Tampilkan postingan dengan label AYOKERIAU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AYOKERIAU. Tampilkan semua postingan
Siang itu bandara Sultan Syarif kasim II Pekanbaru telihat ramai, beberapa bule terlihat membawa papan selancar. Teluk Meranti sebuah desa di Kabupaten Pelalawan menjadi tujuan mereka, menciptakan rekor terlama berselancar disungai menjadi tujuan mereka. Peselancar Australia itu kelihatan cukup lelah dan kontras menarik perhatian dan sekali kali mereka melambaikan tangan kearah  orang yang melihatnya.

Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II merupakan salah satu bandara tersibuk di Pulau Sumatra, sekurangnya ada beberapa jalur penerbangan yang rutin menuju Pekanbaru Ibu Kota Provinsi Riau,yaitu melalui Jalur Batam, Jakarta, Medan, Denpasar, Yogyakarta, Bandung, Singapura dan Kuala Lumpur dan jalur penerbangan kota lainnya.

Provinsi Riau yang dikenal sebagai daerah dengan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) nya, sudah saatnya tidak lagi terus bergantung kepada  Minyak dan Gas, Kelapa Sawit, Kayu, sudah saatnya Riau  fokus pada pengembangan objek wisata. Provinsi Riau kaya akan berbagai potensi wisata, baik itu wisata alam, wisata syariah, wisata minat khusus, wisata budaya, wisata sejarah maupun wisata lainnya, dan jika dikemas secara baik maka Riau tidak akan kalah dengan Provinsi lainnya yang dapat mengandalkan sektor wisata dan Ekonomi Kreatif sebagai sumber PAD.

Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi telah dinobatkan sebagai Kota Tujuan Investasi Terbaik bahkan BPS menetapkan Riau sebagai sebagai Provinsi dengan penduduk paling bahagia, Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi terus berbenah untuk menjadikan Kota Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE). Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi tidak menawarkan Air Terjun, Hutan, Pantai, Goa, Istana, Sejarah maupun gunung yang menawan, melainkan wisata MICE, posisi geografis yang strategis dan besarnya perputaran uang di Pekanbaru menjadi modal utama, MICE memang menjadi perlengkapan industri pariwisata yang terus menjadi kebutuhan masyarakat modern. Pekanbaru sebagai Tujuan Wisata MICE terbukti dari banyaknya acara besar hingga tingkat hunian hotel dan penginapan yang terus meningkat tiap tahunnya di Pekanbaru. Sedangkan Kabupaten dan Kota lain di Riau menyuguhkan wisata alam, wisata religi, wisata sejarah, wisata kuliner, wisata bahari, Wisata Budaya.   
 

Riau kini sedang berbenah untuk menjadi salah satu destinasi wisata dan juga salah satu upaya untuk menambah PAD karena Kekayaan Alam yang dimiliki Riau kian menyusut. Selama ini Provinsi tetangga sumatra Barat (Sumbar) menjadi Destinasi utama masyarakat Riau untuk berwisata, harus kita akui bahwa infrastruktur pendukung wisata dan juga alam yang menawan menjadi nilai plus dan unggulan Sumbar dan kita perlu banyak belajar kepada Sumatra Barat. 

Riau yang berada di tengah pulau sumatra  dengan masyarakat masih berpegang teguh pada nilai-nilai budaya melayu dan agama islam sedang bertransformasi menjadi salah satu tujuan wisata.
Pemerintah terus mendorong pembangunan infrastruktur, sebagai upaya kita untuk menggaet dan mempermudah akses wisatawan yang berkunjung ke Riau ini, - See more at: https://www.potretnews.com/berita/baca/2016/07/18/minyak-segera-habis-riau-beralih-ke-pariwisata/#sthash.OJWyS9jT.dpuf
Pemerintah terus mendorong pembangunan infrastruktur, sebagai upaya kita untuk menggaet dan mempermudah akses wisatawan yang berkunjung ke Riau ini, - See more at: https://www.potretnews.com/berita/baca/2016/07/18/minyak-segera-habis-riau-beralih-ke-pariwisata/#sthash.OJWyS9jT.dpuf




BONO SUNGAI KAMPAR
Bono merupakan fenomena alam unik yang terjadi di Sungai Kampar Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau.  Bono adalah fenomena alam yang datang sebelum pasang. Air laut mengalir masuk dan bertemu dengan air sungai Kampar sehingga terjadi gelombang dengan kecepatan yang cukup tinggi, dan menghasilkan suara seperti suara guntur dan suara angin kencang. Pada musim pasang tinggi, gelombang sungai Kampar bisa mencapai 4-6 meter, membentang dari tepi ke tepi menutupi keseluruhan badan sungai. Peristiwa ini terjadi setiap hari, siang maupun malam hari. 





Melihat orang berselancar di pantai atau laut adalah suatu hal yang sudah biasa. Tetapi melihat orang berselancar di arus sungai adalah suatu hal yang luar biasa. Kegiatan berselancar di sungai hanya ada di beberapa tempat di dunia. Dan salah satu diantaranya terdapat di Muara Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau yang biasa di sebut dengan Ombak Bono Sungai Kampar.



Bagi dunia peselancar (surfer) maupun wisatawan dari luar, Bono Kampar adalah sebuah penemuan yang mengagumkan bahkan para selencar dunia mengungkapkan luar biasa untuk "Bono Kampar", seperti diungkapkan oleh Chris Mauro dalam tulisannya yang  dimuat GrindTV.com :  “A dreamlike wave found in an Indonesian river is stunning surf world (sebuah gelombang impian yang ditemukan di salah satu sungai di Indonesia memukau dunia selancar),” . Tulisan Mauro itu sendiri lantas merujuk pada apa yang ia sebut ‘penemuan luar biasa’ oleh tim (ekspedisi) Rip Curl baru-baru ini, yang menurutnya “mungkin tak tertandingi” (may be unrivaled).
Bono merupakan tempat idaman bagi peselancar manapun, bahkan Rekor Dunia berselancar terlama ada di Bono. Guinness World Records telah mencatat rekor berselancar terlama di ombak sungai (Longest surfing ride on a river bore) yang dilakukan oleh James Cotton secara perorangan sejauh 17.2 km di Ombak Bono Sungai Kampar, Riau - Indonesia pada tanggal 10 Maret 2016, selain itu James Cotton dari Australia juga memecahkan rekor berselancar terlama dan terpanjang secara tim bersama  Roger Gamble dan Zig van Sluys, ketiganya memecahkan rekor dunia dengan total jarak selancar 37,2 kilometer dalam waktu 1 Jam 5menit.
Perlahan tapi pasti nama Bono Sungai Kampar sudah dikenal wisatawan bahkan Anugrah Pesona Indonesia (API) 2016  Gelombang Bono tersebut masuk nominasi  kategori Tempat Berselancar Terpopuler (Most Popular Surfing Spot).


