Puluhan  ikan Koi  berseliweran di parit yang temboknya serta Trotoar di Sekitar parit tersebut di cat warna warni dan spontan Pemandangan unik ini menjadi viral bagi warga Kota Pekanbaru




Trotoar dan drainase ini persis berada di depan Kantor Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Riau Jalan Jendral Sudirman Pekanbaru. Sekitar 30 ekor Ikan Koi ini disebar di parit tersebut, Parit ini menjadi habitat Ikan Koi dan pada parit tersebut diberi pembatas berupa jaring kecil dengan tujuan Ikan tersebut tidak berpindah ke Parit lain, Pemandangan ini menjadi viral bahkan pantauan kami disekitar Trotoar tersebut terlihat beberapa Kendaraan terparkir hanya untuk berswaphoto dan juga memberi makan ikan tersebut.


Sayangnya air dalam parit tersebut tidak terlalu jernih sehingga keberadaan Ikan tidak terlihat begitu jelas. 

Keberadaan Ikan dalam parit di Indonesia merupakan fenomena yang hampir ada di setiap daerah , seperti di Bandung, Banyuwangi dan Yogyakarta, namun di Riau ataupun Pekanbaru ini adalah yang pertama dan semoga Drainase lain dapat disulap menjadi tempat habitat ikan.

Menurut Indra Agus Lukman Kepala Dinas ESDM Provinsi Riau , ide parit unik ini berasal dari Gubernur Riau dan Wakil Gubernur Riau ketika mereka melihat hal demikian di Luar Kota (#)


Museum Sang Nila Utama Provinsi Riau menggelar Pameran Bersama Museum se-Sumatera, Pameran bersama museum se-Sumatera ini berlokasi di Museum Sang Nila Utama  yang terletak  di Jl. Jenderal Sudirman Pekanbaru. Pameran berlangsung sejak tanggal 26 September hingga 24 Oktober 2019 dari pukul 08.30 sampai dengan 17.00 WIB. Pameran Bersama Museum Sumatera menggelar Pameran Senjata Tradisional Se-Sumatera dan Pameran yang di Pekanbaru ini adalah Pameran Museum Bersama yang ke 5 dan sebelumnya telah dilakukan di Provinsi yang berbeda dan tiap Provinsi bergilir menjadi Tuan Rumah. Pada Pameran kali ini memamerkan sebanyak 79 senjata tradisional yang  berasal dari Aceh 7 koleksi, Sumatera Utara 12 koleksi, Sumatera Barat 8, Riau 16 koleksi, Jambi 7 koleksi, Bengkulu 12 koleksi, Sumatera Selatan 9 koleksi dan Lampung 8 koleksi.

Pameran Museum ini diikuti oleh 8 Museum Provinsi di Sumatera yaitu Museum Sang Nila Utama Riau selaku Tuan Rumah,  Museum Negeri Nagroe Aceh Darussalam, Museum Negeri Sumatera Utara,Museum Adityawarman Sumatera Barat, Museum Siginjei Jambi, Museum Negeri Bengkulu,Museum Bala Putera Dewa Sumatera Selatan, Museum Ruwa Jurai Lampung



Pameran Bersama Museum se- Sumatera ini bertajuk "Senjata Tradisional Sumatera" dengan tema Senjata Tradisional Dalam Bingkai Kehidupan Sosial dan Budaya Masyarakat Sumatera. Berdasarkan pantauan kami Pameran bersama ini cukup di repon masyarakat Pekanbaru dan seitarnya, terutama Pelajar yang ada di pekanbaru, Ela salah satu pelajar SD di pekanbaru menuturkn bahwa ia mendapat tugas dari Guru untuk melihat pameran dan juga mencatatnya. Ibu Agustina Guru Pendamping Ela menuturkan kami cukup berterima kasih kepada Dinas kebudayaan Riau yang menggelar Pameran Bersama ini, cukup banyak tambahan pengetahuan bagi kami, minimal kami menetahui dan melihat langsung Senjata senjata yang ada di Pulau Sumatera.

Senjata Tradisional Upacara Adat Se-Sumatra
Pameran Senjata Tradisional Sumatera ini dapat digolongkan atas :
  • Senjata untuk mengolah makanan merupakan senjata yang digunakan untuk mengolah makanan berupa senjata tajam untuk memotong hewan atau tumbuhan.
  •  Senjata untuk berburu.
  • Senjata untuk membela diri.
  • Senjata untuk menyerang
  • Senjata untuk upacara adat
  • Perubahan Fungsi Senjata dipakai untuk beberapa fungsi lainnya seperti pertunjukan debus/dabus.
  • Perkembangan senjata tradisional, yaitu perubahan nilai dan fungsi senjata yang digunakan sebagai hadiah (souvenir), hiasan, lambang daerah, tugu.

