Tampilkan postingan dengan label SENI PERTUNJUKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SENI PERTUNJUKAN. Tampilkan semua postingan

Gondang borogong atau gendang bergong merupakan salah satu kesenian masyarakat Kabupaten Rokan Hulu, alat musik ini terdiri dari gendang, gong, dan celempong, sehingga juga disebut sebagai gondang celempong (gendang calempong). Kesenian ini biasa dimainkan untuk mengiringi silat gelanggang dan silat pengantin. Kesenian tradisional ini menghasilkan irama musik tradisional

Kesenian musik Gondang Barogong terdiri dari beberapa alat musik, yaitu 6 celempong, 2 gondang, dan 1 gong. Dua gendang yang digunakan adalah gondang polalu (gendang pelagu) dan gondang poningkah (gendang peningkah). Kedua gondang tersebut memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Hanya saja, keduanya menghasilkan nada yang berbeda, yaitu gondang poningkah yang dapat memberikan nada lebih rendah. Tinggi rendahnya nada tersebut ditentukan oleh ketebalan dan jenis kulit yang dipakai pada gendang. Selain itu, peregangan kulit pada gendang juga menjadi salah satu penentu tinggi rendahnya nada yang dihasilkan. Gendang dimainkan menggunakan satu pemukul yang terbuat dari rotan sogo atau rotan saga. Sementara sisi lain dari gendang, dipukul menggunakan jari atau telapak tangan. Biasanya sisi yang dipukul dengan rotan adalah muka gendang di sebelah kanan.

Gaya memainkan gendang ada tujuh cara: gondang botindieh lutuik (gendang bertindih lutut, dengan ditindih kedua lutut), tindieh bosonang–sonang (tindih bersenang-senang, gendang ditimpa dengan lipatan lutut kiri dan kaki kanan atau dilipat berdiri), tindieh bosonang-sonang duo kaki (tindih bersenang-senang dua kaki, gendang ditimpa dengan kedua lipatan lutut), bokapik (diapit, gendang diapit dengan kaki), bopangku (berpangku, gendang dipangku di atas paha), bolabak ateh tanah (diletak di atas tanah, pemukul gendang duduk mencangkung), bodiri (berdiri, gendang dipukul sambil berdiri, tali gendang disangkutkan dipinggang atau digantung di kuduk)

Fungsi dan makna musik tradisional gondang borogong adalah untuk menyambut tamu kebesaran serta adat lainnya sedangkan maknanya sebagai identitas budaya setempat dan juga sebagai simbol budaya bagi masyarakat Rokan Hulu. Teknik dan bentuk komposisi musik tradisional gondang borogong tidak dituliskan dalam bentuk komposisi notasi balok maupun not angka. Komposisi gondang borogong ini dimainkan berdasarkan cara-cara tradisional, seperti diajarkan secara langsung dengan menghafal bunyi yang akan dimainkan

Keberadaan musik tradisional Gondang Borogong mulai tercipta pada Tahun 1937 yang dahulu namanya adalah Celempong. Sebelum mulai abad ke-14 orang memakai alat musik Gondang Barogong dengan menggunakan kayu yang diberi nama Gambang. Setelah peresmian Raja Rokan turun temurun dengan 9 Raja 2 Sultan, maka lambat laun habislah keturunan Raja. Oleh karena itu Rokan pada saat itu membutuhkan seorang pemimpin, maka diambilah keturunan Raja dari Pagaruyung Sumatera Barat yang bernama Tengku Ibrahim. Pada kesempatan itu pula Tengku Ibrahim diresmikan menjadi seorang Raja, dalam istilahnya Raja yang di Rajakan, karena sebelum itu beliau adalah keturunan Raja, maka disebutlah istilah seperti itu.

Acara Borolek Godang adalah acara besar untuk Raja Rokan yang baru, dan acara tersebut dilaksanakan selama 7 hari 7 malam. Dari peresmian tersebut maka diundanglah seluruh masyarakat Rokan untuk melihat Raja yang baru. Hari yang pertama adalah Olek dari persukuan 5 suku yang ada di Rokan dan dilakukan secara berganti-gantian tiap harinya, sesudah acara tersebut maka barulah dari Olek Raja, keluarga raja yang mengadakan Olek tersebut. Tetapi ada pula nama Olek raja itu sendiri yaitu yang dinamakan Olek Ninik Mamak. Pada kesempatan itu pula di adakanlah suatu pagelaran seni tradisional Rokan yang berupa Pencak Silat, Silat Pisau, Silat Pedang dan tari payung.