FESTIVAL PACU JALUR
Kabupaten Kuantan Singingi sangat kaya akan keragaman adat dan budaya,salah satu diantaranya adalah Pacu jalur.  Pacu berarti lomba adu cepat, sedangkan jalur berarti perahu besar yang dapat memuat40-50 orang anak pacu. Jalur dibuat dari sebatang pohon Bonio atau kulim kuyian dengan panjang 30 meter atau lebih dengan diameter 2meter.

Untuk membuat Pacu banyak ritual yang mesti dilalui, kayu yang diambil dihutan diawali dengan upacara persembahan dan semah yang dipimpin oleh pawang,kayu tersebut dianggap memiliki penghuni,upacara ini dilakukan agar proses penebangan kayu dapat berjalan lancar. Kemudian pohon ditebang sesuai dengan panjang jalur yang akan dibuat,setelah pohon ditebang lalu diseret bersama-sama ke Desa dengan menggunakan tenaga manusia, nuansa gotong royong dan kebersamaan masih kental dalam proses pembuatan jalur.



Pacu jalur awalnya dilaksanakan untuk memperingati hari besar agama Islam seperti Maulid nabi, Idul Fitri, Tahun Baru Islam 1 Muharam. Tetapi Ketika Penjajah Belanda memasuki daerah Riau diawal tahun 1900 mereka memanfaatkan Pacu jalur sebagai peringatan Ulang Tahun Ratu Wilhelmina  yang jatuh pada setiap tanggal 31 Agustus. Namun sejak Indonesia merdeka Pacu jalur menjadi Agenda untuk memperingat Hari kemerdekaan, kini Pacu jalur diadakan setiap Bulan Agustus atau dipercepat sebelum Agustus jika pada Saat Bulan Agustus bertepatan dengan Bulan Ramadhan.

Kini Pacu jalur menjadi pesta masyarakat Kuantan Singingi dan masyarakat Riau pada umumnya yang telah menjadi kalender  Pariwisata Nasional. Pacu Jalur ini diadakan di Tepian batang Narosa Sungai Kuantan Taluk Kuantan, event Pacu Jalur tidak hanya diikuti oleh Jalur dariKecamatan yang ada di Kabupaten Kunatan Singingi saja tapi juga diikuti oleh Jalur dari Kabupaten lain di Provinsi Riau dan juga diikuti Jalur Provinsi tetangga dan juga negara lain.




MENIKMATI MATAHARI TERBIT DI PULAU RUPAT

Belum lengkap jika tidak menikmati matahari terbit di pulau ini.
Indahnya Pantai Rupat Utara Pasir Putih Sepanjang 17 Kilometer. Siapa bilang Provinsi Riau tak memiliki wisata pantai.
Coba datangi Pulau Rupat di Kabupaten Bengkalis.

Kawasan pulau dengan luas kurang lebih 1.500 Km persegi  tersimpan destinasi wisata bahari yang asri dan menawan.



Beting Aceh di Rupat Utara serta Pasir Putih yang panjang menjadi Destinasi Baru wisata , selain keindahannya tentunya letak geografis yang strategis yang berada di Perairan Selat Melaka menjadu saya tarik sendiri. Matahari terbit berlatar Selat Melaka . Keindahannya membuat perjuangan saya bangun lebih pagi hanya untuk menyaksikan Matahari terbit dan melihat nelayan pulang membawa hasil tangkapan ikan, perlahan semburat jingga semakin terlihat hantaman ombak Selat Melaka semakin syahdu suasana pagi hari dan akhirnya

Matahari kian meninggi. Pagi pun memunculkan imaji luar biasa Rupat Utara Bengkalis pulau eksotisme yang membawa saya ke dimensi baru berwisata di Riau.



FESTIVAL BAKAR TONGKANG SALAH SATU RITUAL BUDAYA TERSUKSES DIN INDNESIA


Copyright @ imamhartoyo @Flickr
Festival Bakar Tongkang merupakan Festival tahunan yang luar biasa, hebat, mampu menarik puluhan ribu wisatawan bahkan kunjungan wisatawan tiap tahunnya selalu meningkat demi menyaksikan sebuah ongkang yang dibakar.Ritual Bakar Tongkang salah satu contoh suksesnya ritual budaya dimiliki Indonesia dan memberikan dampak positif bagi Penyelenggara , nyaris ratusan ribu wisatawan hadir ke Kota Bagansiapiapi
Puncak acara Festival Bakar Tongkang sendiri ketika kapal dibakar, peserta begitu antusias untuk melihat arah tiang tongkang itu jatuh. Menurut kepercayaan warga Tionghoa Bagansiapiapi, arah jatuhnya tiang menunjukkan keselamatan dan peruntungan usaha.  Bakar tongkang menjadi tradisi unik yang melegenda bagi masyarakat Tionghoa di Bagansiapia, Tradisi ini melekat dengan sejarah awalnya masyarakat Tionghoa yang tinggal di Riau bermigrasi dari Kampung Leluhur mereka menggunakan sebuah kapal yang disebut dengan Tongkang. Tahun 2017 silam Festival Bakar Tongkang di ganjar menjadi Atraksi Budaya Terppuler di Indonesia dalam Ajang Anugerah Pesona Indonesia, dan pada saat tahun 2017 silam Riau menjadi Juara Umum dengan memenangkan 7 kategori dari 15 Kategori yang ada.


PASAR BAWAH, OBJEK WISATA BELANJA TERPOPULER DI INDONESIA.


Tak lengkap jika berkunjung ke Pekanbaru jika tidak singgah atau berbelanja di Pasar Bawah Pekanbaru. Orang-orang dari luar Pekanbaru selalu menjadikan pasar bawah sebagai salah satu tempat yang harus dikunjungi jika mampir ke pekanbaru. Pasar Bawah Pekanbaru merupakan pasar yang tertua di kota Pekanbaru yang berada di persis di tepi sungai Siak dan Pelabuhan.


Pasar yang terletak di sebelah utara Pekanbaru ini merupakan pusat perbelanjaan yang banyak menyediakan barang-barang antik, pernak-pernik aksesori rumah tangga, baik dari dalam maupun luar negeri. Selain itu, pasar ini juga terkenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan barang elektronik bekas (second hand) yang berasal dari luar negeri. Dahulu, barang-barang bekas atau selundupan dari luar negeri belum diawasi ketat oleh pemerintah. Namun, seiring berjalannya waktu, berangsur-angsur pemerintah mulai memperketat peraturan. Barang-barang yang dulunya bisa masuk, sekarang tidak bisa bebas masuk lagi.  

