Tampilkan postingan dengan label ROKAN HILIR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ROKAN HILIR. Tampilkan semua postingan
Rokan Hilir dibentuk dari tiga kenegerian, yaitu negeri Kubu, Bangko dan Tanah Putih. Negeri-negeri tersebut dipimpin oleh seorang Kepala Negeri yang bertanggung jawab kepada Sultan Kerajaan Siak. Distrik pertama didirikan Belanda di Tanah Putih pada saat menduduki daerah ini pada tahun 1980. Setelah Bagansiapiapi yang dibuka oleh pemukim-pemukim Cina berkembang pesat, maka Belanda memindahkan Pemerintahan Kontroleur-nya ke Kota Bagansiapiapi pada tahun 1901. Bagansiapiapi semakin berkembang setelah Belanda membangun pelabuhan modern dan terlengkap dikota Bagansiapiapi guna mengimbangi pelabuhan lainya di Selat Malaka hingga Perang Dunia Pertama usai. Setelah kemerdekaan Indonesia, Rokan Hilir digabungkan kedalam Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau.

Kantor Bupati Kabupaten Rokan Hilir Jl. Merdeka No 58 Bagansiapiapi




Maket Kantor Bupati Rokan Hilir


Kini Kabupaten rokan Hilir khususnya Kota bagansiapiapi bersolek dan mempercantik diri dengan hadirnya berbagai bangunan terutama bangunan yang memiliki kubah , sehingga Rokan hilir dijuluki negeri seribu kubah.

Kantor Kejaksaan Negeri Bagansiapiapi

Pusat pemerintahan dipindahkan kekawasan batu enam, pusat pemerintahan ala Rokan Hilir ini mengadopsi Pusat Pemerintahan Putera Jaya di Malaysia dengan konsep pusat pemerintahan  dan pusat wisata dan permainan. Kawasan Batu enam ini berada dipinggiran Sungai Rokan, kawasan ini tertata dengan baik dan bisa dikatakan merupakan water front city terbaik di Riau. 


MUSEUM TIONGHOA BAGANSIAPIAPI

Kawasan Batu Enam menjadi pusat pemerintahan dengan dibangunnya berbagai Kantor atau instansi Pemerintahan dikawasan tersebut, Perkantoran pemerintah daerah yang dipusatkan dalam satu kawasan sekaligus tempat wisata merupakan pengembangan pembangunan daerah dengan penataan kota sehingga jika berurusan dengan pemerintah  mendapatkan pelayanan lebih mudah dan cepat dan memangkas jalur birokrasi. 


Tugu Ikan

Sepanjang pesisir sungai rokan di bibir sungai disulap menjadi tempat wisata dengan dibangun taman, cafe, aneka patung binatang yang terdapat di Rokan Hilir. Dikawasan wisata ini kita dapat melihat hamparan Sungai Rokan yang luas dan pemandangan latar belakang hutan rawa dan dari kejauhan tampak Jembatan megah Jembatan Pedamaran.










VISI PEMBANGUNAN:


Terwujudnya Rokan Hilir yang maju, sejahtera dan berdaya saing tahun 2016


MISI :
  • Memperkuat ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan
  •  Melanjutkan pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan pelayanan pada masyarakat. Memajukan sektor pertanian, industri dan jasa
  •  Memperkuat sumber daya manusia yang berkualitas dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
  •  Mewujudkan pemerintah yang handal, bersih dan berwibawa
  •  Memantapkan pembangunan masyarakat yang berbudaya melayu berlandaskan iman dan taqwa

Kantor Kejaksaan Negeri Bagansiapiapi berlokasi di komplek perkantoran Batu Enam, Kecamatan Bangko Kabupaten Rokan Hilir. Kantor Kejaksaan Negeri Bagansiapiapi ini diresmikan oleh   Jaksa Agung RI, Basrief  Arief, di Kantor Kejaksaan Tinggi Riau pada hari Senin 26 Maret 2012,sekaligus pada saat peresmian tersebut dilakukan  serah terima hibah tanah dan bangunan kantor Kejaksaan Negeri Bagansiapiapi, hibah oleh Pemerintah kabupaten Rokan Hilir sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam memotivasi kinerja aparatur Kejaksaan dalam meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat.




Taman Kota Bagansiapiapi terletak di Jalan Aman. Taman ini dibuat oleh Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir untuk mempercantik tata kota Bagansiapiapi. Dikala senja menyapa Taman Kota Bagansiapiapi ramai dikunjungi pemuda dan pemudi untuk bercengkerama dan tak ketinggalan anak-anak, di taman kota banyak tersedia permainan anak-anak. Maka tak heran kalau taman kota bagansiapiapi ini ramai di kunjungi anak-anak. Taman kota bagansiapiapi juga salah satu tempat wisata keluarga yang asyik. 


