Susun Atur Ruang Petalangan adalah sistem penataan wilayah adat oleh masyarakat Petalawan di Riau berdasarkan fungsi ruang. Sistem ini membagi wilayah hidup secara arif untuk menghindari tumpang tindih antara manusia dan alam. Pengetahuan leluhur ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.


Pembagian Fungsi Wilayah
  • Tanah Permukiman: Tempat tinggal dan aktivitas sosial warga kampung.
  • Kawasan Dusun / Perladangan: Area untuk membuka ladang dan kebun secara bergilir.
  • Hutan Simpanan / Hutan Adat: Kawasan hijau yang dijaga ketat agar tidak boleh dirusak.
  • Pohon Sialang: Wilayah khusus tempat lebah berkoloni yang diatur lewat tradisi Memoleh Sialang.
  • Suak dan Sungai: Jalur air dan sumber ikan yang dikelola dengan aturan tangkap tertentu.

    Prinsip Pengelolaan Lingkungan
    • Pembagian Berdasarkan Fungsi: Tiap jengkal tanah punya aturan pemanfaatan yang jelas.
    • Manumbai Lestari: Panen madu hutan dilakukan tanpa menghabiskan sarang lebah.
    • Lelang Suak Sungai: Pengelolaan hasil air diatur agar tidak terjadi penangkapan ikan berlebihan.
    • Syarahan Adat: Penyampaian aturan lisan secara turun-temurun agar generasi muda tetap patuh menjaga alam

Gondang borogong atau gendang bergong merupakan salah satu kesenian masyarakat Kabupaten Rokan Hulu, alat musik ini terdiri dari gendang, gong, dan celempong, sehingga juga disebut sebagai gondang celempong (gendang calempong). Kesenian ini biasa dimainkan untuk mengiringi silat gelanggang dan silat pengantin. Kesenian tradisional ini menghasilkan irama musik tradisional

Kesenian musik Gondang Barogong terdiri dari beberapa alat musik, yaitu 6 celempong, 2 gondang, dan 1 gong. Dua gendang yang digunakan adalah gondang polalu (gendang pelagu) dan gondang poningkah (gendang peningkah). Kedua gondang tersebut memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Hanya saja, keduanya menghasilkan nada yang berbeda, yaitu gondang poningkah yang dapat memberikan nada lebih rendah. Tinggi rendahnya nada tersebut ditentukan oleh ketebalan dan jenis kulit yang dipakai pada gendang. Selain itu, peregangan kulit pada gendang juga menjadi salah satu penentu tinggi rendahnya nada yang dihasilkan. Gendang dimainkan menggunakan satu pemukul yang terbuat dari rotan sogo atau rotan saga. Sementara sisi lain dari gendang, dipukul menggunakan jari atau telapak tangan. Biasanya sisi yang dipukul dengan rotan adalah muka gendang di sebelah kanan.

Gaya memainkan gendang ada tujuh cara: gondang botindieh lutuik (gendang bertindih lutut, dengan ditindih kedua lutut), tindieh bosonang–sonang (tindih bersenang-senang, gendang ditimpa dengan lipatan lutut kiri dan kaki kanan atau dilipat berdiri), tindieh bosonang-sonang duo kaki (tindih bersenang-senang dua kaki, gendang ditimpa dengan kedua lipatan lutut), bokapik (diapit, gendang diapit dengan kaki), bopangku (berpangku, gendang dipangku di atas paha), bolabak ateh tanah (diletak di atas tanah, pemukul gendang duduk mencangkung), bodiri (berdiri, gendang dipukul sambil berdiri, tali gendang disangkutkan dipinggang atau digantung di kuduk)

Fungsi dan makna musik tradisional gondang borogong adalah untuk menyambut tamu kebesaran serta adat lainnya sedangkan maknanya sebagai identitas budaya setempat dan juga sebagai simbol budaya bagi masyarakat Rokan Hulu. Teknik dan bentuk komposisi musik tradisional gondang borogong tidak dituliskan dalam bentuk komposisi notasi balok maupun not angka. Komposisi gondang borogong ini dimainkan berdasarkan cara-cara tradisional, seperti diajarkan secara langsung dengan menghafal bunyi yang akan dimainkan