Berbagai  barang eks luar negeri dengan kualitas impor yang dijual dengan harga "miring", seperti keramik dari Cina, karpet dari Timur Tengah, tas wanita dari Italia, dan aneka guci dan patung. Selain itu, di pasar ini terdapat beragam barang-barang elektronik dan berbagai jenis makanan kecil yang hampir semuanya merupakan produk luar negeri. Di pasar ini juga tersedia jenis makanan khas Riau seperti lempuk Durian, Dodol kedondong, ikan salai, Ikan Asin, selain itu juga tersedia kerajinan khas Riau seperti batik Riau , Kain Songket Riau, Baju Melayu Khas Riau dll.

Tahun 2017 dalam sebuah Ajang Anugerah Pesona Indonesia  Pasar Bawah mampu mengalahkan Pasar Beringharjo (Yogyakarta) dan Sentra kerajinan kulit tanggulangin Sidoarjo sebagai Objek Wisata Belanja Terpopuler di Indonesia.


KEMILAU ISTANA SIAK MENJADIKANNYA SITUS SEJARAH TERPOPULER
Bila anda ke Kabupaten Siak, anda akan terpesona melihat keindahan Istana Siak, Istana ini dibangun oleh Sultan Siak ke-11 yakni Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin. Istana ini dibangun saat Sultan Syarief Hasyim begitu sebutan singkatnya, baru mulai memimpin Kerajaan Siak pada 1889.

Menurut riwayatnya, Istana ini dirancang oleh arsitek asal Jerman. Kebetulan dulu sang Sultan memang kerap melawat ke Belanda dan Jerman. Sekarang pun, salah satu koleksi antik yang ada di istana ini adalah alat musik Komet buatan Jerman, yang memiliki piringan pemutar berdiameter 90 cm. Konon, di dunia ini Komet hanya diproduksi dua buah: yang satu masih di negara asal, yang satu lagi yang berada di Istana Siak.


Istana Siak berada Jalan Sultan Syarif Kasim, di tepian Sungai Siak, tak jauh dari Jembatan Siak, jembatan gantung sepanjang 1.203 meter, yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2007. Nama resmi jembatan ini adalah jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah.  Tahun 2017 lalu Istana Siak menjadi Pemenang Ke - 2 sebagai Objek Wisata Sejarah Terpopuler dalam Ajang Anugerah Pesona Indonesia.


Hal tersebut diatas merupakan sebagian dari Objek Wisata Andalan Riau, kini berbagai Infrastruktur di gesa untuk menunjang Sektor Wisata, Pengembangan pariwisata daerah sangat  membutuhkan 3A (atraksi, amenitas, akses) seperti digembor-gemborkan Kementrian Pariwisata selama ini agar kegiatan pariwisata itu dapat berjalan optimal.


Akses jalan di sebagian besar wilayah Riau masih belum baik ,masih banyak jalan yang mengalami rusak parah, bergelombang, berdebu, berlubang lubang besar sehingga laju kendaraan tidak optimal untuk dapat menuju Objek Wisata. Terlebih jika Objek Wisata tersebut membutuhkan perjalanan yang lama, tentunya ini sangat tidak efesin dan efektif , penumpan sudah merasakan  capek di perjalanan.

Amenitas di Pekanbaru sudah sangat baik, namun hal ini tidak diimbangi oleh Kabupaten dan Kota di Riau, terutama di daerah Pesisir yang memilki sumber air tidak bagus, dan bukan hal yang aneh jika kita ke Pesisir menyaksikan air di Hotel yang sangat tidak bersahabat dengan kondisi air yang bau, air yang berminyak. Hotel dan Wisma yang ada di kabupaten dan Kota di Luar Pekanbaru jumlahnya belum banyak, dan belum mampu menampung Wisatawan jika diadakan sebuah Event nasional atau event besar.

Atraksi. Atraksi hal penting untuk kemajuan wisata, Atraksi yang ada perlu dikembangkan, mungkin hal yang sepele dalam sebuah event , masih banyak kita menyaksikan tidak adanya keseragaman Kostum,dan Atraksi yang ditampil hanya melulu itu saja sehingga Wisatawan enggan untuk berkunjung dan akan berkata Dari Dulu Objek Wisatanya begitu saja tanpa ada perubahan.



(OPINI : HASRINALDI : Riau Travel Blogger Founder www.riaudailyphoto.com)

Mengutip laman Wikipedia ,Diorama adalah sejenis benda miniatur tiga dimensi untuk menggambarkan suatu pemandangan atau suatu adegan. Asal usul diorama adalah dekorasi teater di Eropa dan Amerika pada abad ke-19. Pencinta miniatur sering membuat diorama untuk memamerkan model kendaraan militer, miniatur figur publik, ataupun miniatur pesawat terbang.

Diorama pada masa modern digunakan untuk menggambarkan keadaan sesungguhnya dari landskap keadaan sejarah, kejadian alam, dan keadaan kota untuk kebutuhan pendidikan atau pertunjukan. Dan salah satu contoh Diorama Modern adalah Diorama Tuanku Tambusai yang terdapat di Desa Talikumain, dan Dalu Dalu Kelurahan Tambusai Tengah Kecamatan Tambusai Kabupaten Rokan Hulu.
                    


Diorama Tuanku Tambusai menggambarkan perjuangan Tuanku Tambusai dalam mengusir penjajahan belanda, sehingga para pengunjung merasakan suasana perjuangan masa lalu Tuanku Tambusai. Diorama Tuanku Tambusai syarat dengan nuansa Tempo Dulu, dimana terdapat Tulisan berejaan tempo dulu dan juga tulisan arab melayu, Diorama Tuanku Tambusai menampilkan silsilah Tuanku Tambusai, bagaimana ia besar dan tumbuh, serta cerita perjuangannya melawan penjajah dan tentunya juga ditampilkan relief serta peta Benteng Tujuh Lapis.


Terdapat Dua Diorama Tuanku Tambusai di Kecamatan Tambusai , Diorama Ini merupakan Zona Penunjang dari Revitalisasi Benteng Tujuh Lapis, dimana  dibangun sebanyak Dua Diorama yang berjarak sekitar 2km dari kawasan Benteng Tujuh Lapis , Diorama pertama berada di  tepi jalan masuk Dalu-dalu dari Kabupaten Padang Lawas Sumatera Utara, yakni di lingkungan Kubu Baling-baling Kelurahan Tambusai Tengah sedangkan Diorama berikutnya berada di Tepi Jalan Desa Talikumain jika dari arah Pasir Pengaraian.


Kini Diorama ini menjadi tempat yang ramai dikunjungi untuk berswaphoto maupun menjadi tempat kunjungan wajib jika berkunjung ke Tambusai Rokan Hulu.