Daya tarik lain adalah adanya berbagai patung binatang seperti rusa, gajah, bangau, dan harimau,kolam ikan dan  air mancurnya yang membuat suasana bertambah dingin dan semakin asri.


Meski telah wafat 2008 lalu di Kota Paris, ibu kota Prancis pada usia 100 tahun, Salim adalah seorang pelukis Indonesia yang telah menetap lama di Prancis. Maestro seangkatan pelukis Affandi ini walaupun sering disebut dari Medan (kota besar pesisir Sumatera Timur zaman itu), sebenarnya terlahir di Bagansiapi-api, 3 September 1908 dan meninggal di Prancis 14 Oktober 2008 .





Pelukis Salim telah berpulang ke Rahmatullah tanggal 13 Oktober 2008 pukul 17:15 waktu setempat. Pelukis Salim meninggal dunia di rumah sakit Neuilly Sur Seine-Paris, Prancis, dalam usia 100 tahun 1 bulan 10 hari. Sampai saat terakhir pikiran beliau masih cerdas, malah menanyakan berapa skor pertandingan sepak bola antara Prancis dan Rumania. Salim telah mempererat hubungan Perancis dan Indonesia melalui karyanya.

Salim beribukan orang Melayu Bagansiapi-api bernama Nuraini dan berayah seorang Melayu keturunan Persia bernama Salahuddin. Salim kecil merantau ke Medan di umur 11 tahun namun tak lama menetap di sana. Perjalanan hidupnya berpindah-pindah dari Medan ke Belanda yang dibawa oleh sepasang orang tua angkat berkebangsaan Jerman-Belanda, dan pada umur 20 tahun menetap di Prancis. 


salim
Dalam sebuah kutipan yang ditulis website dari Canada http://www.cyberpresse.ca yang dimiliki LA Presse (Cyberpresse Inc. Montreal Canada) menyebutkan, walaupun diaa telah lama hidup di dunia Barat/Eropa, tetapi dia tidak kehilangan akar asalnya dalam melukis. Website itu juga memberitakan bahwa karya-karyanya telah banyak dipamerkan di Amsterdam, Paris, Jenewa dan bahkan di Jakarta.


Bahkan Association Franco-Indonesienne dalam website-nya menyebutkan: Begitu sedihnya berbagai pihak tentang kematian Salim yang dianggap sebagai manusia yang humanis, seorang teman, murah hati, lucu, suatu vitalitas meluap, dan sering membuat orang penasaran.
Selama kurun waktu akhir tahun 1800an hingga tahun 1930 industri perikanan bagansiapiapi mengalami puncaknya. Kekayaan udang dan ikan di Sungai Rokan melimpah ruah,harga garam saat itu murah sehingga industri Ikan Asin tumbuh dan berkembang di Bagansiapiapi dan permintaan ikan di Jawa juga meningkat, saat itu ikan-ikan di Jawa didatangkan dari bagansiapiapi. Era keemasan industri perikanan di bagansiapiapi tidak berlangsung lama karena adanya pendangkalan di muara sungai rokan sehingga jumlah ikan di Bagansiapiapi berkurang. Namun disaat jumlah ikan yang berkurang ,jumlah udang semakin banyak, sehingga disaat itu ekspor terasi semakin meningkat,karena terasi dibuat dari udang, dan saat itu juga harga garam sangat mahal. Pemerintah disaat itu menunjuk suatu perusahaan di Bagansiapiapi untuk mendistribusikan garam dengan harga tetap dan juga pemerintah membuat sebuah kebijakan untuk menstabilkan harga garam sehingga Industri dan ekspor perikanan di bagansiapiapi kembali tumbuh.

Bangunan Kantor Bank Bagan Maju, yangkini menjadi Rumah Dinas BRI Bagansiapiapi


Untuk menunjang perekonomian kota Bagansiapiapi pemerintah disaat itu membentuk suatu bank yang memberikan pinjaman dengan suku bunga yang rendah dengan tujuan untuk menghindarkan rakyat Bagansiapiapi dari lintah darat. Bank ini didirikan pada tahun 1917 dengan nama De Visscherij Bank “Bagan Madjoe”.atau biasa di sebut bank Bagan Majoe (Bank Bagan Maju). Di kemudian hari Bank Bagan Maju menjelma menjadi BRI, dan menjadi Kantor Cabang BRI (Bank Rakyat Indonesia) kedua di Indonesia. BRI Cabang Bagansiapiapi memiliki kode Cabang dengan nomor 2 yang menandakan bahwa BRI Bagansiapiapi adalah Kantor Cabang Kedua di Indonesia.