Keberadaan musik tradisional Gondang Borogong mulai tercipta pada Tahun 1937 yang dahulu namanya adalah Celempong. Sebelum mulai abad ke-14 orang memakai alat musik Gondang Barogong dengan menggunakan kayu yang diberi nama Gambang. Setelah peresmian Raja Rokan turun temurun dengan 9 Raja 2 Sultan, maka lambat laun habislah keturunan Raja. Oleh karena itu Rokan pada saat itu membutuhkan seorang pemimpin, maka diambilah keturunan Raja dari Pagaruyung Sumatera Barat yang bernama Tengku Ibrahim. Pada kesempatan itu pula Tengku Ibrahim diresmikan menjadi seorang Raja, dalam istilahnya Raja yang di Rajakan, karena sebelum itu beliau adalah keturunan Raja, maka disebutlah istilah seperti itu.

Acara Borolek Godang adalah acara besar untuk Raja Rokan yang baru, dan acara tersebut dilaksanakan selama 7 hari 7 malam. Dari peresmian tersebut maka diundanglah seluruh masyarakat Rokan untuk melihat Raja yang baru. Hari yang pertama adalah Olek dari persukuan 5 suku yang ada di Rokan dan dilakukan secara berganti-gantian tiap harinya, sesudah acara tersebut maka barulah dari Olek Raja, keluarga raja yang mengadakan Olek tersebut. Tetapi ada pula nama Olek raja itu sendiri yaitu yang dinamakan Olek Ninik Mamak. Pada kesempatan itu pula di adakanlah suatu pagelaran seni tradisional Rokan yang berupa Pencak Silat, Silat Pisau, Silat Pedang dan tari payung.

Setelah acara tersebut ditampilkan maka Raja juga ingin mendengarkan musik Gambang yang ada di Rokan, maka dipanggillah 2 Orang Pakar Seni pada masa itu untuk membunyikan Gambang, dan Raja pun menikmati pertunjukan seni Gambang tersebut. Dikarenakan belum puas, Raja berkeinginan untuk mengundang kesenian tradisional celempong yang di datangkan dari Sumatera Barat tepatnya di daerah Batu Sangkar. Tujuan dari Raja mengundang kesenian tradisional tersebut yaitu beliau berkeinginan agar pakar seni Rokan dan pakar seni Batu Sangkar saling mengenal alat musik tradisional satu sama lain. Adapun acara tersebut dilakukan selam 3 hari 3 malam lamanya.

Setelah acara tersebut berlangsung selama 3 hari 3 malam, maka dipanggillah pakar seni Gambang dan pakar seni Celempong ini oleh Raja. Pada kesempatan itu disusunlah Gambang kayu tadi oleh pakar Seni Celempong, tetapi mereka tidak dapat memainkannya karena bunyi Gambang tersebut mengambang. Lagu apapun yang akan dibuat tidak bisa mereka mainkan, karena hasil bunyi dari Gambang tersebut mengambang. Melihat kejadian itu maka disuruhlah pakar seni Gambang untuk menyusun Celempong dan menuruti letak Gambang yang telah mereka susun tadi. Kemudian di samakan dengan nada gambang, dipukul Gambang no 1, dipukul pula Celempong dengan menyesuaikan nada gambang no 1, di pukul pula Gambang yang no 2, dan disamakan lagi Celempong menurut nada gambang no 2. Begitu seterusnya sampai ke enam Gambang. Dari pengujian bunyi tersebut Celemponglah yang mengikuti nada dari Gambang. 

