Di Kabupaten Kuantan Singingi, musik tradisional disebut rarak. Rarak bukan saja berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai sarana untuk meluapkan emosi. Kata rarak paling tidak merujuk kepada tiga hal. Pertama di tunjukkan kepada alat musik tradisional, yaitu oguang (gong), gondang (gendang), barabano (rebana) dan celempong. Kedua, kata rarak menunjukkan jenis dan perangkat atau kesatuan dari gabungan bunyi alat-alat tersebut.
Tersebutlah nama Elang Pulai,nama yang tidak begitu Asing bagi masyarakat Pangean dan nama Elang Pulai diabadikan menjadi sebuah Tugu. Sebelum TNI resmi dibentuk , Nusantara sudah memilki pasukan perang yang berjuang melawan penjajah Di Pangean, tersebutlah pasukan Elang Pulai.
Pada 5 Januari 1949 Pukul 10.00, pasukan payung
kolonial Belanda mendarat di Rengat, ibukota Kabupaten Indragiri.
Pertempuran pun tak terelakkan lagi. Pemerintah kabupaten dan rakyat dengan mengambil tempat di balai adat
Koto Tinggi Pangean yang diprakarsai oleh Ja’far Thaher selaku wali
militer bersama pemuka adat, alim ulama guru silat dan lainnya membentuk
kesatuan gerilya Pangean dengan nama Elang pulai pada 25 Januari 1949.
Menurut sejarah, seekor burung elang yang keramat, bersarang di pucuk
kayu pulai yang tumbuh di ujung taye, yaitu tempat yang dikeramatkan
karena tempat berpendamnya para guru silat pangean, tempat yang lazim
diziarahi orang sampai sekarang. Setiap pasukan Elang pulai yang akan
diberangkatkan ke medan perang, berziarah terlebih dahulu ke ujung Taye,
berharap berhasil dan kembali dengan selamat.
Tanggal 5 Maret 1949 pasukan elang punai dipimpin oleh Harun Haban
dan Intan Judin dengan 70 anggota diberangkatkan dari surau godang Teluk
Pauh Pangean pukul 10.00, dilepas oleh pemuka masyarakat termasuk rang
(Orang) padek-padek. Dalam pengepungan dan penyerbuan pasar Cirenti,
pasukan elang pulai dibagi tiga regu, untuk regu satu jurusan timur,
dipimpin oleh Harun Aban, regu dua dipimpin oleh musmil untuk jurusan
dan regu tiga di selatan dipimpin oleh Intan Judin. Pukul 00.30 hari itu
terjadi kontak senjata dengan dahsyat berlangsung sampai fajar terbit.
Pada 15 April 1949 Belanda datang dan masuk di Koto Rajo menuju
penahan pasukan elang pulai di pematang pangean sepuluh hari, dan
terjadi pertempuran sengit. Dalam pertempuran ini, pasukan Belanda
mundur ke Koto Rajo. 3 orang pasukan elang terjebak, Leman Ransu, Mail
Birit, dan Dujang. Leman dan Mail ditembak mati sedangkan Dujang
dipukuli hingga pingsan.
Tanggal 28 Mei 1949 sang merah putih tetap berkibar di dua tempat. Di
kasana kayu batu dan pekan Selasa. Di Pembatang Balung berada staf wali
militer Jaafar Thaher dan Wedana Amiruddin oleh tentara Belanda
diadakan pengepungan terhadap kekuatan elang punai waktu itu adalah
Musmil, Syamsudin dan Lasin Gomuk yang beranggotakan sebanyak 60 orang.
Belanda meneruskan penyerangannya sampai ke Rawang Binjai.
Selama bulan Juni 1949 Belanda bertemu dengan dua orang pasukan elang
punai yaitu A. Muin dan Umar Burhan di Rawang Binjai. Umar ditembak
mati dan Muin berhasil meloloskan diri, kegiatan operasi tentara Belanda
selain membakar dan merampas, telah berhasil menembak 2 orang lagi
yaitu Samsu dan Musa di sungai pangean.
Setelah mendapat informasi bahwa pasukan elang punai berada di Pauh
Angit, Amir Ranjau bersama militer bersenjata britis menuju kesana.
