Tari Olang-Olang adalah sebuah tari asli suku Sakai yang dihelat pada upacara atau ritual pengobatan. Tari Olang-olang merupakan cerminan identitas masyarakat pedalaman suku Sakai yang terdapat di KKabupaten Siak.
Lubuk Larangan Rantau Subayang berada di sekitar kawasan perbukitan Bukit Rimbang Baling Kecamatan Kampar Kiri Hulu Kabupaten Kampar.
Lubuk Larangan adalah kawasan terlarang di Sungai Subayang yang dilestarikan oleh masyarakat adat Rantau Kampar Kiri untuk menjaga kelangsungan hidup ikan dan ekosistem sungai. Tradisi 'Mancokau Ikan' dilakukan setahun sekali untuk memanen ikan dengan cara yang ramah lingkungan, memperkuat rasa persaudaraan dan gotong royong dalam komunitas. Inisiatif ini mencerminkan kearifan budaya yang bertujuan untuk melestarikan alam dan menjaga keberlanjutan sumber daya ikan.
Masyarakat Rantau Subayang meyakini ,siapa yang mengambil ikan di wilayah lubuk larangan akan terkena sial, musibah ataupun bencana bahkan bencana besar yang akan mendatangi desa, kawasan yang menjadi lubuk larangan ditandai dengan tali yang menjadi pembatas.
Lubuk Larangan menjadi salah satu upaya mitigasi perubahan iklim yang berdampak pada lingkungan, termasuk sungai. Tradisi lubuk larangan akan membantu menjaga ketahanan ekosistem sungai terhadap perubahan iklim.
Pembukaan Lubuk Larangan diawali oleh kesepakatan bersama warga desa, dan kegiatan ini diadakan cukup meriah seluruh warga desa hadir bersama ke sungai, tidak hanya warga desa saja yang hadir, warga desa asal lubuk larangan juga akan pulang kekampung halaman untuk mengikuti acara Lubuk larangan ini atau biasa disebut mencokau, seluruh peserta diundang untuk berpartisipasi mencari ikan disungai, dan bagi yang ingin menikmati hasil tangkapan ikan bersama diwajibkan membeli tiket yang biasa disebut andil. Uang kontribusi andil ini akan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama seperti perbaikan mushalla/mesjid, untuk kas desa, perbaikan infrastruktur desa, semangat gotong royong sangat melekat pada tradisi lubuk larangan ini.
Setelah disepakati waktu pembukaan lubuk larangan, sungai akan menjadi tempat yang ramai, acara diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan petatah petitih berupa pantun, doa dan harapan yang disampaikan oleh tetua adat yang selanjutnya seluruh warga akan menaiki perahu untuk melepas jala dan warga beramai-ramai menangkap ikan. Ikan hanya boleh ditangkap menggunakan jaring, jala atau panah. Selain itu hanya ikan ukuran besar yang boleh ditangkap. Ikan ukuran kecil akan dikembalikan ke sungai. Waktu penangkapan ikan juga dibatasi dari pagi hingga sekitar sebelum waktu zuhur, hasil tangkapan ikan akan dibagi kepada yang memiliki andil serta dilelang.
Proses Pembukaan Lubuk Larangan tersebut dapat disaksikan pada video berikut :
Mayarakat Adat Anak Rawa berada di penyengat adalah salah satu kampung adat dari delapan kampung adat yang ditetapkan pemda kabupaten siak, berada di kecamatan Sungai Apit.
FILOSOFI LOGO
Tanjak : Lambang Kehormatan yang patut di jaga, Bertaut dengan Marwah Berbingkai
Harga Diri.
Perisai : Melambangkan pertahanan dalam membela kepentingan Daerah, Bangsa dan
Negara
Harimau : Bermakna Berkuasa, Perkasa, Cepat, Kuat, Eksotik dan Popular.
Warna Melayu : Hijau
artinya Kesetiaan
Merah artinya Keberanian
Kuning artinya Kejayaan
Bentuk
Piala Champion Bermakna Target yang selalu di kejar untuk selalu juara di
setiap kompetisi
Gambar Bola di Tanjak Melambangkan
Team ini adalah team sepakbola
Tulisan
Harimau Sumatra Adalah julukan team ini dengan makna kekuatan dari pulau Sumaetra,
karena Harimau Sumatera adalah satwa dilindungi yang hampir punah dan Riau
United mengangkat Harimau Sumatera ini agar Masyarakat Riau dan Sumatera peduli
dan ikut andil menjaga satwa dan habitatnya.