Pada Tahun 2022 Pemerintah Republik Indonesia telah  menetapkan Gondang Baronggong sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Bagaimana dengan Visual dati Gondang Baronggong ini ? Berikut kami tampilkan videonya :


Di Kabupaten Kuantan Singingi, musik tradisional disebut rarak. Rarak bukan saja berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai sarana untuk meluapkan emosi. Kata rarak paling tidak merujuk kepada tiga hal. Pertama di tunjukkan kepada alat musik tradisional, yaitu oguang (gong), gondang (gendang), barabano (rebana) dan celempong. Kedua, kata rarak menunjukkan jenis dan perangkat atau kesatuan dari gabungan bunyi alat-alat tersebut.

Semua seniman rarak disebut tukang rarak. Adapun rarak itu jika dibunyikan lazim disebut dengan kata digugua. Pada umumnya semua jenis rarak ini dipukul dengan mempergunakan kayu, gong biasanya dipukul dengan menggunakan pelepah kelapa. Celempong dipukul dengan kayu, sedangkan gendang dipukul dengan jari tangan. Sedangkan rebana dipukul dengan rotan.

Semua alat musik tradisional ini didatangkan dari Malaysia. Hal ini dikarenakan banyak orang Kuantan yang merantau di negeri tersebut. Bahkan sampai sekarang sebagian memutuskan menetap disana. Kebanyakan para Perantau Kuantan di Malaysia bekerja di sektor perkebunan, seperti di kebun karet dan gambir disekitar Kota Kuala Lumpur dan Kelang. Rupanya dengan membeli alat musik tersebut dari Malaysia adalah suatu kebanggaan pada waktu itu, rarak menjadi sebuah tanda mata dan kenang-kenangan bagi setiap perantau yang pulang dari Malaysia.

Pembelian alat-alat musik tersebut dari Malaysia oleh para perantau dari Kuantan berakhir dengan kedatangan bangsa Jepang. Semenjak itu tidak ada lagi alat musik itu yang dibawa oleh para perantau. Dengan kondisi tersebut, para seniman di Kuantan pun memutuskan untuk membuat sendiri alat-alat tersebut, sebab bahan-bahannya dapat dengan mudah diperoleh di Kuantan. Adapun beberapa alat yang masih dibeli dari luar adalah gong dan celempong. Rebana dan gendang sudah dapat diproduksi sendiri.

Jenis rarak di Kuantan yang paling sederhana adalah rarak celempong manyiang. Rarak ini hanya terbuat dari kayu kering yang disebut manyiang. Jenis rarak ini sering dibuat dan dibunyikan oleh para petani sambil menunggu ladang dan kebunnya. Tetapi setelah ada datang jenis raral yang berupa gong dan celempong (dari besi dan tembaga) yang dilengkapi dengan gendang dan rebana, maka jenis rarak sederhana ini semakin sulit dijumpai.

Adapun jenis rarak di Kuantan Sengingi yang paling terkenal ada 5 macam. Kelimanya itu dibedakan oleh alat musiknya, yang juga berbeda dalam lagu dan peranannya. Nama-nama jenis rarak yang 5 macam tersebut adalah:

1. Rarak oguang godang (rarak gong besar)
Rarak oguang godang terdiri dari 2 buah gong besar dan sebuah rebana. Rarak ini dimainkan oleh tiga orang tukang rarak, masing-masing memukul satu alat rarak. Jenis rarak ini sering hanya dimainkan oleh perempuan saja. Musik tradisonal ini digunakan untuk mengarak anak pancar ketika khatam Qur’an, turun mandi dan nikah-kawin. Beberapa lagunya diberi nama: logu kasonjoon (lagu kesenjaan), logu urang bonai (lagu orang benai), logu urang pangian (lagu orang pangian), saramo dan tigo-tigo.

2. Rarak oguang kenek (rarak gong kecil)
Rarak oguang kenek juga terdiri dari dua buah gong kecil dan sebuah rebana. Bedanya Cuma di ukuran saja, yaitu lebih kecil gongnya dari gong besar. Karena jenis gong kociak (kecil) ini sudah hampir punah, maka jenis rarak ini hampir tidak dikenal lagi.

