU
    Jl. Guru Haji Sulaiman No.37 
  13. SMPN 13 PEKANBARU
    Jl. Ronggowarsito I No. 15 
  14. SMPN 14 PEKANBARU
    Jl. Hang Tuah No.43 
  15.  SMPN 15 PEKANBARU
    Jl. Lembah Sari Rumbai Pesisir 
  16. SMPN 16 PEKANBARU
    Jl. Cempaka Negeri 17 
  17. SMPN 17 PEKANBARU
    Jl. Pembangunan No.57 B 
  18.  SMPN 18 PEKANBARU
    Jl. Lili Gg. Lili I No. 95 
  19.  SMPN 19 PEKANBARU
    Jl. Yos Sudarso KM 18 Rumbai 
  20. SMPN 20 PEKANBARU
    Jl. Abadi Km. 7.5 Arengka
  21. SMPN 21 PEKANBARU
    Jl. Arengka No. 539 
  22. SMPN 22 PEKANBARU
    Jl. Sidodadi No. 32
  23.  SMPN 23 PEKANBARU
    Jl.Garuda Sakti KM.3 Simp.Baru Panam 
  24. SMPN 24 PEKANBARU
    Jl. Sri Amanah Palas Rumbai 
  25.  SMPN 25 PEKANBARU
    Jl. Kartama Negeri 26 10403915
  26.  SMPN 26 PEKAN BARU
    Jl. Hang Tuah Gg.Kenanga 
  27. SMPN 27 PEKANBARU
    Jl. Nelayan No. 221
  28.  SMPN 28 PEKANBARU
    Jl. Utama Negeri 29
  29.  SMPN 29 PEKANBARU
    Jl.Tegal Sari Negeri
  30.  SMPN 30 PEKANBARU
    Jl. Kelly Raya Perumnas Rumbai 
  31.  SMPN 31 PEKANBARU
    Jl. Bencah Besung
  32. SMPN 32 PEKANBARU
    JL. Balam No.18
  33.  SMPN 33 PEKANBARU
    JL. Kartama
  34. SMPN 34 PEKANBARU
    Jl. Kartama
  35. SMPN 35 PEKANBARU
    Jl. Tengku Bey Negeri
  36. SMPN 36 PEKANBARU
    Jl. Repelita I


Kantor Bupati Kabupaten Kampar ini berada di Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Kampar disekitar Kantor Bupati ini juga terdapat beberapa Kantor Dinas, Kantor DPRD Kabupaten Kampar dan juga Gedung Olahraga.
Balai Adat Kabupaten Kampar ini berada di jalan Ring Road Kota Bangkinang, dan tidak jauh dari Kompleks Perkantoran Pemerintah Daerah Kabupaten Kampar.
Balai Bupati Kabupaten Kampar ini berfungsi sebagai Rumah Dinas Jabatan Bupati Kabupaten Kampar. Balai Bupati ini berada di Jalan. Prof. M. Yamin Kota Bangkinang





Taman Kota Prof. M. Yamim Bangkinang berada di Pusat Kota Bangkinang, taman ini berada di Jalan Lintas yang menghubungkan Kota Bangkinang dengan Pekanbaru. Taman ini persis berada di jalan Prof. M. Yamin tepatnya berada di sebelah Balai Bupati Kampar.