Lion Hotel
Jl. Mawar No. 7, Bagansiapiapi-
Phone: (0767) 25551, (0767) 25552
Fax : (0767) 25098
Our email is: info@lionhotel.co.idThis e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it 

Hotel Bagan
Jl. Sentosa No.24 Bagansiapiapi
Nomor Telpon: 0767-21888
Tarif : Rp.135.000-Rp.500.000

Hotel Kades Bagan
Jl. Sentosa No.25 Bagansiapiapi
Nomor Telpon: 0767-22139
Tarif : Rp.200.000-Rp.380.000

Bermula dari tuntutan kualitas hidup yang lebih baik lagi, sekelompok orang Tionghoa dari Propinsi Fujian - Cina, merantau menyeberangi lautan dengan kapal kayu sederhana. Dalam kebimbangan kehilangan arah, mereka berdoa ke Dewa Kie Ong Ya yang saat itu ada di kapal tsb agar kiranya dapat diberikan penuntun arah menuju daratan. Tak lama kemudian, pada keheningan malam tiba2 mereka melihat adanya cahaya yang samar-samar. Dengan berpikiran dimana ada api disitulah ada daratan, akhirnya mereka mengikuti arah cahaya tersebut, hingga tibalah mereka di daratan selat Melaka. Mereka yang mendarat di tanah tersebut sebanyak 18 orang, diantaranya : Ang Nie Kie, Ang Nie Hiok, Ang Se Guan, Ang Se Pun, Ang Se Teng, Ang Se Shia, Ang Se Puan, Ang Se Tiau, Ang Se Po, Ang Se Nie Tjai, Ang Se Nie Tjua, Ang Un Guan, Ang Cie Tjua, Ang Bung Ping, Ang Un Siong, Ang Sie In, Ang Se Jian, Ang Tjie Tui. Mereka inilah yang kemudian dianggap sebagai leluhur Bagansiapiapi.



Di daerah yang baru mereka tempati (bagansiapiapi) mereka menemui banyak ikan, dengan ikanlah mereka bertahan hidup hingga beranak pinak dan  mereka juga mengajak keluarga dari negeri tirai bambu datang kebagansiapiapi, sehingga jumlah masyarakat Tionghoa kian banyak.



Setelah sekian lama menetap di Bagansiapiapi pada tahun 1875 masyarakat Tionghoa disana membangun sebuah kelenteng dan diberi nama Kelenteng In Hok Kiong. Pada 1928 kelenteng ini dibuat secara permanen. Disinilah Dewa Kie Ong Ya disembahyangkan secara utuh/asli saat leluhur pertama kali menginjak kaki di tanah Bagansiapiapi. 


Hingga saat ini Kelenteng In Hok Kiong digunakan untuk aktivitas keagamaan dan ritual lainnya, seperti cap go meh, tempat pelaksanaan ritual kematian, serta tempat dimulainya pengarakan replika tongkang dalam acara festival bakar Tongkang.




Bangunan Rumah Kapitan Di Bagansiapiapi merupakan warisan budaya dengan arsitektur paduan gaya Tradisional Tionghoa dan Melayu yang sesungguhnya perlu dirawat, dijaga dan dilestarikan. Di Bagansiapiapi terdapat beberapa rumah Kapitan namun tidak terawat,bahkan beberapa rumah kapitan lainnya telah dihancurkan dan kini dilokasi tersebut telah dibangun Ruko. Rumah Kapitan Tua Marga NG milik Kapitan NG I Tam, merupakan salah satu Rumah Kapitan yang tersisa di Kota Bagansiapiapi , rumah Kapitan tersebut didirkan pada awal tahun 1900.

Rumah Kapitan marga NG. Orang bagansiapiapi menyebutnya dengan Kapitan NG I Tam

Di balik Bangunan Rumah Kapitan tua nan reot dan lapuk yang berdiri kokoh hampir lebih satu Abad lamanya tersebut merekam jejak kenangan yang menunjukkan suatu catatan penting sistem Kekuasaan Opsir ( Kapitan ) Tionghoa berkuasa pada masa silam di kota Bagan Si Api-api. Kapitan Tionghoa merupakan sebutan yang diberi dan diciptakan oleh sistem Pemerintahan Kolonial Belanda dalam upaya mengendalikan dan mengatur komunitas masyarakat Tionghoa. 
Terlihat Ornamen Tionghoa yang menghiasi Pintu Rumah Kapitan



Masjid Al Ikhlas merupakan masjid kebanggaan masyarakat kota Bagansiapiapi, bentuk bangunannya unil Ala Eropa dengan banyak kubah serta 4 menara yang menjulang  tinggi yang melambangkan kebesaran-Nya.  