Tulisan Riau United
Bermakna Nama team ini di ambil dari Persatuan Wilayah Riau.
Tulisan EST 2022 Team ini
didirikan tgl 22-12-2022
Sri Indarti merupakan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unri itu meraih 48 suara dari total 77 suara, yang terdiri atas 50 suara senat dan 27 suara dari Kuasa Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) Republik Indonesia dalam Pemilihan Calon Rektor Unri tahun 2022.
Sri indarti mengungguli kandidat calon rektor lainnya, yaitu Dr Ir Deni Elfizon MSc dengan jumlah 14 suara, Prof Dr Iwantono MPhil meraih jumlah 15 suara,. Sri Indarti merupakan "Srikandi" pertama terpilih sebagai calon rektor Unri. Pemilihan dan penetapan calon rektor ini diikuti sebanyak 50 orang Senat Unri dan perwakilan dari Kemdikbudristek sebanyak 35 persen suara selaku kuasa Mendikbudristek.
Sebagai rektor terpilih, ada dua hal menjadi arah kebijakan Sri Indarti, yakni menjadikan Unri PTNBH dan go internasional tahun 2025 dengan tagline “Srikandi Unri 2022-2026 Kreatif, Amanah, Networking, Dedikasi dan Integritas”.
Tentunya dengan tagline ini menjadi hal yang memajukan universitas dengan pola dua program arah kebijakan, kemudian kampus merdeka dimana untuk mencapai tujuan PTNBH tahun 2025 dan go internasional dengan dukungan center of excellent di setiap fakultas dan wawasan kebangsaan yang menjadi sangat penting saat ini untuk menjadi negara bersatu dan kuat.
Berikut Profil Singkat Rektor Wanita Pertama Universitas Riau :
Prof Sri saat ini menjabat Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unri selama dua periode. Sebelum menjabat Dekan, wanita kelahiran Sungai Salak, Indragiri Hilir, 9 April 1965, pernah menjabat Sekretaris Jurusan Manajemen tahun 2001-2003.,Ketua Jurusan Manajemen 2 (dua) periode, Ketua Program Studi S2 Manajemen. Terakhir sebagai Wakil Dekan I (Bidang Akademik) FEB UNRI Periode 2010-2014.
Sejak SMP kelas 1, si sulung dari tiga bersaudara itu sudah terbiasa hidup mandiri dan jauh dari orang tua, Indarti kecil tinggal di desa dan jauh dari kota, sejak SMP Sri Indarti ngekos karena dari rumah ke sekolah butuh waktu satu malam perjalanan. Setelah lulus dari SMP Negeri 1 Rengat, dan SMA Negeri 8 Pekanbaru, Sri melanjutkan kuliah di jurusan Manajemen FEB Unri dan lulus pada tahun 1987.
Setahun menyandang sarjana, Sri langsung mengabdikan diri ke almamater sebagai dosen di jurusan Manajemen FEB Unri tahun 1988.Tahun 1994 setelah menikah dan mempunyai 2 orang anak, ia melanjutkan S2 di Universitas Andalas, selesai pada tahun 1997. Kemudian melanjutkan studi S3 di Universitas Brawijaya, selesai tahun 2010.
Atib Koambai merupakan ritual tolak bala yang terdapat di Kubu dan Kubu Darussalam Kabupaten Rokan Hilir. Bukan hanya sekedar menolak bala tapi lebih ke Ritual memuj ataupun memanjatkan doa kepada tuhan.
Dahulu di Kubu tradisi ini dilakukan oleh warga karena terdapat wabah penyakit kolera yang belum ada obatnya dan kemudian menurut cerita turun temurun dahulu pada tahun 1886 Kubu dilanda kemarau panjang dan
hujan tidak turun selama enam bulan dan masyarakat masyarakat melakukan atib koambai dan hujan pun turun selama satu hari satu malam. Masyarakat dan pemuka adat beratib (berdoa dan berzikir) dengan menggunakan sampan dengan tujuan membuang bala ke arah muara Sungai Kubu , pada saat itu sampan merupakn transportasi satu-satunya.