Istana Raja Gunung Sahilan
Bekas istana Kerajaan Gunung Sahilan (1700-1941) masih berdiri di kawasan Kampung Gunung Sahilan, Kecamatan Gunung Sahilan (Kampar Kiri) Kabupaten Kampar. Sebuah bangunan renta yang tampak uzur dimakan usia, bahkan nyaris rubuh karena tidak adanya perhatian sama sekali. Melihat kondisinya yang sangat dan sangat memprihatinkan itu, niscaya beberapa tahun ke depan situs sejarah paling bernilai tersebut akan punah-ranah. 
Istana Raja Gunung Sahilan
Istana Kerajaan Gunung Sahilan dari Pekanbaru Ibukota Provinsi Riau berjarak lebih kurang 70km atau dapat ditempuh lebih kurang 1jam perjalanan darat. Dulunya jalan akses menuju Istana,kita harus melewati jalur sungai melewati Sungai Kampar melalui rakit,pompong atau sampan. Kini Telah berdiri dengan kokoh sebuah jembatan. Tidak jauh dari jembatan tersebut kita dapat menjumpai sebuah Istana Tua yang sudah tidak terawat yaitu Istana Kerajaan Gunung Sahilan, Istana ini tepat berada di Jalan Istana.
Istana Raja Gunung Sahilan (Tampak dari Samping)
Istana ini persis berada di depan Alun-alun Ninik mamak masyarakat Gunung Sahilan.  Didalam istana ini terdapat beberapa benda peninggalan Kerajaan Gunung Sahilan, diantaranya  meriam kecil atau lelo (sebutan masyarakat tempatan), kendi, gong hitam, tombak, pedang, payung kerajaan, yang apabila dibuka diyakini masyarakat sekitar maka daerah gunung sahilan akan turun hujan, sebuah guci yang pada musim kemarau terisi penuh, tapi ketika musim hujan gucinya kosong, kata masyarakat setempat yang menyakininya., tempat tidur beserta kasur dan beberapa photo lama yang terpajang didalam istana.
Istana Raja Gunung Sahilan (Tampak Samping)
Pada mulanya, Gunung Sahilan bernama Gunung Ibul. Letak perkampungannya, berjarak satu kilometer dari kampung sekarang ini. Di kawasan Gunung Ibul itu, masih terdapat beberapa bekas situs sejarah yang juga tidak terawat dan nyaris hilang sejak perkebunan kelapa sawit menjamur di sepanjang Sungai Kampar. Di masa Gunung Ibul, atau Kerajaan Gunung Sahilan Jilid I, masyarakat masih beragama Budha, dibuktikan dengan bekas-bekas kandang babi dan tapak-tapak benteng. Beberapa keturunan raja terakhir, Tengku Yang Dipertuan (TYD) atau lebih sering disebut Tengku Sulung (1930-1941) seperti Tengku Rahmad Ali dan Utama Warman, kerajaan Gunung Sahilan Jilid I diawali dengan Kerajaan Gunung Ibul yang merupakan kerajaan kecil. Menurut penuturan nenek moyang dan orang tua mereka, Kerajaan Gunung Ibul ada setelah runtuhnya kerajaan Sriwijaya. Pembesar-pembesar istana berpencar satu persatu dan mulai mendirikan kerajaan-kerajaan kecil, salah satunya di kawasan Gunung Ibul. “Cerita soal Kerajaan Gunung Ibul memang tidak memiliki bukti kuat seperti kerajaan Gunung Sahilan sekarang. Sebab kami mendapatkannya dari cerita secara turun-temurun tapi kami percaya karena memang bukti-buktinya masih ada,” ungkap Tengku Rahmad Ali yang rumahnya berada tidak jauh dari istana. 
Bagian Belakang Istana Raja Gunung Sahilan
Menurut Tengku Rahmad Ali, Utama Warman dan Tengku Arifin bin Tengku Sulung kisah awal kerajaan Gunung Sahilan karena terjadinya keributan antar orang sekampung. Tidak jelas sebab musabab terjadinya keributan itu, yang pasti keributan mereda setelah tetua adat dan para khalifah bersepakat untuk mencari seseorang untuk di-raja-kan di Gunung Sahilan. Pilihan mereka jatuh kepada Kerajaan Pagaruyung yang saat itu dalam masa keemasannya. Sebelum kerajaan jilid II terbentuk, masyarakatnya sudah heterogen atau gabungan dari beberapa pendatang, baik dari Johor Baharu (Malaysia) dan orang-orang sekitar negeri seperti Riau Pesisir, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi dan sebagainya. Penduduk asli kampung bersuku Domo, sedang enam suku lainnya merupakan pendatang yang beranak-pinak di sana. Meski harus diakui, masih banyak versi lain mengenai sejarah kerajaan tersebut dengan perbedaan-perbedaan yang tidak terlalu jauh. “Seperti kami dari suku Melayu Darat dan Melayu Kepala Koto adalah pendatang dari Johor, begitu juga suku lainnya, kecuali Domo. Ditambahkan Tengku Arifin, mengapa pilihan jatuh ke Pagaruyung karena saat itu, kerajaan itu terlihat cukup menerapkan sistem pemerintahan yang demokrasi. Karenanya, diutuslah tetua atau bangsawan Gunung Sahilan untuk meminta anak raja untuk di-raja-kan di Gunung Sahilan. Anak raja pertama dan kedua meninggal saat disembah seluruh masyarakat. Keadaan negeri menjadi tidak menentu dan diutuslah seorang lagi untuk datang ke kerajaan mapan itu guna mencari siapa yang pantas di-raja-kan di negeri Gunung Sahilan. “Saat itu, utusan negeri mendapatkan kabar dan melihat langsung bahwa anak raja yang bisa di-raja-kan di sini yang berkulit hitam dan kurang molek rupanya. Setelah mendapat izin, anak itu dibawa ke Gunung Sahilan dan di-raja-kan. Karena masih kecil anak itu tidak datang sendiri tetapi membawa pembesar istana lainnya ke negeri ini. Saat itu pula mulailah disusun, peraturan pemerintahan, termasuk adat-istiadat raja-raja jadilah sekarang garis keturunan di negeri ini berdasarkan ibu atau matrilineal,” tutur Tengku Arifin panjang lebar. Sejak saat itu, raja-raja yang diangkat bukan anak kandung raja melainkan keponakannya. Berturut-turut raja yang pernah didaulat di Kerajaan Gunung Sahilan antara lain Raja I (1700-1740) Tengku Yang Dipertuan (TYD) Bujang Sati, Raja II (1740-1780) TYD Elok, Raja III (1780-1810) TYD Muda, Raja IV (1810-1850) TYD Hitam. Khusus raja keempat tidak didaulat seperti raja sebelumnya sebab TYD Hitam bukan anak kemenakan raja Muda, melainkan anak kandungnya. Namun TYD Hitam sebagai pengemban amanah memimpin selama kurang lebih 40 tahun. Raja V (1850-1880) TYD Abdul Jalil, Raja VI (1880-1905) TYD Daulat, Raja VII (1905-1930) Tengku Abdurrahman dan Raja VIII atau terakhir TYD Sulung atau Tengku Sulung (1930-1941). “Kerajaan ini tidak pernah berperang dengan Belanda dan kami tidak merasakan bagaimana kejamnya akibat penjajahan itu. Pihak kerajaan dan Belanda bahkan membuat kesepakatan untuk tidak saling mengganggu. Hanya saja, di masa pendudukan Jepang kerajaan ini dibekukan dan diganti dengan distrik,” kata mantan guru tersebut.