Melalui pengepungan, mereka berhasil menagkap komandan elang
pulai-Zainal Abidin berikut 6 orang anggota yaitu Lasin Gomik, M. Yusuf,
Hadap, Bujang, Ali Negara dan Raja Ewa. Senjata mereka dilucuti dan
mereka diangkut ke Baserah, menuju Taluk Kuantan, Air Molek dan Rengat
sebagai tawanan perang. Tetapi mereka dikembalikan ke pasukan republik
karena tidak dibenarkan melakukan penangkapan dan tindakan lainnya
karena di negeri Belanda sedang melaksanakan konferensi meja bundar.
Akhirnya perjuangan ini disudahi dengan syukuran makan bersama
dihibur dengan rarak bertalempong dan dikumandangkan lagu rimba raya
sebagai lagu perjuangan rakyat pangean, yang diciptakan oleh Sulaiman
Isma’il dengan nama panggilan Leman Kaomato, berirama lagu Pantai
Padang.
Tiga orang tentara yang gugur dimakamkan di Taman Makam Pahlawan
Kusuma Darma di Pekanbaru. Tanggal 29 Desember 1949 dibangun tiga tugu
pahlawan elang pulai yang terletak di pematangan oleh rakyat pangean
dengan pemerintahan RI sebagai bukti sejarah perjuangan rakyat
kenegarian Pangean di Indragiri Hulu. Tugu pahlawan ini masih bediri.
Demikian sekelumit dari perjalanan perjuangan masyarakat Pangean melalui kesatuan gerilya elang punai dalam usaha ikut mempertahankan proklamasi 17 Agustus dari ancaman kolonial Belanda.
(Sumber : https://bahanamahasiswa.co/pasukan-gerilya-elang-pulai-pangean/)
Seiring perjalanannya, pasangan suami istri ini mulai menurunkan keahlian silat mereka. Pada awalnya, silat hanya diajarkan di kalangan keluarga. Gadi Ome menurunkan ilmu silat menurut suku yang ada padanya (matrilineal). Sedangkan Bagindo Rajo menurunkan ilmunya kepada kemenakan dari keturunan ibu. Datuk Untuik adalah orang yang pertama menjadi murid Bagindo Rajo. Datuk Untuik diangkat menjadi murid karena Bagindo Rajo memiliki hutang budi terhadap ayahnya, Tan Garang. Kala Bagindo Rajo menuntut ilmu ke Lintau, Tan Garang merupakan orang yang menjaga Gadi Ome di kampung halaman. Dari Datuk Untuik, ilmu silat kembali diturunkan ke Pendekar Malin, Maliputi, Pak Ngacak, dan Menti Kejan. Keempat murid pertama Datuk Untuik ini kemudian diangkat menjadi Induak Barompek, gelar tertinggi yang dipakai dalam persilatan ini sampai sekarang. Mereka merupakan kelompok guru yang bertugas untuk menjaga kemurnian dan menurunkan ilmu silat Pangean.
Secara umum silat pangean dikelompokkan dengan beberapa bagian yaitu: 1. Silek Tangan (silat tangan kosong),2. Silek Podang (silat dengan menggunakan senjata pedang),3. Silek Parisai (silatyang menggunakan senjata pedang dan perisai). Silat Pangean dikenal dengan gerakan yang lembut dan gemulai namun menyimpan kekuatan yang mematikan. Hal ini merupakan ciri dari gerakan silat pangean yang tidak hanya diandalkan pada teknik gerakan, namun lebih disertai oleh suatu refleksitas yang tinggi yang mudah terjadi karena suatu keyakinan dan keteguhan ilahiah seorang pesilat. Persebatian antara raga dan jiwa yang berserah pada Tuhan Yang Maha Kuasa, menciptakan gerak lembut dan tenang tetapi berisi kekuatan yang dahsyat. Setiap orang yang ingin memasuki Pencak Silat Pangean harus melalui serangkaian proses dan memenuhi syarat-syarat untuk bisa bergabung.
Persyaratan yang diperlukan untuk memasuki Pencak Silat ini antara lain ayam jantan satu ekor, beras segantang, kain putih, putik limau manis, pisau sebilah, dan cincin perak. Beberapa faktor yang mempengaruhi orang untuk memasuki pencak silat Pangean diantaranya adalah untuk melindungi diri, karena Pencak Silat dimaknai sebagai seni beladiri atau seniuntuk mempartahankan diri. Kemudian di dalam Pencak Silat terdapat unsur-unsur keagamaan yang mengajarkan untuk selalu bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, Faktor lainnya, karena Pencak Silat ini masih tertutup, kebanyakan anggota yang bergabung dalam Pencak Silat ini bermula dari seseorang yang mereka kenal mengajak mereka.