Uniknya Atib Koambai ini hanya diikuti oleh kaum laki-laki dan mereka mnggunakan pakaian berwarna putih melambangkan kesucian , acara ini dipimpin oleh seorang syekh. Sebelum atib dimulai peserta atib berkumpul di sebuah makam yakni makam Teuku Abdullah Pasai asal Aceh. Ulama ini menyebarkan Islam di Kubu pada tahun 1667.
Makam ini disebut dengan makam koambai (ke rambai), duluu di sekitar makam terdapat pohon rambai. Masyarakat biasanya selalu menggantungkan sesuatu di pohon tersebut, seperti kain putih dan lainnya dengan tujuan nazar, berniat dan sebagainya. Hingga saat ini masih terus menjadi sebutan, kaombai.
Selama berada di makam, seluruh peserta berdoa dan berzikir yang dipimpin oleh syekh. Lalu setelah itu azan dikumandangkan yang memberikan tanda bahwa atib akan segera dimulai.
Berikut Video Atib Koambai
Gua atau Rumah Batu Serombau memiliki bentuk unik yaitu bebatuan besar yang berjumlah tiga yang menyerupai jamur atau payung, dengan bagian bawah yang mengecil dan bagian atas yang melebar. Batu ini menyerupai rumah yang bisa dijadikan tempat berteduh orang-orang yang duduk di bawahnya sehingga Gua inni disebut rumah batu serombau.
Kondisi jalan yang masih tanah, berlubang dan tanjakan curam menjadi pemandangan ketika menuju ke air terjun Batu Tilam. Hanya mobil gardan ganda dan motor trail, atau motor dengan modifikasi khusus, yang bisa melewati jalan ini ketika musim hujan.
Air terjun Batu Tilam berada di mulut gua di deretan Bukit Barisan yang melintas di Kabupaten Kampar. Pandangan mata disuguhi hutan asri dengan udara sejuk yang menjadi keindahan alaminya. Ketika air terjun Batu Tilam mengalir deras membasahi dinding batu, butiran halus seperti embun menyelimuti lokasi itu sepanjang waktu.
Rimbang Baling Adventure yang dinakhodai Khairul Misbah memandu perjalanan kami menuju, Irul biasa disapa cukup sigap mengarahkan kemana putaran ban sepeda motor kami, tidak terhitung berapa kali kami terjatuh, mendorong sepeda motor , bermandikan keringat dan penat itulah yang kami alami selama menempuh perjalanan. Perjalanan menuju Kawasan Air Terjun Batu Tilam ini jauh dari
sentuhan infrastruktur maupun jaringan internet 4G, sekali kali di beberapa puncak kita bisa mendapatkan sinyal GSM untuk sekedar mengirim pesan SMS.
Tidak
gampang untuk ke Air Terjun Batu Tilam, butuh mental dan fisik yang
bagus, karena perjalanan menuju air terjun tersebut tidaklah melewati
jalanan aspal yang mulus, karena kita mesti melewati jalanan berpasir
dan berbatuan. Dari Kota Pekanbaru pejalanan dilanjutkan menuju Lipat
Kain dengan jarak tempuh lebih kurang 1,5 s/d 2 jam, kemudian perjalanan
dilanjutkan ke arah Taluk Kuantan dan sebelum Jembatan kita mengarahkan
laju kendaraan berbelok kanan ke Simpang Rakit Gadang atau yang lebih
dikenal dengan Simpang Gema/ Simpang Kuntu, dan perjalanan kita
lanjutkan hingga nantinya kita akan menemui persimpangan , jika kekiri
kita akan menuju Desa Gema, dan arah perjalanan kita adalah ke Kanan.
Lebih kurang 4 jam perjalanan ke dalam dengan berbagai kontur jalanan
yang ada yang berliku-liku dan mendaki dan menurun, jika musim kemarau
maka jalanan akan berdebu, begitu pula sebaliknya jika musim hujan,meka
jalan ini sangat sulit untuk dilalui. Sebelum kita sampai di Tujuan
yaitu Desa terakhir yang terdekat ke air terjun Batu Tilam di Desa Kebun Tinggi , kita melewati beberapa Desa di Kecamatan Kampar Kiri yaitu
Desa Lipat Kain Selatan, Desa Teluk Paman Timur, Desa Teluk Paman, Desa Tanjung Mas, Desa
Sungai Rambai, Desa Padang sawah,Desa Sungai Raja, Desa Muara
Selaya, dan kemudian kita melewati beberapa Desa di Kecamatan Kampar
Kiri Hulu yakni Desa Danau Sontul, Desa Tanjung Karang, Desa Deras
Tajak, Desa Batu Sasak, Desa Lubuk Bigau hingga akhirnya kami tiba di Desa Kebun Tinggi.