Komplek Makam Raja Raja Gunung Sahilan

Tidak jauh dari Istana dapat kita jumpai Makam-Makam Raja Gunung Sahilan, namun ada yang sangat menarik perhatian diantara sekian banyak makam tersebut terdapat Makam yang di nisan bertuliskan tahun 1357, apakah tahun yang dimaksud Tahun Hijriah atau Tahun Masehi, kemudian juga terdapat Makam yang bernisankan batu alam. 
Salah Satu makam Tua di Kompleks Makam Raja Raja Gunung Sahilan, di Nisan Makam bertulsikan tahun 1357
Salah Satu Nisan Makam Raja Gunung Sahilan yang bernisankan Batu Alam



Tugu ini bernama Tugu Kijang, Tugu ini akan dibangun di kecamatan Bandar Seikijang. Pada dahulunya di Bandar Seikijang, terdapat sebuah sungai dan di Sungai tersebut banyak ditemukan Kijang. Saat ini Kijang sudah langka di Bandar Seikijang ataupun di Pelalawan.
Rendering Stadion Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan. Menurut Sumber Gambar , Dinas Cipta Karya Kabupaten Pelalawan Stadion ini akan di Bangun di Kota Pangkalan Kerinci dan Direncanakan akan dibangun di tahun 2012.


Keterampilan ragam hias bordir sudah sejak lama dikenal di Indonesia, diperkirakan sudah ada sekitar abad 18M . Kerajinan Bordir ini dikenalkan oleh pedagang China dan India.  Kerajinan Bordir di Riau sudah ada pada masa kerajaan dulu, saat itu anak_anak dara mengerjakan kerajinan bordir. Di Provinsi Riau bordir Melayu pertama kali diperkenalkan tahun 1990  oleh seorang pengrajin yaitu Ibu Martini Sucipto . Ibu Martini Sucipto mengembangkan bordir dengan motif melayu dengan menggunakan ragam hias motif pucuk rebung, siku keluang dan lain lain.