Setelah acara tersebut ditampilkan maka Raja juga ingin mendengarkan musik Gambang yang ada di Rokan, maka dipanggillah 2 Orang Pakar Seni pada masa itu untuk membunyikan Gambang, dan Raja pun menikmati pertunjukan seni Gambang tersebut. Dikarenakan belum puas, Raja berkeinginan untuk mengundang kesenian tradisional celempong yang di datangkan dari Sumatera Barat tepatnya di daerah Batu Sangkar. Tujuan dari Raja mengundang kesenian tradisional tersebut yaitu beliau berkeinginan agar pakar seni Rokan dan pakar seni Batu Sangkar saling mengenal alat musik tradisional satu sama lain. Adapun acara tersebut dilakukan selam 3 hari 3 malam lamanya.

Setelah acara tersebut berlangsung selama 3 hari 3 malam, maka dipanggillah pakar seni Gambang dan pakar seni Celempong ini oleh Raja. Pada kesempatan itu disusunlah Gambang kayu tadi oleh pakar Seni Celempong, tetapi mereka tidak dapat memainkannya karena bunyi Gambang tersebut mengambang. Lagu apapun yang akan dibuat tidak bisa mereka mainkan, karena hasil bunyi dari Gambang tersebut mengambang. Melihat kejadian itu maka disuruhlah pakar seni Gambang untuk menyusun Celempong dan menuruti letak Gambang yang telah mereka susun tadi. Kemudian di samakan dengan nada gambang, dipukul Gambang no 1, dipukul pula Celempong dengan menyesuaikan nada gambang no 1, di pukul pula Gambang yang no 2, dan disamakan lagi Celempong menurut nada gambang no 2. Begitu seterusnya sampai ke enam Gambang. Dari pengujian bunyi tersebut Celemponglah yang mengikuti nada dari Gambang. 

Pada Tahun 2022 Pemerintah Republik Indonesia telah  menetapkan Gondang Baronggong sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Bagaimana dengan Visual dati Gondang Baronggong ini ? Berikut kami tampilkan videonya :


Zapin atau Zafin adalah sejenis tarian yang pada dasarnya merupakan bentuk permainan yang menggunakan kaki yang semula hanya dimainkan oleh kelompok laki-laki saja, sekarang bisa ditarikan berpasangan. Dalam bahasa Arabnya Tari Zapin disebut dengan ?Al Raqh Wal Zafn? , yang berarti menari dengan menggunakan kaki. Masuknya Zapin di Asia Tenggara bermula dengan kedatangan pedagang-pedagang rempah yang juga sebagai pengembang Agama Islam. Tari Zapin Pecah Dua Belas telah ada sejak berdirinya kerajaan Pelalawan tahun 1811-1945 yang merupakan tari tradisi Kabupaten Pelalawan tepatnya di desa Pelalawan yang dibawa oleh pedagang atau pengembang ajaran Islam dari Johor.  

Dinamakan Tari Zapin Pecah Dua Belas dikarenakan ragam pertama dipecah menjadi ragam kedua atau berhubungan dengan ragam kedua. Ragam kedua dipecah menjadi ragam ketiga atau berhubungan dengan ragam ketiga, begitu seterusnya sampai dengan ragam ke dua belas yang ditutup dengan Tahtum atau Sembah. Tari Zapin Pecah Dua Belas biasanya ditampilkan pada acara keistanaan, acara peringatan agama Islam serta acara pernikahan yang diiringi gambus dan marwas.

 

Tari Zapin Pecah Dua Belas ditarikan dalam bentuk gerak yang pada umumnya banyak menggunakan gerakan kaki, sedangkan gerakan tangan kurang ditonjolkan. Posisi tangan kiri membentuk siku-siku dan dirapatkan di sisi dada sebelah kiri serta jari tangan digenggam sejajar dengan dada. Posisi tangan kanan bergerak sesuai dengan gerak kaki yang dilangkahkan. Tari ini ditarikan berpasangan dan maksimal 3 ( tiga ) pasang penari yang hanya menggunakan pola lantai sederhana dan tidak menggunakan properti. Pada ragamnya banyak menggunakan gerakan kaki sehingga gerakan tangan akan mengikuti badan karena tumpuannya hanya pada kaki. 