Di
kawasan air terjun Batu Tilam masih terdengar suara siamang dan
bermacam-macam jenis burung yang saling bersahutan. Berbagai macam kayu
hutan yang sudah langka juga masih bisa dijumpai di tempat ini, dengan
ukuran diameter kayunya besar-besar sehingga perlu 2-3 pelukan orang
dewasa untuk menggapainya.
Kebetulan kami sempat berbincang dengan Joni Kepala Desa Kebun Tinggi, Kades dengan antusias menyampaikan kepada kami saat ini ada lebih kurang 27 Air Terjun yang berada di Kawasan Desanya dgan ketinggian 10meter hingga 150meter, dan belum semuanya dapat digunakan untuk berwisata karena keterbatasan dan juga ada banyak ular di gua di kawasan air terjun. Kemudian Joni juga menyampaikan Rencana pembangunan Villa atau cottage serta perbaikan akses jalan ke Desa Kebun Tinggidan Joni juga menyampaikan bahwa untuk menuju ke Batu Tilam kita melewati wilayah sumatra Barat dan Kedepan jalan tersebut tidak akan dilewati dan akan dibuat jalan baru di wilayah Riau.
Saat ini objek wisata air terjun
Batu Tilam sendiri sudah dilengkapi fasilitas pondok peristirahatan , MCK, dan pengunjung jangan khawatir untuk makan, karena warga setempat bersedia menyediakan makanan untuk pengunjung. Destinasi wisata Batu Tilam yang terletak di Desa Kebun Tinggi Kecamatan Kampar Kiri Hulu Kabupaten Kampar pada tahun 2020 silam terpilih menjadi Juara Pertama Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 dalam kategori Surga Tersembunyi Terpopuler.
Penasaran bagaimana Air Terjun Batu Tilam serta akses perjalanan ke Air Terjun, saksikan video berikut :
Bicara tentang pariwisata di Bumi Lancang Kuning tak akan ada habisnya. Provinsi Riau memang punya segudang tempat menarik untuk dikunjungi, yang tak hanya untuk melepas penat namun juga punya nilai budaya yang syarat sejarah.
Misalnya saja, objek wisata Istana Siak , bangunan kokoh peninggalan Kesultanan Siak hingga Festival Pacu Jalur yang telah diadakan lebih dari 100tahun. Keduanya merupakan destinasi wisata yang mampu membawa wisatawan lokal maupun mancanegara berkunjung ke Riau terutama ke Siak dan Taluk Kuantan.
Pagi itu makanku cukup lahap, Sarapan buatan Sang Istri bagiku paling nikmat, sembari menikmati Sarapan ku asyik membaca berita di Tribunnews, berita tersebut sangat menarik perhatianku untuk berkunjung kembali ke Istana Siak.
Yang menarik, adalah informasi mengenai pemugaran untuk melestarikan bangunan peninggalan sejarah tersebut yang dilakukan oleh pihak swasta, yakni PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP/April Group). Menarik karena selama ini urusan pariwisata selalu dihandle oleh Dinas Pariwisata pemerintah setempat. Kali ini perusahaan penghasil pulp dan kertas yang beroperasi di Pangkalan Kerinci ini ikut serta untuk memajukan pariwisata berkelanjutan di Provinsi Riau dengan mendanai pemugaran.
Serah terima Istana Peraduan Sultan Siak dilakukan oleh Direktur PT RAPP Mhd Ali Shabri dan diterima oleh Bupati Siak Alfedri. Bapak Ali Shabri bagiku tidak asing karena pernah berurusan dengan beliau, sekitar 10Tahun lalu saat saya masih bertugas di Pangkalan Kerinci dan Pak Ali Shabri merupakan nasabah saya. Istana Peraduan alias rumah tempat istirahat Sultan Syarif Kasim II kini selesai dipugar dan pemugaran menelan biaya Rp3,2 miliar, pemugaran yang dilakukan PT RAPP sangat mewah dan megah , walau sudah dipugar, tetap mempertahan aslinya. Ada enam ruangan yang dipugar, yakni ruang tamu, ruang keluarga, diorama, kamar tidur utama atau bilik peraduan, ruang makan dan ruangan pembatas, termasuk interior dan eksterior gedung.