Cara Menuju Lokasi Diorama Tuanku Tambusai
Untuk mengunjungi lokasi Diorama Tuanku Tambusai yang berada di Kecamatan Tambusai Kabupaten  Rokan Hulu, sebaiknya Anda menggunakan kendaraan pribadi, baik roda empat maupun roda dua. Apabila Anda memulai perjalanan dari pusat Kota Pekanbaru, Anda harus menempuh perjalanan  lebih kurang sejauh dua ratus kilometer , dengan waktu tempuh normal 4 ,5 hingga 5 jam perjalanan. Perjalanan dilakukan menuju Tambusai Kabupaten Rokan Hulu dari Pekanbaru dapat dilakukan melalui  akses Jalan yaitu melewati Jalan Bangkinang serta melewati Jalan Petapahan (via Garuda Sakti Pekanbaru). Untuk memudahkan perjalanan, Anda bisa menggunakan google map yang lebih akurat untuk menemukan lokasi yang Anda cari. 
Selain itu untuk memudahkan serta kenyamanan anda juga dapat menggunakan Jasa Travel Pekanbaru - Tambusai dengan Biaya Rp.120.000,- sekali Perjalanan, Alam Travel menjadi salah satu Referensi kami untuk Perjalanan Pekanbaru - Tambusai atau sebailknya Tambusai - Pekanbaru , keramahan Supir dan juga keamanan dalam mengemudi Kendaraan menjadi Ciri Khas dari Alam Travel. Untuk menikmati perjalanan bersama Alam Travel dapat menghubungi Nomor 08217228279.

Jika ingin menginap ,tidak jauh dari Diorama terdapat sebuah Penginapan Syariah, dan Jika menginap Kita dapat berkunjung ke beberapa tempat di Kecamatan Tambusai seperti Benteng Tujuh Lapis, Gedung Lembaga Kerapatan Adat Desa Adat Luhak Tambusai, Makam Raja Qahar, serta Makam Raja Rambah yang berjarak sekitar Belasan Kilometer yang berada di Kecamatan Rambah.

Randai Kuantan Singingi  merupakan sebuah kesenian unik yang memperlihatkan berbagai cerita rakyat, yang dibawakan dalam sebuah pertunjukan teater seni tradisional. Kesenian ini dimainkan oleh sekelompok orang yang berjumlah sekitar 15 hingga 30 orang dalam sekali pementasan. Terdapat beberapa peran penting, seperti tokoh cerita serta peran pendukung lainnya, dalam pertunjukan kesenian yang juga dimainkan oleh mayoritas anak muda yang juga sering disebut dengan nama Randai Bujang Gadi.

 


Kesenian ini identik dengan berbagai tingkah serta atraksi dari para pemain yang mampu mengundang gelak tawa dari para peonton yang menyaksikannya. Hal ini dikarenakan terdapat berbagai lawakan-lawakan khas dan juga unik, yang pastinya akan menjadi sajian untuk kita nikmati dalam pertunjukan kesenian Randai Kuantan. Salah satu daya tarik yang mampu mengundang kelucuan dalam kesenian ini  adalah tokoh yang diperankan  oleh laki-laki yang  berperan sebagai wanita, dan begitu juga sebaliknya para pemain wanita yang memerankan diri menjadi laki-laki.
 

Selain di Kuantan Singingi , Randai juga ada di Sumatra barat ,jika di Sumatra Barat tarian randai dikombinasikan dengan Gerakan Silat. Menurut Budayawan Riau asal Kuantan Singingi UU Hamidy, bahwa Randai di daerah Kuansing, erat hubungannya dengan kedatangan perantau-perantau Minang. Randai mulai dikenal di perkampungan sepanjang sungai kuantan Indragiri Riau, kira-kira tahun 1937. Ketika itu keadaan ekonomi rakyat didaerah itu cukup baik. Harga getah cukup mahal, lagipula banyak petani atau peladang getah yang diberi subsidi oleh Belanda. Ekonomi yang baik ini telah mendorong datangnya perantau-perantau Minangkabau ke Kuantan Singingi.


Pertunjukan Randai menjadi spesial bagi Orang Kuantan Singingi, terutama bagi perantauan asal kuantan Singingi, perantauan Asal Kuantan Singingi  melestarikan Randai ini di tempat ia tinggal dengan rutin menggelar pertunjukan Randai dan mereka akan mengundang sesama  Perantauan Asal Kuansing untuk menyaksikan Randai. Perantauan Asal kuansing akan mengadakan Randai jika melangsungkan pernikahan, acara khitanan, syukuran kelahiran anak, Khatam Quran dan acara lainnya.

Pertunjukan Seni Randai menampilkan cerita yang disajikan dalam  Dialog  dan diiringi oleh Musik Calempong sambil berjoget dengan membentuk lingkaran, para penari atau Anak Randai  dengan semangat berjoget sambil berjalanan dan berkeliling membentuk lingkaran dan Induk Randai bercerita dan memimpin Jalannya Randai dan Para Penonton akan terbahak ketawa mendengar Dialog Induk randai dan Anak Randai dan tentunya Penampilan Anak Randai Laki Laki yang menjadi Wanita dengan berpakaian Wanita  dan juga Bando di kepala akan menjadi menarik perhatian penonto. Kacamata dan Syal serta peluit menjadi perlengkapan wajib dalam kesenian Randai, Anak Randai berjoget mengelilingi lingkaran sambil meniup peluit dengan membentuk irama tertentu dan menyatu dengan hentakan kaki.

Kini Dokumentasi Kesenian randai banyak dijual dalam Bentuk Kepingan CD baik dalam bentuk MP3 maupun Video, dan CD Randai tersebut menjadi lagu Wajib di Kendaraan Roda Empat bagi Perantauan Asal kuantan Singingi, Syafri Depi Pegawai Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru perantauan Asal Desa Simandolak Benai kuansing menuturkan ia menjadikan Lagu Randai sebagai Nada Dering Handphone, menurutnya Lagu Randai dengan judul Sayang den Du menjadi favorit ia dan Keluarga.




 Susunan Acara Penampilan Randai
  1. Pembukaan
    Para pemain berbaris dua-dua lalu memasuki arena, diiringi dengan musik lagu pembuka, misalnya, “Bunga Setangkai”. Barisan ini dipandu “tukang peluit” yang meniup peluitnya sesuai irama musik. Lalu mereka berjoget mengelilingi lokasi hingga membentuk lingkaran. Jika lagu telah selesai, tukang peluit meniup peluitnya sembari memberi kode telah selesai. Barisan randai yang ada lalu meneriakkan “hep heeep ta”, kemudian jongkok ataupun duduk dengan posisi melingkar.
  2. Sambutan
    Pemandu acara meminta induk randai dan tuan rumah yang memiliki hajatan untuk menyampaikan kata sambutan. Ia juga meminta ketua randai untuk menyampaikan petatah petitihnya. Kemudian, para anak randai berdiri dan berjoget mengelilingi arena, selanjutnya mereka duduk lagi.
  3. Bercerita
    Pemandu menyampai isi cerita yang akan dimainkan, lalu anak-anak randai pun berakting sesuai dengan alur cerita yang disampaikan. Setiap adegan diawali dengan cerita dari pemandu dan ditutup dengan tarian atau joged.
  4. Istirahat
    Setelah sekitar 2 jam, biasanya permainan diistirahatkan. Waktu istirahat ini biasanya diisi dengan lelang lagu dan joged oleh para bujang gadih (pemeran laki-laki atas peran perempuan) yang disaksikan para penonton.
  5. Penutup
    Pada saat penutupan, biasanya dinyanyikan lagu “Gelang Sipaku Gelang”. Para anak randai pun berjoged mengelilingi arena sembari berjalan ke luar. 