Sebelum memulai proses latihan setiap anggota Pencak Silat diwajibkan untuk mengenakan atribut yaitu berupa peci dan kain samping. Anggota Pencak Silat yang tidak mengenakan atribut tidak diperbolehkan mengikuti sesi latihan namun tetap diperbolehkan masuk dan duduk di balai silat. Teknik-teknik dan gerakan dasar yang diajarkan dalam Pencak Silat Pangean ini memiliki empat gerakan dasar yaitu langkah empat. Langkah empat merupakan empat langkah dasar yang digunakan dalam Pencak Silat Pangean untuk bertahan dan menyerang. Teknik dasar dalam Pencak Silat Pangean yang digunakan untuk menyerang yaitu menggayung, memopat dan menikam. Pencak Silat Pangean memiliki struktur yang posisinya akandipilih oleh guru Pencak Silat itu sendiri. Posisi itu antara lain adalah guru, wakil guru, penghulu laman, induk berempat, anak bungsu dan anak laman (murid pencak silat). Silat Pangean sudah tersebar ke berbagai wilayah di Riau. Selain sebagai tradisi pewarisan bekal kehidupan, Silat Pangean kemudian digunakan sebagai rangkaian helat dan upacara adat dalam hal penyambutan atau pertemuan berbagai pihak.
Pada Tahun 2018 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan 225 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan Silat Pangean menjadi salah satu dari Warisan Budaya Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201800640.
Perahu baganduang menjadi bagian dari tradisi yang ada di Lubuk Jambi, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuansing, Riau. Perahu Baganduang adalah kendaraan adat yang digunakan untuk tradisi Majompuik Limau. Tradisi ini telah dilakukan masyarakat selama kurang lebih satu abad.
Perahu baganduang pertama kali digelar sebagai festival pada tahun 1996. Festival perahu baganduang dilaksanakan sekali dalam setahun, terutama pada saat hari raya Idul Fitri. Perahu-perahu ini kemudian dihias agar menarik. Hiasan-hiasan yang digunakan, antara lain, bendera, daun kelapa, payung, kain panjang, buah labu, foto presiden dan wakil presiden, dan benda-benda lainnya yang memiliki simbol adat. Misalnya, padi yang melambangkan kesuburan pertanian dan tanduk kerbau yang melambangkan peternakan.
Dalam festival tersebut, masyarakat disuguhkan berbagai hiburan, di antaranya Rarak Calempong, Panjek Pinang, dan kegiatan Potang Tolugh. Proses pembuatan perahu baganduang sama dengan pembuatan perahu jalur, yaitu dengan memakai upacara Melayu
(Sumber : Buku Warisan Budaya Tak Benda Hasil Penetapan Kemendikbud 2013 - 2018 Provinsi Kepulauan Riau dan Riau/ Halaman 94)
Kayat disampaikan oleh seseorang yang disebut tukang kayat. Lazimnya,
tukang kayat adalah laki-laki, meskipun perempuan pun boleh menjadi
tukang kayat. Penyajiannya dapat dilakukan di dalam atau di luar rumah.
Waktunya malam hari, dimulai selepas sholat isya dan berakhir menjelang
sholat subuh.
Pada mulanya kayat di Kuantan Singingi mendendangkan kisah-kisah nabi
dan para pahlawan Islam, seperti Kayat Tangkurak Koriang (Hikayat
Tengkorak Kering), Kayat Porang (atau Kayat Hasan dan Husin; mengisahkan
peperangan cucu-cucu Rasulullah Muhammad SAW melawan Yazid bin
Muawiyah), Kayat Kanak-kanak (berkisah tentang kehidupan anak-anak yang
meninggal sebelum baligh, bebas dari dosa, dan dalam kedamaian hidup
damai di akhirat mereka mencari, menolong, dan membimbing ibu-bapaknya
untuk masuk surga).