Selesai sarapan rasa penasaranku muncul untuk berkunjung kembali ke Istana Siak, kemudian ku panggil Istri, sayang kita Ke Istana Siak yuk jalan jalan. Dan akhirnya kami merencanakan perjalanan Ke Istana Siak bersama Istri.
Sebuah kerajaan Melayu Islam terbesar di Riau telah meninggalkan jejak yang cantik di bumi melayu dan nusantara, Istana Siak, itulah nama yang biasa disebut. Ini adalah kunjungan kesekian kalinya bagi saya,namun tidak pernah bosan untuk berkunjung kembali, kunjungan ini begitu spesial bagi saya karena berkunjung bersama Istri. Rasa penat menempuh perjalanan 2 Jam dari Pekanbaru hilang seketika ketika kami melewati sebuah jembatan Megah Jembatan Tengku Agung Sulthanah Latifah. Secara eksplisit jembatan ini menggambarkan masa keemasan dan Kejayaan Kerajaan Siak tempo dulu. Panorama hamparan kebun sawit berubah menjadi pemandangan nuansa melayu ketika kami melewati jembatan tersebut.
Bangunan Istana Siak bersejarah tersebut selesai pada tahun 1893. Pada dinding istana dihiasi dengan keramik khusus didatangkan buatan Prancis. Beberapa koleksi benda antik Istana, kini disimpan Museum Nasional Jakarta, Istananya sendiri menyimpan duplikat dari koleksi tersebut.Diantara koleksi benda antik Istana Siak adalah: Keramik dari Cina, Eropa, Kursi-kursi kristal dibuat tahun 1896, Patung perunggu Ratu Wihemina merupakan hadiah Kerajaan Belanda, patung pualam Sultan Syarim Hasim I bermata berlian dibuat pada tahun 1889, perkakas seperti sendok, piring, gelas-cangkir berlambangkan Kerajaan Siak masih terdapat dalam Istana, komet , kapal kato (kapal raja siak). Dipuncak bangunan terdapat enam patung burung elang sebagai lambang keberanian Istana. Sekitar istana masih dapat dilihat delapan meriam menyebar ke berbagai sisi-sisi halaman istana, disebelah kiri belakang Istana terdapat bangunan kecil sebagai penjara sementara.
Di ruang yang lain kita saksikan berbagai kursi meja baik dari kayu, kristal dan kaca tertata rapi di bawah lampu-lampu kristal berwarna-warni bergantungan di plafon istana, demikian pula berbagai bentuk almari dan berjenis senjata dari tembaga dan besi. Disamping itu terdapat pula aneka cinderamata yang merupakan hadiah dari para sahabat dan daerah di sekitar Siak.
Untuk mengetahui siapa saja tokoh-tokoh Kerajaan Siak di masa lalu dapat kita lihat melalui foto-foto berukuran besar yang terletak di dalam Istana Siak. Terdapat juga sebuah cermin yang menjadi milik oleh para permaisuri Sultan yang dapat membuat wajah semakin cerah dan awet muda bila sering bercermin di sana. Cermin ini dinamakan cermin Ratu Agung. Istana Siak adalah bukti sejarah kebesaran Kerajaan Melayu Islam yang terbesar di daerah Riau. Masa kejayaan Kerajaan Siak berawal dari abad ke-16 sampai abad ke-20, dan silsilah Sultan-sultan Kerajaan Siak dimulai pada tahun 1723 M dengan 12 Sultan yang pernah bertahta.
Disisi lain terdapat pula alat musik Komet yang dibuat secara home industri di Jerman yang memiliki piringan dengan garis tangan sekitar 90 cm berisikan lagu-lagu klasik dari Mozard dan Bethoven.Konon barang ini hanya ada dua di dunia yaitu di Jerman sebagai pembuat dan di istana Siak.