Kini Pertunjukan randai bukan hanya sekedar Kesenian tetapi telah menjadi Sebuah Identitas dan Jati Diri bagi Kuantan Singingi.


Pada Tahun 2016 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah  menetapkan 150 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan Randai menjadi salah satu dari Warisan Budaya Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201600309.


Pada pembukaan Festival Pacu Jalur ke-116 pada Tanggal 21 Agustus 2019   Museum Rekor Indonesia (MURI) telah menetapkan Sebuah Rekor Baru dengan Nomor Register : 9124 kepada Kabupaten Kuantan Singingi yang telah mempersembahkan tari randai yang diikuti oleh 1.574 penari dari seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi. 





Sumber :
  • https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/randai-kuantan-warisan-budaya-takbenda-indonesia-2016
  • Dialog dan Wawancara dengan Tokoh Masyarakat Kuantan Singingi
  • Youtube (Randai )



Ratik Togak yang telah dilakukan oleh nenek moyang kita dahulu salah satu tujuannya adalah untuk mengagungkan Asma Allah sembari berdo’a kepada Allah SWT, memohon petunjuk, berkah serta keselamatan agar negeri kita ini senantiasa berada dalam lindunga-Nya.”. Ratib togak, Ratik Bosa, Ratik Togak, Ratib Saman, Rakib Saman dan berbagai macam nama lainnya.

Ratik Togak di daerah Riau khususnya di Rokan Hulu sudah menjadi tradisi bahkan Rakib Togak atau Ratik Togak menjadi sebuah Tugu, tugu ini persis berada di depan Islamic Centre yang begitu megah. Ratik bermakna zikir, ratib. Ianya dilakukan oleh kaum tasawuf/ sufi untuk mencari puncak kenikmatan berzikir, dinamakan juga sebagai ratik soman (ratib tharikat Samaniah). Zikir seperti ini biasanya dilaksanakan pada penutupan khalwat 41 hari jamaah thariqat. Semacam kenduri keluar dari suluk. Ianya khusus dilakukan oleh kelompok jamaah thariqat (sufiah) dan tidak mengajak orang lain atau masyarakat umum. Sufi punya cara tersendiri dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah. Upaya mencari jalan halus menuju Allah itu ditempuh mengikuti wasilah guru Thariqat yang turun temurun. Beragam zikir dilakoni mulai dari yang seperti ini (dalam kenduri Thariqat) hingga zikir Sirr atau sampai pada Zikir Fana (tanpa gerak lisan dan tubuh). Bacaannya menurut zikir yg diajarkan Rosulullah. Tidak ada ucapan fasik dan munkar dalam zikir tersebut. Mereka juga menjaga adab serta kehalusan perasaan di hadapan Allah. Jika ingin merasakan nikmat Zikir Sufiah Thariqat Muktabaroh, harus masuk dulu jadi jamaah. Murid dibimbing oleh guru atau tuan syaikh (guru besar).


Pada Tahun 2018 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah  menetapkan 225 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan Ratik Togak menjadi salah satu dari Warisan Budaya Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201800635.




Museum Sang Nila Utama Provinsi Riau menggelar Pameran Bersama Museum se-Sumatera, Pameran bersama museum se-Sumatera ini berlokasi di Museum Sang Nila Utama  yang terletak  di Jl. Jenderal Sudirman Pekanbaru. Pameran berlangsung sejak tanggal 26 September hingga 24 Oktober 2019 dari pukul 08.30 sampai dengan 17.00 WIB. Pameran Bersama Museum Sumatera menggelar Pameran Senjata Tradisional Se-Sumatera dan Pameran yang di Pekanbaru ini adalah Pameran Museum Bersama yang ke 5 dan sebelumnya telah dilakukan di Provinsi yang berbeda dan tiap Provinsi bergilir menjadi Tuan Rumah. Pada Pameran kali ini memamerkan sebanyak 79 senjata tradisional yang  berasal dari Aceh 7 koleksi, Sumatera Utara 12 koleksi, Sumatera Barat 8, Riau 16 koleksi, Jambi 7 koleksi, Bengkulu 12 koleksi, Sumatera Selatan 9 koleksi dan Lampung 8 koleksi.

Pameran Museum ini diikuti oleh 8 Museum Provinsi di Sumatera yaitu Museum Sang Nila Utama Riau selaku Tuan Rumah,  Museum Negeri Nagroe Aceh Darussalam, Museum Negeri Sumatera Utara,Museum Adityawarman Sumatera Barat, Museum Siginjei Jambi, Museum Negeri Bengkulu,Museum Bala Putera Dewa Sumatera Selatan, Museum Ruwa Jurai Lampung



Pameran Bersama Museum se- Sumatera ini bertajuk "Senjata Tradisional Sumatera" dengan tema Senjata Tradisional Dalam Bingkai Kehidupan Sosial dan Budaya Masyarakat Sumatera. Berdasarkan pantauan kami Pameran bersama ini cukup di repon masyarakat Pekanbaru dan seitarnya, terutama Pelajar yang ada di pekanbaru, Ela salah satu pelajar SD di pekanbaru menuturkn bahwa ia mendapat tugas dari Guru untuk melihat pameran dan juga mencatatnya. Ibu Agustina Guru Pendamping Ela menuturkan kami cukup berterima kasih kepada Dinas kebudayaan Riau yang menggelar Pameran Bersama ini, cukup banyak tambahan pengetahuan bagi kami, minimal kami menetahui dan melihat langsung Senjata senjata yang ada di Pulau Sumatera.

Senjata Tradisional Upacara Adat Se-Sumatra
Pameran Senjata Tradisional Sumatera ini dapat digolongkan atas :
  • Senjata untuk mengolah makanan merupakan senjata yang digunakan untuk mengolah makanan berupa senjata tajam untuk memotong hewan atau tumbuhan.
  •  Senjata untuk berburu.
  • Senjata untuk membela diri.
  • Senjata untuk menyerang
  • Senjata untuk upacara adat
  • Perubahan Fungsi Senjata dipakai untuk beberapa fungsi lainnya seperti pertunjukan debus/dabus.
  • Perkembangan senjata tradisional, yaitu perubahan nilai dan fungsi senjata yang digunakan sebagai hadiah (souvenir), hiasan, lambang daerah, tugu.