 Mesjid ini terletak di Jalan Utama kota Bagansiapiapi persis di sebelah Makam Pahlawan. Mesjid ini juga berfungsi sebagai Islamic Centre Kabupaten Rokan Hilir. 


Gedung Dekranasda Rokan Hilir berada di jalan Merdeka Bagansiapiapi, persis didepan Kantor Bupati Rokan Hilir.



Di Gedung Dekranasda ini terdapat hasil kerajinan dan souvenir khas  Rokan Hilir, diantaranya Songket buatan tangan putri Rohil yang dibuat dengan menggunakan cara tradisional yaitu menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).




Pada awal tahun naga tahun 1928 terjadi kehebohan di Kota Bagansiapiapi. Yang menjadi sasaran adalah tempat-tempat perjudian, tempat minum-minuman keras, rumah-rumah bordil, tempat pengisapan candu dll.

Ditempat pelacuran terdengar suara orang sedang mandi dikamar mandi,ketika dilihat tidak ada orang yang sedang mandi. Di tempat perjudian batu-batu mahyong berputar-putar sendiri sehingga menimbulkan kegaduhan. Di kedai kopi terlihat kaki manusia diatas meja. Para biksu agama Budha Bagansiapiapi tidak dapat mengatasi keadaan ini, maka diundanglah biksu  Budha dari Singapura dan Taiwan, menurut mereka yang menganggu itu adalah roh-roh orang yang mati sesat dilaut.

Tugu Perjanjian Syetan dan Manusia di Kota Bagansiapiapi

Untuk mengatasi keadaan tersebut para biksu dari Singapura dan Taiwan mengadakan perjanjian dengan syetan-syetan penasaran. Syetan-syetan itu diberikan kesempatan menghibur diri selama satu minggu. Di seluruh pelosok kota Bagansiapiapi didirikan tempat-tempat hiburan simbolik terbuat dari bambu dan kertas, ada kedai kopi,ada tempat pengisapan candu, perjudian dan lain lain. Semuanya terbuat dari bambu dan kertas secara simbolik. Ada panggung sandiwara, ada rumah bordir dengan wanita PSK-Nya, ada kedai kopi, ditempat-tempat inilah para syetan dipersilahkan menghibur selama satu minggu.


Gedung IPDN Kampus Rokan Hilir terletak di Eks Gedung DPRD Kabupaten Rokan Hilir yang berada di Jalan Lintas Riau-Sumut  Km 167 Banjar XII Ujung Tanjung Kecamatan Tanah Putih. Kampus ini berdiri megah dan ini merupakan kampus IPDN yang termegah yang ada di Indonesia.

Bagian Depan Gedung IPDN Kampus Rokan Hilir



Laboratorium Ilmu Pemerintahan dan Perpustakaan
 
Puisi Jazirah : Tak lebih dari konstruksi kebudayaan Melayu yang diintrodusir melalui lembaga pendidikan tematik seperti IPDN. Mendekatkan calon birokrat ke wilayah akal budi dan mata fikir kebudayaan tempatan. Sebuah ikhtiar pencangkokan silang kebudayaan bagi praja seluruh pelosok Indonesia, agar kian bijak dan bajik dalam kehidupan yang bukan fenomena tunggal ini

Kuala Rokan kosmoforinya adala...h muara seolah berbentuk tanduk, Adalah wujud lain dari jazirah fisikal di Riau.

Ujung Tanjung tempat kampus IPDN bertapal, sebuah penamaan alegoris dari kata jazirah di dalam kawalan tanjung-tanjung Sei Rokan yang lebar raksasa itu

Di dalam sungai itu ada kehidupan dan kebudayaan manusia

Ini salah satu jazirah tradisi Naqsyabandiah hilir mudik, memikul citra ilahiah (YUSMAR YUSUF)
Jumat tanggal 23 Maret dan Sabtu 24 Maret 2012 beberapa penyair asal Riau diundang untuk membaca puisi ke Kabupaten Rokan Hilir. Perhelatan ini ditaja oleh Dewan Kesenian Riau, Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir, IPDN, acara ini dimaksud akan menambah cahaya di Kota Cahaya Bagansiapiapi.
Bagan Siapi-api lebih terkenal sebagai kota nelayan dan kota galangan kapal. Tahun 1928, surat kabar De Indische Mercuur menulis bahwa Bagansiapiapi adalah kota penghasil ikan terbesar kedua di dunia setelah kota Bergen di Norwegia. Dengan industri perikanan trersebut membuat kota Bagan Siapi-api menjadi sebuah kota modern di tahun 1934 dengan kelengkapan kota seperti fasilitas pengolahan air minum, pembangkit tenaga listrik ataupun unit pemadam kebakaran. Sehingga orang belanda menyebutnya Ville Lumiere (Kota Cahaya).