 

Instrumen musik yang digunakan adalah Gambus dan Marwas. Gambus yang dimainkan hanya satu buah, gambus mulai dimainkan dari awal pertunjukkan tari Zapin Pecah Dua Belas hingga akhir pertunjukkan tari tersebut. Gambus terbuat dari batang cempedak, bagian bawah diberi rongga dan ditutup dengan kulit kambing dan memiliki senar. Sedangkan Marwas yang dimainkan dalam mengiringi tari Zapin terdiri dari empat buah marwas, yang dimainkan oleh empat orang pemain. Marwas terbuat dari batang nangka atau batang kelapa serta dilengkapi dengan kulit kambing sebagai penutup kedua sisi yang berfungsi untuk dipukul. 


Pada Tahun 2020 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah  menetapkan 153 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan Tari Zapin Pecah Dua Belas menjadi salah satu dari Warisan BudayaTak Benda dengan Nomor Registrasi 202001118.

 

(sumber : https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailCatat=6991)

Tari Inai adalah sebuah tarian tradisional Melayu yang disajikan dalam rangkaian kegiatan adat Perkawinan Melayu di daerah Riau khususnya di Kabupaten Rokan Hilir. Tarian Inai ini umumnya hanya dilakukan di rumah mempelai wanita saja, sedangkan di rumah mempelai laki-laki tidak dilakukan kegiatan malam berinai, hanya saja inai akan diantarkan ke rumah mempelai laki-laki. Tetapi ada juga sebagian masyarakat melakukan kegiatan tari inai ini untuk menghibur anak laki-laki yang dikhitankan. Kegiatan tari inai ini dibagi menjadi dua macam yaitu Tari Inai Tunggal dan Tari Inai Pinggan 12:
 

   

 

 1. Tari Inai Tunggal yaitu tarian inai yang ditarikan satu orang penari saja, dimana penarinya juga memegang inai di dalam piring yang ditambah bunga atau lilin. Dan  tidak menari di atas pinggan yang bersusun dari 1-12. Pada zaman dahulu masyarakat lebih banyak melakukan kegiatan tari inai tunggal, sementara tari inai pinggan 12 hanya dilakukan sebagian masyarakat yang mempunyai persatuan saja, tetapi sekarang tari inai tunggal dan pinggan 12  sudah dilakukan bersamaan.

2.  Tari Inai Pinggan 12 yaitu penari inai menari di atas pinggan yang bersusun dari 1 sampai 12 menjulang ke atas dan di tangannya memegang inai di dalam piring dan ditambah dengan bunga atau lilin. Tarian inai ini dilakukan lebih dari satu orang.
Tari Inai merupakan bentuk seni pertunjukan yang mana gerakannya seperti gerakan silat yang berfungsi untuk menghibur raja sehari atau pengantin yang duduk di pelaminan dan mengibur masyarakat sekitar yang datang menyaksikan serta memperoleh keberkahan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.


Gerakan tari inai diawali dengan bersalaman dengan pengantin sebagai tanda penghormatan raja sehari atau pengantin untuk menandakan bahwa tari inai akan dimulai. Kemudian tiga langkah ke belakang dengan posisi jongkok yang artinya memohon izin kepada raja sehari atau pengantin untuk memulai tari inai. Setelah tiga langkah ke belakang penari dalam posisi jongkok berputar penuh ke arah kanan dan kiri, artinya memberi penghormatan dan memohon izin kepada masyarakat yang menyaksikan karena adab tarian ini tidak bisa membelakangi orang yang menyaksikan, karena orang yang meyaksikan tersebut ada orang tua-tua, karena itu diberikan gerakan seperti gerakan persembahan dengan arah berputar. Kemudian Penari maju tiga langkah ke samping kanan dalam keadaan jongkok sambil memainkan tangannya, kemudian tiga langkah ke samping kiri dan maju ke depan untuk mengambil inai. Kemudian penari kembali ke belakang untuk siap –siap mendaki pinggan yang sudah tersusun. 


Setelah itu penari mendaki pinggan yang tersusun sambil menari dengan menggunakan inai di atas pinggan menghadap raja sehari atau pengantin, kemudian turun dari pinggan dan meletakkan inai di tempat semula sambil menari dan melangkah tiga langkah ke belakang untuk menutup tarian inai dalam keadaan salam sembah sepuluh jari dan memutar badan ke arah kiri dan memutar balik ke arah kanan. Maknanya, ketika mendaki pinggan 12 apabila 12 pinggan yang dinaiki tidak runtuh, maka hubungan rumah tangga sang raja sehari akan baik-baik saja. 12 pinggan artinya 12 bulan. Penutup tiga langkah ke belakang bermaksud memberi hormat dan izin kepada raja sehari bahwa tari inai pinggan 12 selesai ditarikan. Lalu gerakan memutar badan bermaksud meminta izin dan mohon maaf kepada raja sehari dan masyarakat yang menonton jika dalam melakukan tarian ada tarian yang tidak sengaja membelakangi para orang tua.