Senjata koleksi dalam Pameran Senjata Tradisional se-Sumatera 2019
  • Senjata Mengolah Makanan
    1. Parang Enggano
    2. Parang Pendek
    3.  Palitei
    4.  Pisau Tumbuk Lado
    5. Sumateralith Kapak Genggam
    6.  Parang Pendek


      Senjata Tradisional Berburu se SumateraAdd caption

  •  Senjata Berburu
    1. Buk-buk
    2. Mata Tombak
    3. Panah
    4. Panah Sakai
    5. Serampang Mata Satu 
    6. Serampang Mata Tiga 
    7. Sumpit 
    8.  Sumpit Suku Sakai
    9. Tombak 
      Senjata Tradisional Membela Diri se Sumatera


  • Senjata Membela Diri
    1. Badik
    2.  Kerambit
    3.  Kuduk
    4. Pedang Palembang
    5. Pengganda Berukir
    6. Pudoi
    7. Pukulan Kayu Runggam 
    8. Rencong 
    9. Skin
    10. Tameng 
    11. Tombak 
    12. Tongkat Sumam
      Senjata Tradisional menyerang se Sumatera

       
  •  Senjata Menyerang
    1.  Beladau
    2. Gala Rimbau
    3. Jenawi
    4. Keris (Tiap Daerah di Sumatera memiliki berbagai jenis Keris)
    5.  Pedang
    6. Pedang Portugis
    7. Peudeung 
    8. PeudeungTumpang Jeungki 
    9. Piso Halasan 
    10. Sondang
    11. Tologu 
    12. Tombak Berambut 
    13. Tombak Berluk
    14. Tumbuk Lado 
    15. Tombak Raja Kampar
    16. Trisula 
    17. Umban Tali
  • Senjata Upacara Adat
    1. Gambik
    2. Keris
    3. Keris Berluk
    4. Keris Tidak Berluk 
    5.  Keris kuno
    6.  Keris Terapang
    7.  Pedang Kelewang
    8. Pisau Jantan
    9.  Rambai Ayam
  •  Senjata Berubah Fungsi
    1. Mata Dabus
    2.  Serampang Trisula
    3. Slope
    4. Trisula
  • Perkembangan Senjata Tradisional
    1. Maniatur Baluse
    2. Tameng
Salah satu gedung Tua di Pekanbaru. Gedung ini merupakan Museum Penyiaran RRI Pekanbaru. 


Dulunya gedung ini merupakan Gedung RRI Pekanbaru dan saat ini sudah beralih fungsi menjadi Museum Penyiaran, sayangnya museum ini selalu tutup.

Gedung ini dibangun pada tahun 1930 dan merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda di Pekanbaru yang masih tersisa hingga saat ini. Keberadaan gedung RRI Pekanbaru diikuti oleh peristiwa sejarah mulai dari periode pemerintahan kolonial Belanda, pendudukan tentara Jepang, perjuangan Kemerdekaan RI, sampai dengan periode pemberontakan PRRI di Sumatera. Selama 11 tahun (1931-1942), gedung RRI Pekanbaru ini berfungsi sebagai Kantor Controleur Belanda (Komplek Perkantoran Gubernur Jenderal Belanda), merupakan tempat kedudukan Controleur Kampar Kiri yang dipindahkan ke Pekanbaru. Selama 3 tahun (8 Maret 1942 - 15 Agustus 1945), gedung RRI Pekanbaru dijadikan rumah kediaman Riau Syucokan Makino Shuzaburro, seorang Gubernur dari Militer Jepang yang mengepalai Riau Syu dan berkedudukan di Pekanbaru. Pada 1 Maret 1957, gedung ini difungsikan sebagai pusat pemberitaan oleh Tim PENAD (Penerangan Angkatan Darat) dengan tenaga dari RRI Pusat yang dipimpin oleh Kapten Syamsuri dari RTPI Jakarta dalam upaya untuk membebaskan rakyat di wilayah Riau daratan dan Riau lautan yang ketika itu dikuasai oleh Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Tahun 1958, penggunaan gedung diserahkan kepada RRI. Gedung ini berada di pertigaan Jalan Ahmad Yani dan Jalan Juanda Pekanbaru. 







Pekanbaru dulunya merupakan salah satu pusat Bisnis di Sumatra, dan ini dibuktikan dengan hadirnya Perbankan di Kota Pekanbaru. Bangunan Tua di Jalan Ahmad Yani (dahulu Jalan Bangkinang) merupakan saksi bisu hadirnya sebuah Bank di Kota Pekanbaru, Bangunan tersebut dulunya merupakan Kantor Cabang Bank Nasional, kini Bangunan tua tersebut sudah tidak terawat dan terakhir bangunan tersebut merupakan Kantor Oditurat Militer I-03 Unit Pelaksana Teknis Pekanbaru.









Bank Nasional Abuan Saudagar didirikan pada 27 Desember 1930 di Bukittinggi, dan kiprah Bank ini di Perbankan Nasional berakhir pada  Oktober 1999 dengan nama PT. Bank Nusa Nasional sebagai bank take over (bto) yang dimerger pemerintah bersama 11 bto lainnya menjadi Bank Danamon.