Dalam bentuk tradisionalnya, kayat-kayat itu ditampilkan dalam majelis-majelis pengajian, atau sempena perayaan dan upacara keagamaan, seperti pesta perkawinan, syukuran, sunat rasul, dan aqiqah. Bila disajikan dalam perayaan-perayaan, maka pada bagian-bagian tertentu kisahannya, tukang kayat sering menyisipkan pantun-pantun popular untuk menyukakan hati khalayaknya, baik di bagian awal, di masa jeda, atau pada saat-saat penonton mulai jenuh.
Biasanya, kayat dimainkan oleh empat orang tukang kayat. Salah seorang dari mereka menjadi pemimpin kayat tersebut. Masing-masing tim terdiri atas dua orang sebagai teman untuk saling bersahut-sahutan. Kayat dimainkan di hadapan penontonnya tanpa ada jarak dan batas formal. Pada awalnya, dalam penampilannya, kayat diiringi alat musik berupa talam atau dulang yang terbuat dari kuningan/tembaga. Dalam perkembangannya, alat musik tersebut berkembang sehingga dipergunakan pula gendang, biola, ketabung dan kerincing.
Tukang kayat hendaknya memiliki suara yang bagus sehingga terdengar merdu di telinga masyarakat penikmatnya. Ternyata, untuk menjaga suara tetap merdu, tukang kayat terbiasa memakan tebu sebagai suguhan wajib, ditambah pisang rebus, serta sirih pinang sebagai pelengkap. Dengan suaranya yang merdu tersebut, tukang kayat akan menampilkan bermacam jenis irama, di antaranya; ungko tabobar (siamang jawab-menjawab), naik maligai (naik istana), dan pado-padi (irama permulaan).
Kayat tidak hanya berfungsi sebagai sebuah hiburan. Kayat juga berisi pandangan dan tuntunan perilaku hidup sehari-hari. Tak jarang, pertunjukan kayat ini dibungkus dengan cerita-cerita tentang kepahlawanan Islam atau gambaran kehidupan sesudah mati. Ada cerita yang berkisah tentang cerita dagang piatu (peruntungan), kayat kanak-kanak, dan kayat porang (perang).
Di Rantau Kuantan, keberadaan kayat tersebar di sejumlah daerah kecamatan, seperti Benai dan Kuantan Hilir. Kayat juga ada di Desa Toar, Kecamatan Gunung Toar, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Di daerah ini hidup tukang kayat Nasir (79 tahun) dan Juharli (57 tahun). Akan tetapi, dua orang ini sudah tidak pernah lagi menampilkan kayat di tengah keramaian. Mereka terakhir tampil sekitar tahun 2000. Menurut Nasir, selain kayat asli sudah tidak banyak peminat, mereka pun mengaku usianya sudah tidak muda lagi untuk berkayat.
Tim kayat mereka pun sudah tidak lengkap lagi karena dua orang sudah
meninggal. Oleh karena itu, ketika menampilkan kayat, mereka sudah tidak
bisa menyelesaikan kayat tersebut sampai tuntas. Seharusnya, setelah
habih satalo (habis satu episode), kayat harus disambung oleh tukang
kayat yang lain. Para pekayat ini berharap, kesenian kayat ini bisa
diwariskan kepada generasi sekarang dengan cara diajarkan kepada pemuda
yang punya kemauan/kepedulian terhadap kayat.
Pada
Tahun 2018 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan
dan Kebudayaan telah menetapkan 225 karya budaya sebagai Warisan Budaya
Tak Benda Indonesia dan Kayat Kunasing/Kayat Rantau Kuantan menjadi salah satu dari Warisan Budaya Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201800644.(Sumber: Saduran dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkepri/kayat-sastra-lisan-dari-kuantan/ )
Seperti apa dengan Tradisi Lisan Kayat tersebut ? silahkan menyaksikan video berikut :
Kesenian ini identik dengan berbagai tingkah serta atraksi dari para pemain yang mampu mengundang gelak tawa dari para peonton yang menyaksikannya. Hal ini dikarenakan terdapat berbagai lawakan-lawakan khas dan juga unik, yang pastinya akan menjadi sajian untuk kita nikmati dalam pertunjukan kesenian Randai Kuantan. Salah satu daya tarik yang mampu mengundang kelucuan dalam kesenian ini adalah tokoh yang diperankan oleh laki-laki yang berperan sebagai wanita, dan begitu juga sebaliknya para pemain wanita yang memerankan diri menjadi laki-laki.
