Venue Cabang Olahraga Gulat dan Judo pada event olahraga terbesar tanah air PON XVIII Riau tahun 2012 berada di Gedung Pusat kegiatan Mahasiswa (PKM) UIR (Universitas islam Riau).
Riau merupakan salah satu provinsi terbesar di Indonesia jauh sebelum Kepulauan Riau berpisah menjadi provinsi sendiri pada saat itu. Ya, sebelumnya, Riau dan Kepulauan Riau adalah satu provinsi. Negeri melayu ini sungguhlah luas, bermula dari ranah Kampar, Kuantan hingga terus ke utara, lingga, penyengat,johor, hingga Natuna. sesuai dengan ungkapan adat berikut ini :

Lurus adat sambung lembaga
Melebah luas ranak samudera
Ukuran negeri Utara - Selatan
Ranah Kuantan hinga Natuna
Riuh menyeluruh Siak-Indragiri
Rokan Kampar berbaur umbi
Adat dan syara' bersanding jati
Pinang sebatang tuah negeri


Pasca kemerdekaan di Indonesia, masih terdiri dari beberapa  provinsi. Seperti provinsi Sumatera yang dibagi menjadi sumatera bahagian Utara, Sumatera Bahagian Tengah, dan Sumatera Bahagian Selatan. Di Jawa, ada provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat, Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, selebihnya Sulawesi (celebes), Kalimantan (Borneo), Nusa Tenggara, dan Irian-Maluku (Indonesia Timur). RIAU sendiri saat itu tergabung dalam Provinsi Sumatera Bagian Tengah bersama Sumatera Barat dan Jambi.  Bagaimanakah cerita sejarah hingga sampai terbentuknya sebuah provinsi Riau ini ? Dan siapakah pahlawan dan tokoh yang begitu cerdas dan berani memperjuangkan Riau menjadi sebuah provinsi sendiri , merdeka dari otoriternya sumatera tengah sehingga manfaat daripada kemerdekaan berdiri nya provinsi ini dapat kita rasakan dengan lajunya pembangunan.

Bapak (Alm) H. Wan Ghalib bersama beberapa tokoh lainnya menjadi tokoh sentral sentral dalam perjuangan pembentukan Provinsi Riau.  Bapak (Alm) H. Wan Ghalib mendedahkan kronologis perjuangan sejarah, dengan membuka lembaran ingatannya. Menurut mantan Ketua Penghubung di Jakarta dalam perjuangan Provinsi Riau ini, awalnya keinginan untuk menjadikan residen Riau sebagai sebuah provinsi, dilatarbelakangi untuk sebuah keadilan bagi masyarakat Riau. Karena memang Provinsi Sumatera Tengah yang memiliki tiga Residen yaitu Jambi, Riau, dan Sumbar. Karena pusat pemerintahan terdapat di Residen Sumatera Barat, Riau memang tidak terlalu terperhatikan oleh pemerintah provinsi. Karena karakteristik daerah yang berbeda, sehingga pemahaman visi dari masing-masing residen tidak bisa bersatu. Ditambah lagi ada kesan pihak pemegang kekuasaan di Sumatera Tengah selalu memaksakan diri setiap kebijakan yang diambilnya. Ide pendirian provinsi awalnya hanya ada tingkat elit dan tokoh masyarakat Riau. Namun saat itu pihak Provinsi Sumatera Tengah tidak mau memberikan apa yang diinginkan Riau, sehingga munculah intimidasi upaya penghalangan, ungkap Wan Ghalib.


Saat ini pembangunan Gedung KPK menjadi pembicaraan yang ramai. Dewan Perwakilan Rakyat menolak permohonan penambahan anggaran untuk membangun Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi. Akibat penolakan ini, muncullah wacana pembangunan Gedung KPK itu didanai dari saweran rakyat. Masyarakat di berbagai Kota di Indonesia, secara swadata melakukan sumbangan untuk KPK.

Gedung Kantor KPK tidak hanya ada di jakarta, tetapi di Riau juga ada,tepatnya di kota Pangkalan kerinci terdapat Kantor KPK. Tetapi KPK yang dimaksud bukanlah Komisi pemberantasan korupsi tetapi Koran Pemantau Korupsi.





                                 
Pekanbaru Ibu Kota Provinsi Riau tengah bersolek dalam menghadapi Perhelatan Olahraga terbesar di tanah Air. Berbagai infrastruktur dibangun, infrastruktur yang ada dipercantik. Beberapa fasilitas gedung Olahraga dibangun dengan Konsep Green, Bandara diperbesar,begitupula dengan sarana transportasi, salah satu diantaranya pembangunan 2 (dua) fly over di ruas jalan Jenderal Sudirman.

                        

                
Pembangunan 2 fly over di ruas Jalan Jendral Sudirman mempercantik tata ruang Kota pekanbaru, pembangunan fly over dimaksudkan untuk mengurangi kemacetan lalu lintas. Fly over berornamen Melayu yang merupakan cerminan semangat inovasi dan nilai-nilai perkembangan, kebersamaan dan kekompakan masyarakat Melayu di Bumi Lancang Kuning.
Masyarakat Riau  selalu ramah dan hangat menerima siapa pun yang datang ke daerah Riau, dengan muka jernih dan hati yang bersih.