Senjata koleksi dalam Pameran Senjata Tradisional se-Sumatera 2019
  • Senjata Mengolah Makanan
    1. Parang Enggano
    2. Parang Pendek
    3.  Palitei
    4.  Pisau Tumbuk Lado
    5. Sumateralith Kapak Genggam
    6.  Parang Pendek


      Senjata Tradisional Berburu se SumateraAdd caption

  •  Senjata Berburu
    1. Buk-buk
    2. Mata Tombak
    3. Panah
    4. Panah Sakai
    5. Serampang Mata Satu 
    6. Serampang Mata Tiga 
    7. Sumpit 
    8.  Sumpit Suku Sakai
    9. Tombak 
      Senjata Tradisional Membela Diri se Sumatera


  • Senjata Membela Diri
    1. Badik
    2.  Kerambit
    3.  Kuduk
    4. Pedang Palembang
    5. Pengganda Berukir
    6. Pudoi
    7. Pukulan Kayu Runggam 
    8. Rencong 
    9. Skin
    10. Tameng 
    11. Tombak 
    12. Tongkat Sumam
      Senjata Tradisional menyerang se Sumatera

       
  •  Senjata Menyerang
    1.  Beladau
    2. Gala Rimbau
    3. Jenawi
    4. Keris (Tiap Daerah di Sumatera memiliki berbagai jenis Keris)
    5.  Pedang
    6. Pedang Portugis
    7. Peudeung 
    8. PeudeungTumpang Jeungki 
    9. Piso Halasan 
    10. Sondang
    11. Tologu 
    12. Tombak Berambut 
    13. Tombak Berluk
    14. Tumbuk Lado 
    15. Tombak Raja Kampar
    16. Trisula 
    17. Umban Tali
  • Senjata Upacara Adat
    1. Gambik
    2. Keris
    3. Keris Berluk
    4. Keris Tidak Berluk 
    5.  Keris kuno
    6.  Keris Terapang
    7.  Pedang Kelewang
    8. Pisau Jantan
    9.  Rambai Ayam
  •  Senjata Berubah Fungsi
    1. Mata Dabus
    2.  Serampang Trisula
    3. Slope
    4. Trisula
  • Perkembangan Senjata Tradisional
    1. Maniatur Baluse
    2. Tameng
Ulu Kasok yang berada di Desa Koto Mesjid, Kenegerian Pulau Gadang Kecamatan XIII Koto Kampar Kabupaten Kampar mendadak menjadi viral. Tempat tersebut menjadi perhatian netizen khususnya pengguna Instagram . Tidak terhitung banyaknya kendaraan yang parkir serta banyaknya orang yang datang untuk sekedar berphoto dan berselfie di Puncak Ulu kasok.  Kata orang-orang ini Raja Ampat Riau bang, makanya kami datang kesini biar kekinian kayak orang-orang ujar Roger salah satu pengunjung yang datang dari Pekanbaru.


Keindahan alam Ulu Kasok di Desa Pulau Gadang, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar ternyata tak hanya viral di media sosial namun ternyata juga benar-benar telah mampu menarik minat belasan ribu orang datang ke puncak bukit Ulu Kasok untuk menikmati keindahan alam Danau PLTA Koto Panjang dari atas bukit yang cukup tinggi itu.


Terlihat sepintas Ulu Kasok seperti gugusan pulau-pulau di raja Ampat Papua Barat, bahkan banyak netizen menyebut Ulu kasok dengan Raja Ampat Riau bahkan menyebut Ulu kasok dengan Raja Ampat Sumatra. Namun sebagian netizen lain tidak setuju Ulu Kasok disebut dengan Raja Ampat ,
Petani Desa Pemandang Kabupaten Rokan Hulu di Riau akan menggelar pesta makan durian  di Pekanbaru. Bagi penggila kuliner khususnya Buah Durian silahkan datang dan menikmati pada Hari Minggu 18 Desember 2016 di Gelanggang Remaja Pekanbaru pada Pukul 18.00-22.00 WIB.
 
Event Ini bukanlah sekedar memakan durian  tapi lebih dari itu, yaitu menjaga sebuah kearifan lokal dari masyarakat Desa Pemandang Kabupaten Rokan Hulu. Acara ini diselenggarakan oleh Kelompok Tani Riau Lestari,  dalam acara ini akan dilakukan 'Deklarasi Haluan Anggota Kelompok Tani Riau Lestari' dan juga agenda lainnya, yaitu Pengenalan Desa Pemandang, Anugrah Kearifan Lokal, serta Pentas Seni.

Pesta durian ini menjunjung tema "Bersama Petani Kita Wujudkan Swasembada Pangan Berbasis Kearifan Lokal Masyarakat Riau". Menurut Panitia Pelaksana, durian yang disajikan merupakan durian berkualitas terbaik yaitu  durian montong dan durian mentega (durian jantung dan durian tapa).

Acara ini tidaklah gratis, panitia menawarkan tiket, dimana satu tiket untuk 1orang peserta, untuk harga Tiket Umum sebesar Rp.30.000 sedangkan VIP Rp.100.000, untuk satu paket atau sebanyak 5orang satu meja dikenakan biaya tiket Rp.150.000 dan akan diberikan 8durian untuk 5orang tersebut atau satu paket, dan jika merasa kurang dengan jumlah 8 durian tersebut, peserta  dapat menambah durian lagi, dengan syarat durian tersebut tidak diizinkan untuk dibawa pulang dan hanya untuk dimakan ditempat pelaksanaan, menurut Ela, salah satu penjual tiket ia lebih banyak menjual tiket untuk umum, menurutnya Tiket untuk umum lebih murah dan kualitas durian yang disajikan untuk tiket dan VIP adalah sama. Uang dari penjualan Tiket tersebut merupakan dana untuk durian dan juga transportasi durian dari Desa Pemandang ke Pekanbaru. 

 
                                              


Dengan pesta durian ini, para petani dapat memperkenalkan budaya kearifan lokal dan buah durian asli milik masyarakat. Untuk mengumpulkan buah durian sebanyak 4.000 buah, panitia sudah berkoordinasi dengan masyarakat desa supaya dua hari menjelang hari H, buah durian tidak boleh dijual pada siapapun.

“Untuk mendapat 4.000 durian, kami hanya kumpulkan dua hari saja, dan masyarakat desa sudah sepakat. Inilah bentuk kearifan lokal kami. Dan jangan salah, di desa itu kalaupun ada warga yang tak punya pohon durian, dia boleh menikmati durian dari tetangganya, dan gratis. Kearifan lokal inilah yang mesti kita lestarikan,” ujar Purnomo panitia pelaksana melalui percakapan telpon.
 
Sementara itu salah seorang penjual tiket, ela menyatakan bahwa ia protes karena beberapa media online memberitakan bahwa event ini berlangsung hari sabtu, ngak mungkin dong pak event ini digelar bersamaan dengan Final Piala AFF Indonesia vs Thailand.