Pertunjukan Randai menjadi spesial bagi Orang Kuantan Singingi, terutama bagi perantauan asal kuantan Singingi, perantauan Asal Kuantan Singingi melestarikan Randai ini di tempat ia tinggal dengan rutin menggelar pertunjukan Randai dan mereka akan mengundang sesama Perantauan Asal Kuansing untuk menyaksikan Randai. Perantauan Asal kuansing akan mengadakan Randai jika melangsungkan pernikahan, acara khitanan, syukuran kelahiran anak, Khatam Quran dan acara lainnya.
Pertunjukan Seni Randai menampilkan cerita yang disajikan dalam Dialog dan diiringi oleh Musik Calempong sambil berjoget dengan membentuk lingkaran, para penari atau Anak Randai dengan semangat berjoget sambil berjalanan dan berkeliling membentuk lingkaran dan Induk Randai bercerita dan memimpin Jalannya Randai dan Para Penonton akan terbahak ketawa mendengar Dialog Induk randai dan Anak Randai dan tentunya Penampilan Anak Randai Laki Laki yang menjadi Wanita dengan berpakaian Wanita dan juga Bando di kepala akan menjadi menarik perhatian penonto. Kacamata dan Syal serta peluit menjadi perlengkapan wajib dalam kesenian Randai, Anak Randai berjoget mengelilingi lingkaran sambil meniup peluit dengan membentuk irama tertentu dan menyatu dengan hentakan kaki.
Kini Dokumentasi Kesenian randai banyak dijual dalam Bentuk Kepingan CD baik dalam bentuk MP3 maupun Video, dan CD Randai tersebut menjadi lagu Wajib di Kendaraan Roda Empat bagi Perantauan Asal kuantan Singingi, Syafri Depi Pegawai Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru perantauan Asal Desa Simandolak Benai kuansing menuturkan ia menjadikan Lagu Randai sebagai Nada Dering Handphone, menurutnya Lagu Randai dengan judul Sayang den Du menjadi favorit ia dan Keluarga.
Susunan Acara Penampilan Randai
- Pembukaan
Para pemain berbaris dua-dua lalu memasuki arena, diiringi dengan musik lagu pembuka, misalnya, “Bunga Setangkai”. Barisan ini dipandu “tukang peluit” yang meniup peluitnya sesuai irama musik. Lalu mereka berjoget mengelilingi lokasi hingga membentuk lingkaran. Jika lagu telah selesai, tukang peluit meniup peluitnya sembari memberi kode telah selesai. Barisan randai yang ada lalu meneriakkan “hep heeep ta”, kemudian jongkok ataupun duduk dengan posisi melingkar. - Sambutan
Pemandu acara meminta induk randai dan tuan rumah yang memiliki hajatan untuk menyampaikan kata sambutan. Ia juga meminta ketua randai untuk menyampaikan petatah petitihnya. Kemudian, para anak randai berdiri dan berjoget mengelilingi arena, selanjutnya mereka duduk lagi. - Bercerita
Pemandu menyampai isi cerita yang akan dimainkan, lalu anak-anak randai pun berakting sesuai dengan alur cerita yang disampaikan. Setiap adegan diawali dengan cerita dari pemandu dan ditutup dengan tarian atau joged. - Istirahat
Setelah sekitar 2 jam, biasanya permainan diistirahatkan. Waktu istirahat ini biasanya diisi dengan lelang lagu dan joged oleh para bujang gadih (pemeran laki-laki atas peran perempuan) yang disaksikan para penonton. - Penutup
Pada saat penutupan, biasanya dinyanyikan lagu “Gelang Sipaku Gelang”. Para anak randai pun berjoged mengelilingi arena sembari berjalan ke luar.
Kini Pertunjukan randai bukan hanya sekedar Kesenian tetapi telah menjadi Sebuah Identitas dan Jati Diri bagi Kuantan Singingi.
Pada Tahun 2016 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan 150 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan Randai menjadi salah satu dari Warisan Budaya Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201600309.
Pada pembukaan Festival Pacu Jalur ke-116 pada Tanggal 21 Agustus 2019 Museum Rekor Indonesia (MURI) telah menetapkan Sebuah Rekor Baru dengan Nomor Register : 9124 kepada Kabupaten Kuantan Singingi yang telah mempersembahkan tari randai yang diikuti oleh 1.574 penari dari seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi.