Dan terakhir Istana Peraduan menjadi tujuan saya bersama istri, walau telah dilakukan reovasi bentuk asli bangunan tetap dipertahankan. Tidak hanya sekedar melakukan pemugaran Istana Peraduan tetapi RAPP juga berkontribusi menukung Riau sebagai destinasi wisata berbasis budaya.
Namun, pada akhirnya, pengembangan pariwisata tersebut bermuara pada kontribusi dan tanggung jawab pribadi kita masing-masing sebagai pelancong dan pengunjung, tidak hanya sebagai Tanggung Jawab Dinas Pariwisata, Menteri Pariwisata, RAPP ataupun perusahaan lainnya. Yuk kita sama -sama lestarikan pariwisata dan sejarah bangsa kita bersama-sama !
Apakah Anda sedang mencari-mencari tempat hits yang Instagramable? Yuk, masuk ke Asia Farm. Anda tidak perlu keliling dunia untuk berjalan-jalan di jalanan Eropa atau Jepang, karena sekarang Anda bisa datang ke Asia Farm di Pekanbaru dan berfoto, di destinasi agrowisata ini anak-anak memberi makan dan berphoto dengan kelinci, ayam, burung, dan kambing.
Harga tiket masuk Asia Farm Pekanbaru cukup terjangkau. Tiap orangnya
hanya perlu membayar Rp 25.000 saja. Untuk jam operasionalnya dimulai
pukul 09.00 - 18.00 WIB setiap hari Senin - Jumat. Sedangkan, setiap
hari Sabtu - Minggu jam operasionalnya dimulai pukul 08.00 - 18.00 WIB.Tiket juga dapat diperoleh secara online di Blibli, Klook, Traveloka
Selama
masa pandemi, pengunjung harus mematuhi protokol kesehatan yang telah
ditetapkan. Pengunjung harus melakukan pengecekan suhu tubuh dengan
batas suhu yang sudah ditentukan, mencuci tangan secara berkala, memakai
masker dan menjaga jarak dengan pengunjung lainnya.
Asia Farm bukan sekedar objek wisata biasa, tempat ini bagus untuk liburan bersama keluarga ada edukasi untuk anak-anak tentang yaitu bercocok tanam
dan bisa memberikan makan untuk hewan ternak. dan juga serta bioskop yang menayangkan film-film bertema
edukasi. Asia Farm menghadirkan 68 spot yang instagramable
dan 22 wahana permainan buat memanjakan para pengunjung serta wisatawan. Penasaran dengan Asia Farm, silahkan tonton video berikut :
Batik Indonesia telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi pada tanggal 2 Oktober 2009, sejak saat itu tanggal 2 Oktober diperingati sebagai hari Batik Nasional. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, batik dijelaskan sebagai kain bergambar yang dibuat secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam (lilin) pada kain, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu, atau biasa dikenal dengan kain batik (Ari Wulandari). Abiyu Mifzal juga menambahkan batik berasal dari bahasa Jawa yaitu “amba” yang artinya titik atau mantik (kata kerja membuat titik), yang kemudian berkembang menjadi istilah “batik”, yang berarti menghubungkan titik-titik menjadi gambar tertentu pada kain yang luas atau lebar .
Batik Bono merupakan pengrajin batik yang tergabung dalam Usaha Kecil Menengah hasil program binaan PT.RAPP, yang diberi nama Rumah Batik Andalan. Rumah Batik Andalan berdiri pada tanggal 1 Desember 2013 yang diketuai oleh Ibu Siti Nurbaya, dan telah memproduksi batik sejak tahun 2015. Batik hasil produksi Rumah Batik Andalan ini diberi nama batik Bono, Bono merupakan objek wisata andalan Kabupaten Pelalawan. Gelombang Bono menjadi Objek utama yang dituangkan dalam media kain hingga menjadi Batik, tidak hanya Gelombang Bono saja, Rumah Batik Andalan juga menggunkan motif Flora dan Fauna yang ada di Pelalawan sebagai motif Batik yaitu Daun Akasia, Daun Eukaliptus, Timun Suri, Lakum. dll.