Pada dasarnya gerakan tari inai tunggal dan pinggan 12 sama saja, yang membedakan hanya pada tari inai tunggal tidak menggunakan atau mendaki pinggan yang tersusun sebanyak 12 pinggan. Peralatan yang disediakan terlebih dahulu untuk mendukung proses berjalannya sebuah pertunjukan yaitu alat musik pengiring tarinya seperti biola, gendang, tetawak (gong).  Irama yang mengiringi tari inai ini adalah irama patam, mambang dan pelanduk.

1.     Patam artinya melambangkan ketegasan karena irama patam pergerakannya keras seperti pergerakan silat.

2.      Mambang, dalam bahasa Melayu adalah jin atau makhluk halus, pergerakan penari inai ini seperti orang yang tak sadarkan diri.

3.      Planduk arti dari bahasa Melayunya adalah kancil, dan irama musik yang dimainkan santai atau lemah lembut, begitu juga penarinya.

Urutan penampilan Tari Inai Pinggan Dua Belas:

Pertama, dalam keadaan jongkok penari mundur tiga langkah kebelakang sambil mengangkat tangan salam sepuluh jari, kemudian dengan posisi badan yang sama dengan mengangkat tangan salam sepuluh jari penari memutar badan kekiri  360 derajat dan memutar kembali kearah kiri.

Kedua, penari maju tiga langkah samping kanan dalam keadaan jongkok sambil menggerakan badan dan tangannya sesuai musik yang di mainkan, kemudian tiga langkah kesamping kiri dan maju kedepan untuk mengambil inai.

Ketiga,  Sebelum mengambil dan Memegang inai yang di atas paha, terlebih dahulu penari  mengangkat tangan separti salam jari sepuluh pernari memutar badan kearah kiri 360 derajat dan memutar kembali kearah kanan dalam pososisi jongkok. Kemudian penari kembali kebelakang untuk siap-siap mendaki pinggan yang sudah tersusun.

Keempat, penari mendaki pinggan yang tersusun sambil menari dengan menggunakan Inai diatas pinggan menghadap keraja sehari/pengantin, kemudian turun dari pinggan dan meletakan inai ditempat semula sambil menari dan melangkah tiga langkah kebelakang untuk menutup tarian inai dalam keadaan salam sembah sepuluh jari dan memutar badan 360 derajat kearah kiri dan memutar balik kearah kanan.

Dalam penampilan pertunjukan tari Inai ini, penari memakai busana melayu yaitu:

1.     Mengunakan baju teluk belanga atau cekak musang dan seluar/celana yang agak longgar untuk memudahkan gerakkan tari inai.

2.     Di bagian kepala penari memakai destar atau hiasan kepala seperti songkok, tanjak dan hiasan kepala lainnya untuk mengahalang peluh atau keringat yang menitis dan juga untuk mengikat bilamana rambut yang panjang.

3.     Kemudian memakai hiasan sampin untuk mengetahui identitas penari. 

Tari inai pinggan 12 masih dilestarikan di Kecamatan Pasir Limau Kapas, sedangkan di kecamatan sekitarnya hanya tari inai tunggal saja. Pada zaman dahulu Datuk atau orang tetua yang mempunyai  ilmu kebatinan, bisa menari di atas pinggan, bagaimanapun berat badan mereka pinggan tersebut tidak akan pecah. Hal tersebut sudah ada pada zaman dahulu dan menjadi tradisi, akan tetapi Datuk atau orang tetua tidak menurunkan ilmu kebatinan yang mereka punya. Untuk mengingat tradisi supaya tidak hilang seiring berkembangnya zaman, maka salah satu keturunan Datuk atau orang tetua zaman dahulu pada masa sekarang mengembangkan tari berdasarkan sejarah yang telah ada.

Pada Tahun 2020 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah  menetapkan 153 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan Tari Inai Pinggan Dua Belas menjadi salah satu dari Warisan BudayaTak Benda dengan Nomor Registrasi 202001111. 