3. Rarak gondang godang/rarak jaluar.rarak silek (rarak gendang besar)
Rarak gondang godang atau disebut juga rarak silek (rarak silat), karena ketika orang bersilat, rarak inilah yang dimainkan. Kemudian disebut juga rarak jaluar (rarak jalur) karena jenis rarak ini dipakai pula ketika menunggu jalur dan pacu jalur. Jenis rarak ini terdiri dari 5 buah celempong, 2 buah gendang panjang, dan 1 buah gong besar. Celempong dipukul oleh seorang tukang rarak, gong satu orang dan gendang dua orang. Rarak ini biasanya hanya dimainkan oleh kalangan laki-laki saja. Gunanya untuk mengiringi orang bersilat dan menjaga jalur. Jenis lagunya ada 7 macam, antara lain ciek-ciek, tigo-tigo, taktenda, kandidi, gelang-gelang, kitang-kitik dan kacimpuang di ulak botiang.

4. Rarak celempong onam
Jenis rarak calempong onam, disebut demikian karena sesuai dengan jumlah calempong yang dipakai. Rarak ini memakai enam buah calempong dan 1 buah rebana. Tiap 2 calempong dimainkan oleh satu orang tukang rarak, sedang rebana dimainkan oleh seorang tukang rarak. Jadi ada 4 orang pemain. Rarak ini paling sering dimainkan/digunakan, antara lain untuk hiburan bagi anak tobo (kaum muda-mudi). Rarak ini bisa dimainkan baik oeh laki-laki maupun perempuan, bahkan bisa dicampur baik laki-laki maupun perempuan. Dengan sifatnya yang demikian, maka rarak ini sangat cocok untuk anak muda. Rarak ini kental dengan nuansa bernada erotis karena sarat dengan kasih sayang. Jenis lagunya sangat banyak, diantaranya tanjuang benai, cankur ayam, tak tinjak, agia rokok dan corai kasia.

5. Rarak celempong tingka
Rarak yang diberi nama calempong tingka, merupakan jenis rarak yang cukup sederhana. Jenis rarak ini boleh dikatakan sebagai pemula atau tempat berlatih memainkan rarak. Alat musiknya 5 buah calempong dan dimainkan oleh 2 orang. Keduanya memukul secara bergantian, sehingga terbentuk suatu bunyi rarak. Karena sifatnya cukup sederhana, maka lagu-lagunya juga bersifat bersahaja. Kegunaannya lebih banyak untuk latihan memainkan rarak atau sekedar pengisi waktu senggang bersama teman. Dari lima jenis rarak tersebut, yang menjadi puncaknya adalah rarak gendang besar karena rarak inilah yang paling memberikan lambang dan kiasan hidup.Rarak dibunyikan pertama-tama bukanlah untuk memberikan hiburan, meskipun dengan keindahan rarak itu sendirinya akan terhibur.

Rarak pada hakikatnya dibunyikan untuk memberi peluang kepada pendengarnya untuk dapat mengkaji dam memikirkan dirinya. Rarak itu artinya “menghitung-hitung diri”. Dengan mendengarkan rarak diharapkan orang akan merenungkan dirinya dalam realita hidup. Renungan itu harusnya berawal dari pangkal kehidupan sampai ajal tiba. Karena rarak berarti “menghitung-hitung diri”, maka semua alat rarak tentu mempunyai makna dan kiasan sendiri. Makna dan kiasan itu tetaplah menyangkut manusia dan dunianya, manusia dalam pergaulan nasib dan peruntungannya.