Skills decorative embroidery has long been known in Indonesia, estimated to already have around the 18m century. Embroidery Craft introduced by traders from China and India. Crafts Embroidery in Riau have existed in the kingdom first, then anak_anak virgin embroidery work on handicrafts. In the province of Riau Malay embroidery was first introduced in 1990 by a craftsman that is Mrs. Martini Sucipto. Mrs. Martini Sucipto develop embroidered with motifs wilt by using decorative motif pucuk rebung, siku keluang and others.
Salah satu rumah tua berasitektur melayu di Pinggiran Kota pekanbaru, tepatnya di Jalan Perdagangan Kelurahan Kampung Bandar Kecamatan Senapelan. Rumah ini tepat berada di bawah Jembatan Sungai Siak III.


Rumah Tua dengan Arsitektur melayu yang khas ini merupakan milik saudagar dan toke Getah H. Nurdin Putih dan rumah ini dibangun pada tahun. Fatimah binti Nurdin Putih, salah seorang anak perempuan beliau  menikah dengan Zakaria bin H Abdul Muthalib, seorang pemuda dari Labuhan Bilik Panai, Sumatera Timur. Selanjutnya rumah ini diserahkan kepada mereka dan     H. Nurdin Putih pindah kerumah yang baru.Semasa pemerintahan Sultan Syarif Qasim II , H. Zakaria bin H. Abdul Muthalib dipercaya sebagai Ketua Kerapatan Syariah Kerajaan Siak Sri Indrapura bergelar Qadhi, berkedudukan di ibukota Kerajaan Siak dan bertugas mendamping Sultan Siak sebagai “tolan masyarakat terakah pusaka hukum Allah” seperti yang tertuang dalam Bab al Qawa'id (Kitab Segala Pegangan) sebuah pranata hukum Kerajaan Siak Sri lndrapura, sehingga Rumah ini dikenal dengan Sebutan Rumah Tuan Kadi Zakaria.

Keberadaan Rumah ini tidak terlepas dari sejarah panjang perkembangan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Dalam perkembangannya wilayah Senapelan (Pekanbaru) pernah menjadi Ibukota Kerajaan Siak Sri Indrapura. Hal ini terjadi padamasa Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah sekitar tahun 1775. Dengan berbagai pertimbangan seperti ekonomi dan politik yang berkembang di wilayah Riau pada saat itu beliau memindahkan pusat Kerajaan Siak dari Mempura ke Senapelan.  Rumah ini rumah ini merupakan menjadi tempat persinggahan SUltan apabila beliau berkunjung Senapelan (Pekanbaru) hingga akhirnya Rumah ini lebih dikenal dengan Sebutan Rumah Singgah Sultan.
 


BANGUNAN DARI TAMPAK SAMPING DEPAN
RUMAH DARI TAMPAK SAMPING

SALAH SATU MOTIF DAN CORAK MELAYU YANG TERDAPAT DIBANGUNAN



Bangunan ini terdapat sekitar 20 m dari pinggir Sungai Siak(tepatnya di bawah Jembatan Siak 3 sekarang). Secara umum bangunan berbahan jenis kayu, kecuali bagian tangga (pada sisi timur bangunan) yang terbuat dari bata berspesi. Bangunan ini merupakan rumah adat tradisional melayu yang masih tersisa di Kota Pekanbaru. Bangunan berupa rumah panggung yang berdasarkan keterangan H. Syahril Rais dibangun pada tahun 1895, sedangkan bagian tangga berdasarkan inskripsi yang terdapat pada tiang dibangun pada 23 Juli 1928.

Rumah ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatra Barat dengan Nomor Register : 05/BCB-TB/B/01/2014



MOTIF DAN CORAK TENUN MELAYU RIAU
 MOTIF PUCUK REBUNG
MOTIF PUCUK REBUNG
MOTIF PUCUK REBUNG KUNTUM DEWA

PUCUK REBUNG KUNTUM DEWA