 

Silat pangean merupakan seni bela diri yang lahir dan tumbuh di Kenegerian Pangean Kabupaten Kuantan Singingi. Silat ini diwariskan secara turun temurun oleh guru-guru besar silat pangean yang biasa dikenal dengan Induak Barompek. Di dalam sejarah lisan, silat Pangean diyakini bermula saat salah seorang penduduk dari negeri Rantau Kuantan yang bergelar Bagindo Rajo pergi berguru ke Datuk Betabuh di Lintau, Sumatera Barat. Kepergiannya bertujuan untuk mempelajari agama Islam dan juga silat sebagai seni untuk membela keyakinan agama. Di saat kepergiannya ke negeri Lintau, istri Bagindo Rajo, Gadi Ome, yang tetap tinggal di Pangean bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya, Gadi Ome didatangi roh Syekh Maulana Aliyang datang dari tanah suci Mekkah. Selain bertemu Syekh Ali, Gadi Ome juga bertemu istri Syekh Ali yang bernama Halimatusakdiah. Dari Halimatusakdiah, Gadi Ome belajar ilmu silat. Sehingga Bagindo Rajo dan Gadi Ome merupakan guru yang pertama kali mengajarkan silat Pangean. Oleh sebab itu silat Pangean terdapat dua sifat yang berbeda, yaitu kasar/keras dan lunak/lemah gemulai tapi mematikan.
 

Seiring perjalanannya, pasangan suami istri ini mulai menurunkan keahlian silat mereka. Pada awalnya, silat hanya diajarkan di kalangan keluarga. Gadi Ome menurunkan ilmu silat menurut suku yang ada padanya (matrilineal). Sedangkan Bagindo Rajo menurunkan ilmunya kepada kemenakan dari keturunan ibu. Datuk Untuik adalah orang yang pertama menjadi murid Bagindo Rajo. Datuk Untuik diangkat menjadi murid karena Bagindo Rajo memiliki hutang budi terhadap ayahnya, Tan Garang. Kala Bagindo Rajo menuntut ilmu ke Lintau, Tan Garang merupakan orang yang menjaga Gadi Ome di kampung halaman. Dari Datuk Untuik, ilmu silat kembali diturunkan ke Pendekar Malin, Maliputi, Pak Ngacak, dan Menti Kejan. Keempat murid pertama Datuk Untuik ini kemudian diangkat menjadi Induak Barompek, gelar tertinggi yang dipakai dalam persilatan ini sampai sekarang. Mereka merupakan kelompok guru yang bertugas untuk menjaga kemurnian dan menurunkan ilmu silat Pangean.  

 

Secara umum silat pangean dikelompokkan dengan beberapa bagian yaitu: 1. Silek Tangan (silat tangan kosong),2. Silek Podang (silat dengan menggunakan senjata pedang),3. Silek Parisai (silatyang menggunakan senjata pedang dan perisai). Silat Pangean dikenal dengan gerakan yang lembut dan gemulai namun menyimpan kekuatan yang mematikan. Hal ini merupakan ciri dari gerakan silat pangean yang tidak hanya diandalkan pada teknik gerakan, namun lebih disertai oleh suatu refleksitas yang tinggi yang mudah terjadi karena suatu keyakinan dan keteguhan ilahiah seorang pesilat. Persebatian antara raga dan jiwa yang berserah pada Tuhan Yang Maha Kuasa, menciptakan gerak lembut dan tenang tetapi berisi kekuatan yang dahsyat. Setiap orang yang ingin memasuki Pencak Silat Pangean harus melalui serangkaian proses dan memenuhi syarat-syarat untuk bisa bergabung.

 

Persyaratan yang diperlukan untuk memasuki Pencak Silat ini antara lain ayam jantan satu ekor, beras segantang, kain putih, putik limau manis, pisau sebilah, dan cincin perak. Beberapa faktor yang mempengaruhi orang untuk memasuki pencak silat Pangean diantaranya adalah untuk melindungi diri, karena Pencak Silat dimaknai sebagai seni beladiri atau seniuntuk mempartahankan diri. Kemudian di dalam Pencak Silat terdapat unsur-unsur keagamaan yang mengajarkan untuk selalu bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, Faktor lainnya, karena Pencak Silat ini masih tertutup, kebanyakan anggota yang bergabung dalam Pencak Silat ini bermula dari seseorang yang mereka kenal mengajak mereka.