Oguang (gong) dipandang sebagai kiasan kepada orang yang besar bicara, pongah, dan memandang diri serba lebih. Tekanan atau peringatan adat dilambangkan dengan gong yang dipegang erat-erat ketika membunyikannya. Gondang atau gendang yang dua buah adalah lambang orang yang pembangkang. Keduanya sama-sama kosong tidak ada isinya apa-apa didalamnya. Hanya dengan ikatan adat, orang seperti ini dapat diarahkan untuk kebaikan. Hal ini dilambangkan dengan gendang tersebut tidak diikat erat, gendang itu tidak ada gunanya. Demikian juga orang tersebut, jika tidak dikendalikan dengan adat/peraturan mereka akan menjadi sampah masyarakat atau orang yang tidak berguna. Calempong yang lima buah adalah lambang agama Islam (Rukun Islam)

Rarak tidak akan bisa berlangsung jika tidak ada calempong lima. Rarak tidak enak di dengar jika tidak ada bunyi calempong. Sebab, calempong merupakan mahkota keindahan rarak. Celemponglah yang mampu menembus suasana batin manusia, dengan bunyinya yang indah. Celemponglah yang mampu menjalin bunyi rarak menjadi harmonis dalam alunan bunyi yang menawan. Hal itu memberi petunjuk, kehidupan tidak akan indah dan sempurna jika tidak dilengkapi dengan nilai-nilai agama.
Karena rarak mempunyai makna yang hakiki, maka lagu rarak gondang godang mempunyai makna. Tiap lagu telah digubah berlandaskan adat yang bertumbu pada nilai-nilai agama. Oleh karen itu, semua lagu rarak mempunyai nilai-nilai agama yang kuat. Rarak gondang godang memulai lagu ciek-ciek, ciek untuak dunio ciek untuak akhirat (satu untuk dunia satu untuk akhirat). Kemudian dilanjutkan dengan lagu kitang-kitang, lagu ini adalah suatu sindiran kepada orang yang tidak mau diajak kepada jalan yang benar. Selepas itu dimainkan juga lagu tiga-tiga yang mempunyai makna ada tiga perkara di dunia ini yang amat penting, pertama hidup dan mati, kedua sebagai pedoman pergaulan dalam masyarakat. Ketiga, sorak (hukum agama) yang memberikan jalan lurus menuju akhirat. Jika orang itu hidup, maka hiduplah dengan adat yang mulia. Jika dia mati, matilah hendaknya di jalan Allah.

Rarak kemudian memainkan lagu kandidi. Kandidi adalah sejenis burung yang suka bermain sambil mencari makan ditepi sungai. Lagu ini menyindir perempuan tua yang tidak menyadari ketuannya. Karena kebiasaan orang Melayu Kuantan jika mandi di batang Kuantan suka mempermainkan kakinya didalam air, sehingga menimbulkan bunyi. Hal ini dilagukan dalam lagu bakacimpuang.

Rarak gondang godang biasanya berakhir dengan lagu gelang-gelang. Gelang-gelang adalah suatu keadaan yang dapat terjadi pada suatu benda yang terapung diatas air. Jika benda terapung itu bergerak-gerak oleh alunan ombak atau tiupan angin, maka benda tersebut dikatakan dalam keadaan tergelang-gelang. Hal ini menggambarkan tentang sesuatu yang tak tentu arahnya. Ada gerakan atau upaya tapi tak jelas sasarannya. Atau usaha yang tidak sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan.
Uraian diatas memberikan gambaran tentang bagaimana rarak berbicara tentang dunia dan kehidupan. Rarak membuat semacam lukisan terhadap dunia. Rarak membayangkan tingkah laku dunia yang pada dasarnya perbuatan manusia, dapat dilihat dalam kenyataan serta dirasakan oleh hati. Rarak tidak menilai dunia dengan suatu pernyataan. Rarak Kuantan Sengingi sengaja menghindari pemakaian kata-kata dalam penyampaian makna dunia dan kehidupan.

Tari Olang-Olang adalah sebuah tari asli suku Sakai yang dihelat pada upacara atau ritual pengobatan. Tari Olang-olang merupakan cerminan identitas masyarakat pedalaman suku Sakai yang terdapat di KKabupaten Siak.