Jika Anda penasaran mencicipi bagaimana wangi aroma dan legit lezatnya rasa durian khas Rohul silahkan datang keacara ini dan untuk pembelian tiket dapat menghubungi Ela di 082386942191. (pn)
Handphone sudah berulang kali berdering , ternyata Panggilan  dari Bapak Hendri pemilik Rumah Makan Mandi Angin sekaligus pengelola Ekowisata Sungai Kopu. Dalam percakapan telpon pak Hendri menyampaikan bahwa  Asam Pedas Baung Sungai Kampar sudah menanti kedatangan kami. Kami cukup larut dengan awan biru di sekitar Candi Muara Takus. Sungai Kopu yang menjadi tujuan perjalanan kami memiliki jarak yang tidak begitu jauh dari Candi Muara Takus. Jika Candi Muara Takus berada di kecamatan XIII Koto kampar,maka sungai Kopu berada di Desa Tanjung Kecamatan Koto Kampar Hulu Kabupaten Kampar. 


Keberadaan Sungai belum begitu familiar , tetapi belakangan keberadaan Sungai Kopu menjadi fenomenal setelah kedatangan Plt. Gubernur Riau beserta istri dan Rombongan.  Setelah puas di Candi Muara Takus kami melanjutkan perjalanan menuju Sungai Kopu. Sungai Kopu berada di sekitar Kantor Camat Koto Kampar Hulu.

                           

Dan tibalah kami di Rumah Makan Mandi Angin, Pak Hendri dan Bapak M. Yunus telah menunggu kedatangan kami, seketika Pak M.Yunus menuju boat yang akan membawa kami menelusuri Sungai Kapur, Sungai Kopu dikenal juga dengan nama Sungai Kapur dan Batang Kopu, bahasa daerah sekitar (bahasa ocu) menyebut kata kapur dengan kata kopu. Pak Yunus mempersilahkan kami menaiki boat dan untuk keamanan bersama kami semua menggunakan rompi pengaman (pelampung) yang sudah disediakan oleh pengelola wisata Sungai kopu.


Kami begitu takjub melihat panorama alam sungai kopu, hamparan batu purba yang tinggi menjulang, sungai berkelok nan indah, gemercik air, suara burung bersahutan menjadi teman perjalanan kami menelusuri Sungai Kopu, Pak Hendri sebagai pemandu wisata menjelaskan kepada kami mengenai Sungai Kopu. Kami seakan dimanjakan dan dibuai oleh hutan alami yang masih asri, tebing dan bebatuan.  Batuan yang ada memiliki bentuk yang unik, ada seperti hidung disebut batu hidung, kemudian ada bebatuan yang disebut
Batu Dagu, Batu Balai, Batu Nisan Loba, Batu Gondang, Batu Lompatan Kancil,  Batu Buayo, Batu Iduong, Batu Kangkuong, Batu Ladiong, Batu Gawik, Batu Olang Onggok.
                                  

Warna dari sungai Kapur juga berbeda dengan sungai Kampar yang menjadi muara dari sungai, sungai kapur berwarna kehijauan dan bebatuan yang berada disisi kanan dan kiri anak sungai juga berwarna hijau dan bagi yang sudah pernah ke Grand Canyon pasti sepakat jika Sungai Kopu dikatakan dengan“ Green Canyon ala Riau”.

Keramahan Pak Hendri, ketenangan dan keahlian Bapak Pak M. Yunus mengenadalikan lajunya boat membuat perjalanan kami terasa aman dan menyenangkan.
Makanan dan minuman  yang menemani malam kami di sebuah Warung Empek-empek di daerah Panam sudah habis, dan malam semakin  larut, rasa kantuk menghampiri kami semua. Demikian suasana bincang bincang singkat kami untuk bepergian ke sebuah tempat yang dalam bayangan kami cukup indah dan terisolir, jauh dari sentuhan infrastruktur maupun jaringan internet 4G. Air Terjun Batang Kapas menjadi fokus pembicaraan kami, dengan begitu antusias Arika Harmon  Ketua Persatuan Anak Negeri Pangkalan Kapas (Pangkas) berbicara mengenai potensi Kenegerian Pangkalan Kapas khususnya Desa Lubuk Bigau. Hingga akhirnya disepakati tanggal keberangkatan kami adalah dua minggu berikutnya.

Hingga akhirnya waktu yang telah ditunggu tunggu tiba, dan kami berangkat menuju Desa Lubuk Bigau, Air Terjun Batang Kapas menjadi tujuan keberangkatan kami. Selain disebut dengan Batang Kapas, kadang ataupun sebagian orang ada yang menyebut Air Terjun ini dengan nama Air Terjun Pangkalan Kapas, dan Air Terjun Lubuk Bigau. Arika Harmon Pemuda Desa Lubuk Bigau menjelaskan kepada kami bahwa air terjun Batang Kapaslah nama yang benar, air terjun ini berada di Hulu Sungai  Batang Kapas dan terletak di Desa Lubuk Bigau Kecamatan Kampar Kiri Hulu Kabupaten Kampar. Lubuk Bigau  merupakan pemekaran Desa Pangkalan Kapas bersama desa lainnya yaitu  Desa Tanjung Permai, Kampung Dalam dan Kebun Tinggi. Dahulunya beberapa desa tersebut tergabung dalam satu desa, yakni Desa Pangkalan Kapas dan karena itu jugalah air terjun ini dikenal dengan Air Terjun Pangkalan Kapas.


Disarankan untuk menuju Desa Lubuk Bigau menggunakan Mobil double gardan atau 4x4 , jika menggunakan mobil biasa ataupun mobil yang rendah kita akan kesulitan menuju Desa Lubuk Bigau  terutama jika hari hujan. Jika hujan dikhawatirkan mobil tidak akan mampu melanjutkan perjalanan dan jika ini terjadi kita dapat memarkirkan mobil di rumah warga dan kemudian  melanjutkan perjalanan menuju jasa ojek warga sekitar.