Pemilihan warna cerah menjadi salah satu ciri khas batik Bono , warna merah, kuning dan hijau mendominasi Batik Bono, Batik Bono ini bisa didapatkan melalui pemesanan Online di Akun Instagram Rumah Batik Andalan dan dijual dengan Harga sekitar Rp.300.000,- hingga Rp.700.000,-. Hasrinaldi salah satu pengguna Batik Bono mengungkapkan bahwa ia telah memiliki belasan Batik Bono, dan ia sudah langganan sejak dari dulu dan ia juga selalu menghadiahkan Batik Bono kepada teman-temannya yang berada di luar kota. Ia mengungkapkan Bahwa Batik Bono cukup berkelas dengan perpaduan warna, motif dan juga kainnya yang premium.
.
Sumber :
Bangunan yang ada sekarang sudah ditambah dengan bangunan baru yang berfungsi sebagai dapur yang berada dibagian belakang dan menyatu dengan bangunan induk yang berada di bagian depan.
Luas bangunan asli adalah 153 m2. Jika ditambah dengan bangunan baru, maka luasnya menjadi 270 m2. Bangunan ini merupakan tipe rumah panggung yang di bagian bawah (kaki) terdiri dari struktur semen dan bata merah, sedangkan struktur di atasnya (tubuh) merupakan bangunan kayu. Bangunan ini mempunyai beranda depan yang diapit (kanan dan kiri) oleh dua buah tangga/jenjang yang merupakan jalan masuk utama. Jenjang tersebut masing-masing terbuat dari struktur semen dan bata merah.
Bangunan ini terbagi ke dalam beberapa ruangan yang berada di lajur kanan dan kiri. Antara kedua lajur ini dibatasi oleh sebuah lorong yang berada di tengah-tengah sebagai pemisah sekaligus sebagai jalan utama keluar-masuk rumah. Pemilik rumah ini, almarhum H. Nawawi, merupakan pengusaha sukses di Jakarta. Sekarang rumah ini ditempati oleh salah seorang kerabat H. Nawawi.
Tengku Bagus Syaid Thoha masih merupakan kerabat dari dari Sultan Syarif Kasim. Dia merupakan salah satu tokoh dibidang agama islam di Bengkalis. Tengku Bagus Syaid Thoha ini diperkirakan hidup tahun1800-an masehi.
Makam ini terletak satu kompleks dengan pemakaman umum. Jirat makam ini berundak-undak dari keramik warna hijau. Nisan makam ini dua buah yaitu bagian kepala dan kaki yang terbuat dari batu andesit berbentuk gada. Di sebelah timur laut makam Tengku Bagus Syaid Thoha terdapat makam istri abang Syarif Kasim. Makam ini dilengkapi dengan dengan cungkup dan pagarkeliling. Makam Tengku Bagus Syed Thoha berukuran 2,30 x 1,5m dan tinggi 0,5m.
Sumber :
Tugu ini terletak di Desa Alah Air, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Merantl, Provinsi Riau. Dilokasl tunggu lni merupakan tempat jatuhnya bom yang dijatuhkan oleh Belanda pada masa Akgresi Belanda ke II, atau semasa Pemerintahan Darurat Republlk Indonesia (PDRI) tahun 1949. Pembuatan tugu ini merupakan inisiatif dari tokoh rnasvarakat di Selat Panjang. Karena dengan adanya pembuatan tugu ini diharapkan adanya pentransferan nilai perjuangan dari generasi terdahulu kepada generasi sekarang dan generasi yang akan datang.
Tugu ini terletak di komplek sekolah SD 23 kecamatan Tebing Tinggi. Tugu ini dijadikan sebagai simbol kepahlawan oleh masyarakat di Kabupaten Kepulaun Meranti dalam mempertahankan kemerdekaan. Dulunya disekitar tugu ini
merupakan merupakan Sekolah Rakyat (SR) yang dibangun pada tahun 1947 dan dimotori oleh Bapak Sarmin (almarhum). Bangunan Sekolah ini telah direnovasi total dan bentuk , bentuk bangunan lama dari SD ini bisa dilihat dari foto-foto yang terdokumentasi pada saat sekolah ini berdiri yailu sekitar tahun 1947.
Tugu ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Tidak Bergerak Kabupaten Kepulauan Meranti oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat dengan Nomor Inventaris Cagar Budaya : 13/BCB-TB/B/12/2013.
Sumber :
Cagar Budaya Tidak
Bergerak Kabupaten Kepulauan Meranti oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat.


