Tari Olang-Olang muncul berawal dari gerakan Bomoh dalam ritual pengobatan Masyarakat Suku Sakai meyakini melalui tarian Olang-Olang mereka dapat mengusir roh-roh jahat yang menganggu masyarakatnya dan sekaligus sebagai bentuk upaya melindungi masyarakat dari roh-roh jahat tersebut.

Istilah Olang-Olang berasal dari bahasa Suku Melayu Sakai yang berarti “elang.” Tari ini terinspirasi dari cerita rakyat tentang burung elang jelmaan Putri Kayangan yang jatuh cinta pada seorang pemuda. Karena melanggar pantangan, hubungan keduanya berakhir, dan sang putri kembali menjadi burung elang. Tari Olang-Olang bersifat maskulin dan hanya ditarikan oleh empat penari laki-laki. Gerakan dalam tarian ini meniru gerakan elang, menekankan unsur kekuatan dan kegagahan yang dinilai hanya dapat diwakili oleh laki-laki. Tarian ini biasa ditampilkan dalam berbagai acara masyarakat sebagai bentuk pelestarian budaya lokal. masyarakat Kabupaten Siak berpandangan bahwa tarian ini hanya dapat dilakukan oleh laki-laki saja agar gerak tarian yang dilakukan dapat menyerupai gerakan burung Elang.

Dalam tradisi Tari Olang-Olang, keterlibatan Bomo (dukun atau pawang adat) memiliki peran penting, terutama ketika penari pemula terlibat dalam pertunjukan. Menurut kepercayaan masyarakat Sakai, penari pemula kerap mengalami kondisi trance, yakni tidak dapat menghentikan gerak tarinya meskipun pertunjukan telah usai. Fenomena ini dipercaya terjadi karena soli atau roh tari yang merasuki tubuh penari belum meninggalkannya. Dalam kondisi ini, penari akan terus menari hingga roh tersebut kelelahan, bahkan berisiko jatuh pingsan. Peran Bomo sangat penting untuk menghentikan kondisi tersebut secara ritual. Sebab Bomo atau dukun dipercayai seseorang yang dapat menyampaikan doa mereka kepada Yang Maha Kuasa melalui ritual dan mantra-mantra yang dibacanya.
Masyarakat Sakai memercayai keberadaan ‘Rajo Olang’ (Raja Elang) sebagai makhluk spiritual yang mampu menjelajah langit dan berfungsi sebagai penyampai pesan kepada Sang Pencipta. Burung elang dijadikan simbol atau perantara antara manusia dengan Tuhan. Dalam praktik ritual, Bomo juga dapat memanggil makhluk penyampai pesan lainnya, seperti burung pungguk, ular kobra, ketam, dan hewan lain yang dianggap memiliki hubungan spiritual. Pemanggilan makhluk-makhluk tersebut biasanya dilakukan pada malam hari, baik di dalam rumah maupun di halaman terbuka, dengan perlengkapan seperti api, lilin, bunga, beretih, serta simbol-simbol lainnya seperti topeng berkepala satu atau dua. Dalam suasana sakral tersebut, Bomo akan melakukan tarian di antara api, sesajen, dan pasien (orang yang tengah dirawat atau memohon petunjuk spiritual)
Dalam konteks ini, Olang atau elang diyakini sebagai representasi dari soli, roh penolong yang bersedia memberikan petunjuk dari alam halus yang dianggap bermanfaat bagi kehidupan nyata. Tari Olang-Olang, dengan demikian, tidak hanya berfungsi sebagai pertunjukan seni, tetapi juga sebagai medium spiritual dan bagian dari sistem kepercayaan masyarakat adat Sakai.

Pada Tahun 2022 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan Tari Olang - Olang menjadi salah satu dari Warisan Budaya Tak Benda.

Bagaimana dengan Tari Olang Olang tersebut ?, berikut kami tampilan video Tari Olang Olang


Lubuk Larangan Rantau Subayang berada di sekitar kawasan perbukitan Bukit Rimbang Baling Kecamatan Kampar Kiri Hulu Kabupaten Kampar.