Tidak gampang untuk ke Air Terjun Batang Kapas, butuh mental dan fisik yang bagus, karena perjalanan menuju air terjun tersebut tidaklah melewati jalanan aspal yang mulus, karena kita mesti melewati jalanan berpasir dan berbatuan. Dari Kota Pekanbaru pejalanan dilanjutkan menuju Lipat Kain dengan jarak tempuh lebih kurang 1,5 s/d 2 jam, kemudian perjalanan dilanjutkan ke arah Taluk Kuantan dan sebelum Jembatan kita mengarahkan laju kendaraan berbelok kanan ke  Simpang Rakit Gadang atau yang lebih dikenal dengan Simpang Gema/ Simpang Kuntu, dan perjalanan kita lanjutkan hingga nantinya kita akan menemui persimpangan , jika kekiri kita akan menuju Desa Gema, dan arah perjalanan kita adalah ke Kanan. Lebih kurang 4 jam perjalanan ke dalam dengan berbagai kontur jalanan  yang ada yang berliku-liku dan mendaki dan menurun, jika musim kemarau maka jalanan akan berdebu, begitu pula sebaliknya jika musim hujan,meka jalan ini sangat sulit untuk dilalui. Sebelum kita sampai di Tujuan yaitu Desa terakhir yang terdekat ke air terjun Batang Kapas yaitu Desa Lubuk Bigau, kita melewati beberapa Desa di Kecamatan Kampar Kiri yaitu Desa Lipat Kain Selatan, Desa Teluk Paman Timur, Desa Tanjung Mas, Desa Sungai Rambai, Desa Padang sawah,Desa Sungai (Sei) Raja, Desa Muara Selaya, dan kemudian kita melewati beberapa Desa di Kecamatan Kampar Kiri Hulu yakni Desa Danau Sontul, Desa Tanjung Karaang, Desa Deras Tajak, Desa Batu Sasak hingga akhirnya kami tiba di Desa Lubuk Bigau. 

Warga desa Lubuk Bigau sangat terbuka dan  Keluarga  Arika Harmon  telah  menunggu kedatangan kami. Penat diperjalanan mengharuskan kami untuk beristirahat, karena esok paginya kami mesti melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Batang Kapas. Dan pagipun tiba, setelah sarapan kami melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Batang Kapas. Kami berjalan kaki melintasi kebun karet warga. Sebagian besar masyarakat Desa Lubuk Bigau bermata pencaharian sebagai Petani Karet. 

Kebun Karet Warga Desa Lubuk Bigau

Setelah melintasi Kebun Karet warga kami memasuki hutan alami yang masih perawan, rerimbunan pepohonan mengelilingi dan melindungi kami dari panas terik matahari. Udara segar serasa memenuhi setiap tarikan nafas kami. Arika pemandu kami memeritahu Perjalanan dapat ditempuh minimal 3 jam bahkan sampai 5 jam tergantung ketahanan fisik kita. Setelah berjalan kaki lebih kurang 1jam kami beristirahat di Ngalau Tada, demikian nama yang biasa disebut warga sekitar. Di Ngalau Tada kami melepas lelah sembari mengkonsumsi makanan ringan dan mengisi kembali perbekalan air minum, air minum yang kami konsumsi masih sangat alami yang berasal dari sumber mata air. Sayangnya keberadaan Ngalau Tada sedikit terusik oleh keberadaan tangan-tangan usil, ngalau tada penuh dengan coret-coretan nama.


Ngalau Tada
 
Setelah rasa lelah sedikit hilang, kami melanjutkan perjalanan. Serasa mendapat suntikan energi meskipun bahu dan punggung memikul beban perlengkapan. Perjalanan kian melelahkan tidak terhitung berapa tanjakan mapun turunan yng kami lewati, keringat cukup banyak bercucuran, jalan setapak yang kami lalui semakin terjal, bahkan harus melewati tangga kayu vertikal, dan berjalan melewati anak sungai, berjalan di bebatuan , mungkin saja ini menjadi salah satu tempat trekking yang terbaik yang ada di Riau.
Perjalanan Menuju Air Terjun Desa Batang Kapas

Ayo semangat tidak jauh lagi, hanya satu tanjakan lagi, didepan  sudah tidak ada  tanjakan atau penurunan, didepan sudah tidak ada bebatuan lagi, hanya 30 menit lagi kita berjalan kaki, demikian Ucapan dari Arika Harmon sambil memberikan semangat kepada kami, walau kami tahu sebenarnya perjalanan masih cukup panjang. Entah berapa kali kami beristirahat melepas lelah,sambil mengkonsumsi makanan ringan maupun mengisi kembali perbekalan air minum.  



Bukit dan Bebatuan yang dilewati untuk menuju Air Terjun
Dari kejauhan kami sudah mendengar bunyi air, woii air terjun kata teman yang berada di depan. Sudah pasti melelahkan, tapi rasa lelah hilang seketika ketika melihat air terjun, kami semua kagum melihat air mengalir dari atas ya lebih kurang 125meter hitungan yang kami lakukan, sayangnya saat itu sudah 1bulan tidak hujan sehingga debit air berkurang dan tentunya mengurangi ketinggian air terjun. Jika saat debit air cukup deras atau banyak mungkin saja ketinggian air terjun bisa mencapai 150meter. 



Air Terjun Batang Kapas dengan ketinggian 125meter pada saat debit air berkurang
Air Terjun Batang Kapas pada saat ebit air banyak dan diperkirakan ketinggian air mencapai 150meter
Kami beristirahat di bebatuan sambil menikmati panorama di sekitar air terjun, butiran-butiran air yang tumpah dari puncak tebing membasahi kami, dan sebagian dari kami berdiri tegak diatas permukaan batu untuk mengabadikan momen dengan vew air terjun batang kapas. Air terjun ini benar-benar masih alami dan terbilang masih jarang dijamah,  air terjun dikelilingi  hutan tropis yang lebat lagi tinggi, nyanyian burung, semilirnya angin dan bunyian percikan air serta tumpukan bebatuan yang ditumbuhi lumut yang terhampar disepanjang sisi aliran air yang telah membentuk layaknya anak sungai yang eksotis. 



Hari semakin gelap, dan kami melanjutkan perjalanan ke Bukit atas untuk beristirahat malam, dan momen ini kami gunakan untuk mengambil gambar matahari tenggelam. Kaki tebing menjadi tempat kami kami beristirahat malam, kami tidur seadanya  dengan memanfaatkan ceruk bukit untuk berlindung dan sedikit lebih  aman, terbebas dari hembusan angin. Memang butuh usaha yang tidak sedikit untuk mencapai tempat ini, tapi apa yang dijumpai juga merupakan bayaran yang sesuai. Sebuah keagungan dari alam yang sulit dicari tandingannya.

Matahari Tenggelam
Cerukan Bukit Tempat Kami Beristirahat
Istirahat semalam rasanya sudah cukup untuk mengembalikan kebugaran fisik kami, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak ke sumber air terjun tersebut.





Rasa penat kami berjalan kaki selama 4 jam terbayarkan. Air terjun ini sungguh akan membuat anda berdecak kagum. Posisinya berada disebuah tebing berbatu yang tegak setinggi tidak kurang dari 125meter jika saat kemarau atau kondisi debet air terjun kecil , bahkan jika musim hujan ketinggian air terjun dapat mencapai 160meter, bahkan menjadi air terjun tertinggi kedua di Sumatra setelah Air Terjun Siguragura yang juga merupakan air terjun tertinggi kedua di Indonesia. #Ayokeriau



Bagi yang ingin berpetualangan ke Air Terjun batang kapas Bisa menghubungi Arika Harmon di Telpon/WA : 085374932282