Sumber :
- https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/randai-kuantan-warisan-budaya-takbenda-indonesia-2016
- Dialog dan Wawancara dengan Tokoh Masyarakat Kuantan Singingi
- Youtube (Randai )
Di kawasan ini juga terjadi perburuan harimau sumatera besarnya tekanan dan ancaman dari segala aspek terhadap harimau sumatera menimbulkan kekhawatiran pihak pemerintah dan WWF program Riau. Pada awalnya Tiger Protection Unit (TPU) difokuskan bekerja di kawasan Tesso Nilo. Namun dalam perjalanannya, melihat dinamika yang terjadi di taman nasional ini dan tidak memungkinkan lagi bagi Tiger Protection Unit (TPU) untuk melakukan kegiatan di kawasan tersebut, maka fokus dialihkan ke Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling pada tahun 2007. Seiring dengan perkembangan, Tiger Protection Unit (TPU) diperbantukan untuk melakukan pengamanan harimau sumatera di Koridor SMBRBB-Bukit Tigapuluh.
Sejauh ini Tiger Protection Unit (TPU) sudah melaku upaya penyelamatan harimau sumatera dengan penyitaan sedikitnya 800 jerat harimau dan jerat mangsa. Selain itu, Tiger Protection Unit (TPU) juga turut serta dalam upaya penegakkan hukum terhadap pelaku kejahatan satwa liar. Sedikitnya ada 6 tindak kejahatan perburuan hariamu sudah difasilitasi proses penegakkan hukumnya. Teridentifikasi secara periodik temuan kejahatan illegal logging, perambahan dan aktifitas illegal lainnya di lokasi kegiatan. Selain itu Tiger Protection Unit (TPU) juga Teridentifikasi dan termonitor aktifitas pelaku perburuan dan jaringan perdagangannya.
| Penemuan Jerat Harimau di Suakamargasatwa Bukit Rimbang Baling |
Penanganan harimau sumatera dilakukan dengan kegiatan patroli, investigasi, respon konflik dan fasilitasi kegiatan unit kerja dalam WWF program Riau dan mitra kerja lainnya. Untuk mendapatkan dukungan yang lebih luas terhadap upaya perlindungan satwa liar dan habitatnya, tim ini juga berperan dalam melayani kebutuhan unit kerja di WWF Riau serta mitra kerja lainnya. Bentuk kegiatan ini dengan memberikan dan meyediakan informasi, memandu mitra di lapangan dan melakukan sosialisasi.
Pengamanan harimau sumatera diharapkan tidak hanya difokuskan untuk dua kawasan ini saja. Hendaknya kawasan fokus WWF lainnya juga mendapatkan perhatian yang sama, serta didukung dengan personel yang memadai. Selain itu, dukungan pemerintah juga menjadi suplemen bagi tim Tiger Protection Unit (TPU) dalam menjalankan tugas menjaga sang raja rimba.
| Arung Jeram menggunakan Benen di Sungai Tapi Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling |
- Tuah kalajengking Muda Indragiri (Inhu)
- Tuah Koghi Dbl Ghajo (KT)
- Palimo Olang Putie (HK)
- Puti Mandi Mayang Terurai (KM)
- Sijontiak Lawik (CRT)
- Putri Bungsu Dbl Hitam (Inhu)
- Linggar Jati RAPP (PGn)
- Siposan Rimbo RAPP (PGN)
- Juragan Kuantan (GT)
- Sialang Soko (Inhu)
- Meriam Onggang Parau (KH)
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942 , Jepang mengetahui rencana Kolonial Belanda. Penguasa militer Jepang melihatnya sebagai jalan keluar persoalan yang mereka hadapi. Pembangunan jalan rel yang menghubungkan Sumatera Barat dan pantai timur Sumatera akan membuat jalur transportasi yang menghindari Padang dan Samudera India yang dijaga ketat kapal perang Sekutu. Jalan kereta api baru itu akan memperluas jaringan Staatsspoorwegen te Sumatra’s Weskust (SSS) sepanjang 215km ke pelabuhan Pekanbaru. Dari sana, melalui Sungai Siak akan mudah mencapai Selat Melaka.
| TUGU CERANO |
![]() |
| PACU JALUR |
![]() |
BAGAIMANA MENUJU TALUK KUANTAN (LOKASI PACU JALUR)
Pada Tahun 2015 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan 121 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan Pacu Jalur menjadi salah satu dari Warisan Budaya Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201500184.