Lubuk Larangan adalah kawasan terlarang di Sungai Subayang yang dilestarikan oleh masyarakat adat Rantau Kampar Kiri untuk menjaga kelangsungan hidup ikan dan ekosistem sungai. Tradisi 'Mancokau Ikan' dilakukan setahun sekali untuk memanen ikan dengan cara yang ramah lingkungan, memperkuat rasa persaudaraan dan gotong royong dalam komunitas. Inisiatif ini mencerminkan kearifan budaya yang bertujuan untuk melestarikan alam dan menjaga keberlanjutan sumber daya ikan.


Masyarakat Rantau Subayang meyakini ,siapa yang mengambil ikan di wilayah lubuk larangan akan terkena sial, musibah ataupun bencana bahkan bencana besar yang akan mendatangi desa, kawasan  yang menjadi lubuk larangan ditandai dengan tali yang menjadi pembatas.


Lubuk Larangan  menjadi salah satu upaya mitigasi perubahan iklim yang berdampak pada lingkungan, termasuk sungai. Tradisi lubuk larangan akan membantu menjaga ketahanan ekosistem sungai terhadap perubahan iklim.


Pembukaan Lubuk Larangan diawali oleh kesepakatan bersama warga desa, dan kegiatan ini diadakan cukup meriah seluruh warga desa hadir bersama ke sungai, tidak hanya warga desa saja yang hadir, warga desa asal lubuk larangan juga akan pulang kekampung halaman untuk mengikuti acara Lubuk larangan ini atau biasa disebut mencokau, seluruh peserta diundang untuk berpartisipasi mencari ikan disungai, dan bagi yang ingin menikmati hasil tangkapan ikan bersama diwajibkan membeli tiket yang biasa disebut andil. Uang kontribusi andil ini akan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama seperti perbaikan mushalla/mesjid, untuk kas desa, perbaikan infrastruktur desa, semangat gotong royong sangat melekat pada tradisi lubuk larangan ini.


Setelah disepakati waktu pembukaan lubuk larangan, sungai akan menjadi tempat yang ramai, acara diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan petatah petitih berupa pantun, doa dan harapan yang disampaikan oleh tetua adat yang selanjutnya seluruh warga akan menaiki perahu untuk melepas jala dan warga beramai-ramai menangkap ikan. Ikan hanya boleh ditangkap menggunakan jaring, jala atau panah. Selain itu hanya ikan ukuran besar yang boleh ditangkap. Ikan ukuran kecil akan dikembalikan ke sungai. Waktu penangkapan ikan juga dibatasi dari pagi hingga sekitar sebelum waktu zuhur, hasil tangkapan ikan akan dibagi kepada yang memiliki andil serta dilelang.


Proses Pembukaan Lubuk Larangan tersebut dapat disaksikan pada video berikut :


Mayarakat Adat Anak Rawa berada di penyengat adalah salah satu kampung adat dari delapan kampung adat yang ditetapkan pemda kabupaten siak, berada di kecamatan Sungai Apit.


Hutan, laut adalah sumber kehidupan anak rawa, nuansa adat sangat terasa ketika kita berkunjung ke kampung asli anak rawa dengan ditandai kehidupan sehari hari masyarakat dengan hukum adat.

Salah satunya adalah tabek, tabek adalah salam dalam bahasa anak rawa, sedangkan tari tabek adalah tari sembah salam dalam perhelatan acara adat tari ini biasa ditarikan oleh tetua adat dalam menyambut tamu besar adat acara bale kampung dan tolak bala.

Tarian ini memiliki arti doa selamat dan harapan kepada tamu tamu adat, dalam tarian ini tetua adat akan bersenandung melalui pantun secara spontanitas dan pantun berisi mengenai perhelatan acara yang diadakan.

Pada Tahun 2026 Tarian Anak Rawa ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Asal Riau, untuk melihat Bagaimana Tarian ini dapat disaksikan pada video berikut :