 

Sebelum memulai proses latihan setiap anggota Pencak Silat diwajibkan untuk mengenakan atribut yaitu berupa peci dan kain samping. Anggota Pencak Silat yang tidak mengenakan atribut tidak diperbolehkan mengikuti sesi latihan namun tetap diperbolehkan masuk dan duduk di balai silat. Teknik-teknik dan gerakan dasar yang diajarkan dalam Pencak Silat Pangean ini memiliki empat gerakan dasar yaitu langkah empat. Langkah empat merupakan empat langkah dasar yang digunakan dalam Pencak Silat Pangean untuk bertahan dan menyerang. Teknik dasar dalam Pencak Silat Pangean yang digunakan untuk menyerang yaitu menggayung, memopat dan menikam. Pencak Silat Pangean memiliki struktur yang posisinya akandipilih oleh guru Pencak Silat itu sendiri. Posisi itu antara lain adalah guru, wakil guru, penghulu laman, induk berempat, anak bungsu dan anak laman (murid pencak silat). Silat Pangean sudah tersebar ke berbagai wilayah di Riau. Selain sebagai tradisi pewarisan bekal kehidupan, Silat Pangean kemudian digunakan sebagai rangkaian helat dan upacara adat dalam hal penyambutan atau pertemuan berbagai pihak.

 

Pada Tahun 2018 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah  menetapkan 225 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan Silat Pangean menjadi salah satu dari Warisan Budaya Tak Benda dengan Nomor Registrasi  201800640.

 

(Sumber : Buku Warisan Budaya Tak Benda Hasil Penetapan Kemendikbud 2013 - 2018 Provinsi Kepulauan Riau dan Riau/ Halaman 130)

Tari Gendong telah ada sejak abad ke-16 sebelum masuknya Kerajaan Siak. Kesenian tari tradisional ini lahir, tumbuh, dan berkembang di tengah masyarakat yang dikenal sebagai Suku Asli Anak Rawa tepatnya berada di Kampung Penyengat Kecamatan Sungai Apit, yang diiringi alat musik gendang, gong, dan biola. Fungsi tari ini adalah sebagai sarana upacara tolak bala dan sebagai sarana hiburan masyarakat suku Anak Rawa. Penari terdiri dari enak orang wanita yang saling bergantian bernyanyi. Tari Gendong yang penuh suka cita ini dapat dilihat dari cara berjoget dan bernyanyi semua penari maupun penonton yang larut dan ikut dalam suasana kegembiraan. Tarian ini dahulunya ditampilkan pada malam hari saat masyarakat sedang istirahat, sehingga tarian ini dijadikan sebagai hiburan bagi masyarakat yang mana saat siang hari lelah dengan pekerjaan dan pada malam harinya mereka menghibur diri dengan menyaksikan maupun ikut menari dengan para penari Gendong. Tari ini memiliki unsur magis, seperti menyediakan sesajen di dalam pertunjukannya, penari melantunkan sebuah lagu terlebih dahulu sebagai tanda akan dimulainya Tarian Gendong, kemudian barulah penonton boleh menari dengan penari. Penonton yang ingin menari dengan penari harus memiliki lagu dan membayar Rp 10.000. Kemudian, barulah diperbolehkan menari. Di sini dapat dilihat interaksi sesama masyarakat sangat baik dengan 152ditampilkannya Tari Gong ini dapat menjalin silaturahmi serta kekeluargaan yang sangat baik antar masyarakat.

Pada Tahun 2018 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah  menetapkan 225 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan Tari Gendong menjadi salah satu dari Warisan Budaya Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201800646.

 

(Sumber : Buku Warisan Budaya Tak Benda Hasil Penetapan Kemendikbud 2013 - 2018 Provinsi Kepulauan Riau dan Riau/ Halaman 151)  

Dari segi sejarah, komposisi bunyi dan instrumen yang digunakan pada calempong oguong, tidak ada unsur-unsur budaya Arab atau melodi dari daratan Asia. Berarti musik calempong oguong sudah ada sebelum masuknya Agama Islam pada abad 13 Masehi. Pada zaman primitif dengan kepercayaan animisme, di Wilayah kampar sekarang, masyarakatnya sudah membuat instrumen bunyi-bunyian yang terbuat dari kayu atau bambu, namanya gambang. 

Gambang dipakai pada kelompok musik gong tanah dengan pemainnya empat orang. Melodi gambang pada gong tanah yang juga masih ada hingga sekarang di Kampar kiri sama dengan melodi calempong logam. Setelah adanya industri logam di daratan Asia, alat musik dari logam ini dibawa pedagang ke daerah Kampar maka penggunaaan kayu sebagai alat musik pindah kepada logam. Calempong oguong yang alatnya terbuat dari logam awalnya dibawa perantau Kampar dari Singapura yang saat itu masih berada dibawah negara Malaysia. Dari Singapura, peralatan yang berupa oguong (gong) dibawa sampai di wilayah yang saat ini bernama Pekanbaru. Oguong itu terus dibunyikan dari Pekanbaru sampai ke Kampar. Dari bunyi oguong itu masyarakat jadi tahu, perantau Kampar dari Singapura telah pulang. 