                                

Tak khayal lagi kiranya fly over tersebut pantas disebut kombinasi  kultur melayu dan modernisasi, fly over tersebut dibangun dengan megah secara modern dan tanpa menghilangkan kultur dan identitas lokal melayu. Kombinasi motif dan pilihan warna dengan nuansa kultur Melayu menjadikan jembatan layang itu kian menawan. Bangunan dengan ornamen Melayu itu, tentu membuat masyarakat tempatan dan pendatang menyadari sedang berada di Provinsi Riau yang kental dengan budaya Melayu.

                               


Motif Pucuk Rebung Khas melayu, motif itik pulang petang dan perahu lancang kuning  menghiasi beberapa bagian dari fly over. Dan semua ornamen dan motif khas melayu tersebut diberi warna dengan warna khas melayu. Dari motif  pucuk rebung, itik pulang petang hingga perahu lancang kuning tampak tertata rapi di bangunan yang akan menjadi kado Hari Ulang Tahun Provinsi Riau ke-55 itu.

                                                   

Provinsi Riau memiliki Visi Riau 2020 yaitu menjadikan Riau sebagai Pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara, dan fly over dengan motif Melayu merupakan wujud keseriusan Pemerintah Provinsi Riau dalam mendukung pengembangan budaya Melayu menuju Visi Riau 2020. Selain itu fly over dengan sentuhan motif Melayu ini  juga menjadi ajang sosialisasi bagi dunia luar.

                               





  
Sekitar abad 15, Kerajaan malaka diserang oleh Portugis dan Raja Malaka beserta pengikutnya melarikan diri. Dalam pelariannya Sutan Mahmud Raja Malaka melakukan pelarian ke Penyengat, kemudian menelusuri Sungai Kampar hingga akhirnya ia menetap dan tinggal di kampar serta memerintah dan meninggal di kampar, beliau membentuk Kerajaan baru yang disebut Kerajaan Kampar.

Ada 2 versi yang menyatakan makam sultan Mahmud malaka. Lokasi  yang terdapat dalam kitab sulatus salatin itu berada di Kampar, ada yang menyatakan makam beliau ada di pekantua  pelalawan. Namun perlu kita ketahui bahwa dulunya Pelalawan merupakan bagian dari kampar. Menurut versi Kerajaan Pelalawan Sultan mahmud merupakan Raja dari Kerajaan Pekantua Kampar.

Topi Kebesaran Datuk Somok (Ninik Mamak) yang telah berusia 200tahun.
Di sini kami sedikit mengulas tanpa ada maksud apapun,maupun tendensi kepada pihak lain, semua yang kami tulis diperoleh langsung dari nara sumber ninik mamak,datuk dan tokoh masyarakat. Tidak banyak bukti ataupun peninggalan dari Kerajaan Kampar peninggalan dari Sultan Mahmud Raja dari malaka. Menurut datuk Somok yang merupakan Ninik Mamak di Koto Perembahan Kampar Timur yang telah berumur 94 tahun, Istana Kerajaan telah dibongkar pada tahun 70an, dan dilokasi kerajaan terdahulu kini dibangun sebuah Sekolah Dasar. Datuk Somok menceritakan Istana tersebut berbentuk rumah lontiok yang ukuran nya besar dengan tiang-tiang yang besar, di dalam istana tersebut banyak tersimpan keris,tombak,meriam, lelo,pedang,peti dll namun ketika istana itu di robohkan barang tersebut ikut raib, catatan – catatan manuskrip juga tidak ada di temukan lagi dan satu-satunya  yang tersisa dan disimpan dengan baik yaitu cap /stempel sultan yang di pegang oleh turun – temurun oleh pemangku dan disimpan di rumah siampu atau rumah suku.



Selain stempel,kiranya bukti lain yang merupakan peninggalan Sultan malaka adalah sebuah mesjid, mesjid yang terletak di Dusun Pd Merbau Barat Desa Koto Perambahan kecamatan kampar Timur Kabupaten Kampar ini dinamakan Mesjid Kubro. Menurut cerita Ninik mamak dan Masyarakat di Desa Koto Perambahan secara turun temurun mesjid ini dibangun pada masa Sultan Mahmud raja dari malaka, mesjid ini telah direnovasi berulang-ulang kali dengan tanpa merubah wujud asli dari mesjid tersebut.

Dalam Mesjid Kubro
Renovasi Terakhir Mesjid Kubro (17-2-74

Kami sempat berbicara dengan Datuk Somok dan datuk majo besar Suku Pitopang, mereka berkisah, ketika itu Melaka di serang oleh bangsa portugis karena sultan Mahmud ini kalah dalam peperangan maka beliau melarikan diri, pelarian pertama nya beliau merapat ke Pulau Penyengat,namun karena masih di kejar oleh pihak portugis sehingga Sultan Mahmud melanjutkan pelariannya dengan menelusuri Sungai Kampar hingga akhirnya ia merapat disuatu tempat yang dinamakan dengan Perambahan. Sultan kemudian menjadi sultan di daerah tersebut, ada 13 sultan yang pernah memimpin. Makam Sultan terakhir terdapat di Desa Koto Perambahan,dan sampai kini makam tersebut masih terawat, saynagnya kami tidak sempat mendokumentasikan gambar makamnya,kami hanya melihat makam tersebut dari kejauhan.

                  
Kubah Mesjid Kubra
Kubah Mesjid Kubra dengan motif melayu