Kapal-kapal produksi Bagan Siapi-api merupakan salah satu kapal-kapal terhebat buatan nelayan Indonesia bersama Phinisi Bugis. Kapal Bagan dapat mengarungi berbagai jenis karakteristik lautan sehingga digunakan sampai ke pulau Jawa, Nusa Tenggara dan Maluku. Selain itu, kapal Bagan bahkan digunakan oleh nelayan Srilanka, India maupun Amerika. Ketentuan perundang-undangan kehutananlah yang menyebabkan industri galangan kapal Bagan Siapi-api menjadi mati suri.

Bagan Siapi-api yang dahulunya lebih terkenal daripada Pekanbaru, kini pun kembali menjadi terkenal ke seluruh antero Indonesia berkat dibangunnya kampus IPDN  yang berada di Banjar XII, Kecamatan Tanah Putih. Daerah itu biasa disebut Ujung Tanjung. Ujung Tanjung, ya itu berarti berada di ujung terujung yang menjadi Indonesian point of view. Ujung Tanjung menjadi pusat perhatian seluruh rakyat Indonesia secara umum, seluruh Sumatera secara khusus. Ujung terujung dari sebuah tanjung ataupun Jazirah yang merupakan tanah yang menganjur ke laut seakan-akan merupakan sebuah pulau.

Matrock menjadi dengan musik instrument melayu menjadi pembuka di Acara Puisi Jazirah



Pulau Jemur (luas 250 ha) adalah sebuah pulau milik Indonesia yang terletak di Selat Malaka, dekat dengan perbatasan Malaysia. Pulau ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau. Pulau Jemur terkenal dengan panorama alam seperti pantai berpasir putih dan sebagai habitat penyu hijau


Pulau Jemur terletak lebih kurang 45 mil dari Kota Bagansiapiapi ibukota Kabupaten Rokan Hilir. Pulau Jemur merupakan rangkaian dari gugusan pulau-pulau yang terdiri dari beberapa buah pulau antara lain, Pulau Tekong Emas, Pulau Tekong Simbang, Pulau Labuhan Bilik serta pulau-pulau kecil lainnya.

Semah Laut adalah Ritual pemujaan laut. Di daerah Riau, Ritual Semah Laut dapat kita jumpai di daerah Panipahan Rokan Hilir, Bengkalis, Tembilahan serta daerah lain terutama di pesisir. 

Di Panipahan Rokan Hilir, ritual Semah Laut ini dilakukan oleh para nelayan dan acar dipimpin oleh Bathin, mereka menggunakan pakaian khas berwarna kuning, dan ritual diiringi mantra yang dikemas dalam lagu serta diiringi bunyi gendang, gong dan alat musik tradisional lainnya.


Tujuan dilakukannya ritual Semah Laut atau pujaan terhadap laut, agar hasil tangkapan ikan nelayan dapat banyak.
Di laut diyakini banyak ditemukan makhluk halus yang biasa disebut mambang ataupun jin, mambang ataupun jin ini dianggap datang mendatangkan bahaya bagi para pelaut atau nelayan. Dan untuk menghindari makhluk halus ini maka diadakanlah suatu upacara yang dikenali sebagai semah laut.

Dalam ritual semah laut ini, peserta ritual semah laut memperagakan beberapa gerakan ilmu bela diri dan mereka saling berkelahi, dan juga ada peserta yang mengalami kesurupan karena dirasuki oleh makhluk halus.




TUANG MINYAK


BAKAR HIO

HIO JALANAN

GOTONG TONGKANG

SEBAR KERTAS

BAKAR TONGKANG

LOYA TONGKANG

Dokumentasi : Flickr Imam Hartoyo
KELENTENG DI KOTA BAGANSIAPIAPI
RUMAH SAKIT DI KOTA BAGANSIAPIAPI (TAHUN 1950an)

RUMAH WARGA BELANDA DI KOTA BAGANSIAPIAPI (TAHUN 1950AN)
GEREJA DIKOTA BAGANSIAPIAPI DITAHUN 1950AN
RUMAH WARGA BELANDA DI KOTA BAGANSIAPIAPI (TAHUN 1950AN)

Sumber :
Dokumentasi Photo Pribadi Milik Warga Belanda yang pernah tinggal di Bagansiapiapi di Tahun 1950an