Calempong oguong tradisi terdiri dari lima orang pemain, yakni penggolong dan peningkah memainkaninstrumen enam buah Celempong, gondang peningka dua orang memainkan instrumen ketepak dasar dan ketepak bungo, serta seorang pemukul gong. Berikut fungsi alat-alat tersebut :

 a)Calempong Alat musik perkusi terbuat dari logam. Enam buah calempong disusun dengan deretan nada tinggi ke tengah pada sebuah kotak berukir yang terbuat dari kayu. Kotak atau rumah calempong juga sebagai ruang resonansi.

 b)Ketepak Alat musik perkusi yang sumber bunyinya selaput/kulit kambing. Bentuknya bulat dan dikedua permukaann ya ditutup kulit yang dirajut dengan rotan. Cara menggunakannya adalah ditabuh dengan jari atau dengan rotan. Ketepak menjadi alat musik pelengkap pada grup calempong

c)Gung (gong) Alat musik perkusi yang terbuat dari logam. Bentuknya bulat berongga. Gung menjadi alat musik pelengkap dalam calempong dan dikir gubano. 

Dalam grup calempong tradisi selalu digunakan dua buah gung. Melodiyang dimainkan pada setiap judul lagu musik calempong baoguong atau calempong oguong hanya dua baris irama yang dimainkan berulang ulang. Dari cara memainkannya, calempong terbagi dua, yakni: Calempong rarak tono atau calempong jalan dengan tiga orang pemain. Masing-masingmemegangduacalempong yang memainkantigajenistingkah.

Calempong rarak ada pula yang diiringi ketepak panjang (gendang panjang) dan umumnya tak menggunakan gong. Calempong baouguong yang bermain sambil duduk. Perangkat instrumennya, yakni calempong sebanyak enam buah dengan dua orang pemain. Tugasnya sebagai penggolong dan peningkah terbuat dari logam kuningan.Gung dengan satu atau dua pemain terbuat dari logam Ketepak Suatu keistimewaan bagi instrumen gendang panjang pada
77calempong disebut ketepak adalah disebabkan gendang ini bila ditabuh bunyinya tak berdegung. Kulitnya terbuat dari kulit tak harus diregang.

Di beberapa daerah, gendang selaputnya diregang kencang sehingga bunyinya berdentang. Dalam menyusun instrumen, calempong bernada lebih tinggi diletakkan ke tengah baik dari kiri atau dari kanan. Salah satu nada calempong yang ditengah dianggap nada inti yang mempunyai kekuatan magis. Pada saat tertentu, calempong inti ini dilimaui (dibersihkan dengan air limau) dan dibacakan mantra-mantra. Ada kepercayaan bawah susunan calempong enam buah diibaratkan makhluk yang memiliki jiwa dan raga sebagai manusia. Calempong yang ditengah diibaratkan hati jantung.

 

Fungsi calempong oguong tercermin dalam ungkapan yang indah ini. Calempong nan menari. Gendang yang meningkah. Gong mengiyakan. Nan jauh kami jemput, yang dekat kami himbau. Babogai kato sumando, diiyakan ninik mamak.Banyak perbedaan, namun semuanya tetap akur dan harmoni dan itulah yang menjadi makna kesenian tradisional Kampar.

Calempong Oguang saat ini keberadaaanya berfungsi sebagai musik hiburan untuk mengisi acara perkawinan, pencak silat, batogak kepalo suku dan perayaan kampung lainnya dan saat ini musik calempong oguong berkolaborasi dengan instrumen musik lainnya seperti mengiringi tarian. 

Pada Tahun 2016 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah  menetapkan 150 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan Bedewo Bonai menjadi salah satu dari Warisan Budaya Tak Benda dengn Nomor Registrasi 201600313.  

(https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkepri/calempong-ogoung-kesenian-khas-kampar)

 

 

Seperti apa alunan Calempong Oguang, temukan jawabannya dalam video berikut :

 

Kesenian Sijobang Kampar merupakan suatu bentuk teater monolog tradisional yang dimainkan oleh seorang seniman dengan berdendang, pantun dan syair serta gerak tubuh yang sesuai dengan isi cerita. Kesenian Sijobang umumnya dipentaskan pada malam hari setelah acara kenduri khitanan, kenduri akikah dan terkadang setelah upacara perkawinan. Kesenian Sijobang pada prinsipnya boleh saja ditampilkan pada siang hari, namun seniman Sijobang lebih menyukai penampilan pada malam hari karena suhu udara yang dingin menyebabkan suara mereka tidak cepat hilang dan tidak cepat lelah. 

Sijobang lebih banyak ditampilkan pada acara khitan dan kenduri akikah karena memang ditujukan sebagai cerita untuk menghibur dan sekaligus sebagai media transmisi nilai-nilai budaya serta adat kepada anak-anak. Pertunjukan dimulai setelah sholat Isya sekitar pukul 20.00 wib dan istirahat pada pukul 24.00 wib setiap malamnya. Teater Buruong Gasiong biasanya ditampilkan selama tiga hingga tujuh malam tergantung permintaan tuan rumahyang memiliki hajatan. Menurut tradisinya, kisah yang dimainkan dalam Sijobang terikat pada cerita Buruong Gasiong (atau biasa juga disebut Gadi Buruong Gasiong) dan Uwang bagak Pinang Baibuik. Tidak seperti cerita rakyat pada umumnya yang dapat diceritakan sambil lalu, kedua cerita ini terikat pada metode penceritaan melalui pementasan Sijobang buruong gasiong. Keterikatan ini dikarenakan kepercayaan 83masyarakat terhadap aspek magis yang terdapat dalam cerita Buruong gasiong. Makin detil cerita disampaikanmaka semakin berhasil sang aktor menghibur para penonton. Alur naik turun emosi haruslah terasa oleh penonton.Dalam pertunjukannya pemain Sijobang memakai baju teluk belanga, celana panjang, ikat kepala atau kupiah. Si pemain juga membawa kain sarung yang sekaligus berfungsi sebagai selimut. Selain pakaian, pemainSijobangdiharapkan dapatmenyediakan properti yang terdapat dapat dalam cerita. Properti yang biasa dipakai berupa alat-alat dapur, dan tiruan senjata tajam.

Sejak zaman dahulu hingga saat ini, seniman Sijobang seluruhnya laki-laki. Dalam Sijobang, seniman laki-laki dituntut untuk mampu memerankan seluruh tokoh yang terdapat dalam cerita Buruong Gasiong dan Pinang Baibuik. Untuk membedakan antara tokoh perempuan dengan laki-laki, pemain Sijobang biasanya tidak memakai pakaian atau aksesoris yang identik dengan perempuan. Pembedaan hanya dilakukan dengan mengeluarkan nada suara yang lembut dan gerak tubuh yang gemulai. Ini dikarenakan seorang seniman yang sedang memainkan Sijobang tidak memiliki kesempatan untuk mengganti pakaian sesuai dengan tokoh yang sedang diperankan. Para penonton harus mampu menafsirkan sendiri tokoh yang sedang diperankan dan memahami kalimat yang diucapkan.

Pada Tahun 2017 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah  menetapkan 150 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan Zapin Api menjadi salah satu dari Warisan Budaya Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201700474
 
(Sumber : Buku Warisan Budaya Tak Benda Hasil Penetapan Kemendikbud 2013 - 2018 Provinsi Kepulauan Riau dan Riau/ Halaman 82)  

 

Debus Indragiri Hulu adalah sebuah kesenian tradisional masyarakat Melayu Indragiri Hulu, yang telah ada semenjak kesultanan Indragiri yang dibawa oleh Syeh Ali Al Idrus (bangsa Arab Hadratul Maut). Tempo dulu kesenian Debus digunakan sebagai sarana penyebaran agama Islam di wilayah Indragiri, dan sekarang kesenian debus sebagai sarana hiburan pada perayaan pernikahan, Sunat Rasul, serta perayaan Islam lainnya. Alat yang dipakai dalam debus berupa sebilah besi yang tajam bermata tiga. Debus dilakukan secara bergiring-giring dengan kalimat berjanji diiringi musik Gebano serta dipimpin oleh seseorang Khalifa', lalu penari/pemain debus menusukkan debus bermata tajam ke lengan dan ke perut penari. Maka dengan izin Allah SWT penari Debus tidak terluka oleh tajamnya mata Debus. Pada akhir pertunjukan Debus ditutup oleh Khalifa' dengan do'a -do'a

 

Pada Tahun 2016 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah  menetapkan 150 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan Debus Indragiri Hulu menjadi salah satu dari Warisan Budaya Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201600312.

 

(Sumber : Buku Warisan Budaya Tak Benda Hasil Penetapan Kemendikbud 2013 - 2018 Provinsi Kepulauan Riau dan Riau/ Halaman 73)