Cegak merupakan tarian tradisi pengobatan suku Bonai di Rokan Hulu. Penari cegak berpakakan daun pisang yang sudah kering dan muka mereka ditutup dengan kulit kayu, tarian ini diiringi musik bebano dan pembacaan mantra dan syair.


Cegak artinya sembuh. Tari Cegak merupakan representasi dari kisah tragedi lima orang masyarakat Suku Bonai dalam menuntut ilmu kebatinan.

 
Asal mula tarian ini dimulai oleh lima orang pemuda Suku Bonai yang sedang mempelajari ilmu kebatinan. Karena mendapat perlawanan dari para penguasa, mereka melarikan diri dan mendapati jalan buntu sehingga mereka bersembunyi di kebun pisang, kemudian memakai ilmu kebatinan yang baru dipelajari dengan cara menghilang dan menyerupai manusia dengan berpakaian daun pisang. Meskipun berhasil, akan tetapi mereka tidak bisa merubah wujud mereka kembali ke wujud asal.
Randai Kuantan Singingi  merupakan sebuah kesenian unik yang memperlihatkan berbagai cerita rakyat, yang dibawakan dalam sebuah pertunjukan teater seni tradisional. Kesenian ini dimainkan oleh sekelompok orang yang berjumlah sekitar 15 hingga 30 orang dalam sekali pementasan. Terdapat beberapa peran penting, seperti tokoh cerita serta peran pendukung lainnya, dalam pertunjukan kesenian yang juga dimainkan oleh mayoritas anak muda yang juga sering disebut dengan nama Randai Bujang Gadi.

 


Kesenian ini identik dengan berbagai tingkah serta atraksi dari para pemain yang mampu mengundang gelak tawa dari para peonton yang menyaksikannya. Hal ini dikarenakan terdapat berbagai lawakan-lawakan khas dan juga unik, yang pastinya akan menjadi sajian untuk kita nikmati dalam pertunjukan kesenian Randai Kuantan. Salah satu daya tarik yang mampu mengundang kelucuan dalam kesenian ini  adalah tokoh yang diperankan  oleh laki-laki yang  berperan sebagai wanita, dan begitu juga sebaliknya para pemain wanita yang memerankan diri menjadi laki-laki.
 

Selain di Kuantan Singingi , Randai juga ada di Sumatra barat ,jika di Sumatra Barat tarian randai dikombinasikan dengan Gerakan Silat. Menurut Budayawan Riau asal Kuantan Singingi UU Hamidy, bahwa Randai di daerah Kuansing, erat hubungannya dengan kedatangan perantau-perantau Minang. Randai mulai dikenal di perkampungan sepanjang sungai kuantan Indragiri Riau, kira-kira tahun 1937. Ketika itu keadaan ekonomi rakyat didaerah itu cukup baik. Harga getah cukup mahal, lagipula banyak petani atau peladang getah yang diberi subsidi oleh Belanda. Ekonomi yang baik ini telah mendorong datangnya perantau-perantau Minangkabau ke Kuantan Singingi.


Pertunjukan Randai menjadi spesial bagi Orang Kuantan Singingi, terutama bagi perantauan asal kuantan Singingi, perantauan Asal Kuantan Singingi  melestarikan Randai ini di tempat ia tinggal dengan rutin menggelar pertunjukan Randai dan mereka akan mengundang sesama  Perantauan Asal Kuansing untuk menyaksikan Randai. Perantauan Asal kuansing akan mengadakan Randai jika melangsungkan pernikahan, acara khitanan, syukuran kelahiran anak, Khatam Quran dan acara lainnya.

Pertunjukan Seni Randai menampilkan cerita yang disajikan dalam  Dialog  dan diiringi oleh Musik Calempong sambil berjoget dengan membentuk lingkaran, para penari atau Anak Randai  dengan semangat berjoget sambil berjalanan dan berkeliling membentuk lingkaran dan Induk Randai bercerita dan memimpin Jalannya Randai dan Para Penonton akan terbahak ketawa mendengar Dialog Induk randai dan Anak Randai dan tentunya Penampilan Anak Randai Laki Laki yang menjadi Wanita dengan berpakaian Wanita  dan juga Bando di kepala akan menjadi menarik perhatian penonto. Kacamata dan Syal serta peluit menjadi perlengkapan wajib dalam kesenian Randai, Anak Randai berjoget mengelilingi lingkaran sambil meniup peluit dengan membentuk irama tertentu dan menyatu dengan hentakan kaki.

Kini Dokumentasi Kesenian randai banyak dijual dalam Bentuk Kepingan CD baik dalam bentuk MP3 maupun Video, dan CD Randai tersebut menjadi lagu Wajib di Kendaraan Roda Empat bagi Perantauan Asal kuantan Singingi, Syafri Depi Pegawai Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru perantauan Asal Desa Simandolak Benai kuansing menuturkan ia menjadikan Lagu Randai sebagai Nada Dering Handphone, menurutnya Lagu Randai dengan judul Sayang den Du menjadi favorit ia dan Keluarga.




 Susunan Acara Penampilan Randai
  1. Pembukaan
    Para pemain berbaris dua-dua lalu memasuki arena, diiringi dengan musik lagu pembuka, misalnya, “Bunga Setangkai”. Barisan ini dipandu “tukang peluit” yang meniup peluitnya sesuai irama musik. Lalu mereka berjoget mengelilingi lokasi hingga membentuk lingkaran. Jika lagu telah selesai, tukang peluit meniup peluitnya sembari memberi kode telah selesai. Barisan randai yang ada lalu meneriakkan “hep heeep ta”, kemudian jongkok ataupun duduk dengan posisi melingkar.
  2. Sambutan
    Pemandu acara meminta induk randai dan tuan rumah yang memiliki hajatan untuk menyampaikan kata sambutan. Ia juga meminta ketua randai untuk menyampaikan petatah petitihnya. Kemudian, para anak randai berdiri dan berjoget mengelilingi arena, selanjutnya mereka duduk lagi.
  3. Bercerita
    Pemandu menyampai isi cerita yang akan dimainkan, lalu anak-anak randai pun berakting sesuai dengan alur cerita yang disampaikan. Setiap adegan diawali dengan cerita dari pemandu dan ditutup dengan tarian atau joged.
  4. Istirahat
    Setelah sekitar 2 jam, biasanya permainan diistirahatkan. Waktu istirahat ini biasanya diisi dengan lelang lagu dan joged oleh para bujang gadih (pemeran laki-laki atas peran perempuan) yang disaksikan para penonton.
  5. Penutup
    Pada saat penutupan, biasanya dinyanyikan lagu “Gelang Sipaku Gelang”. Para anak randai pun berjoged mengelilingi arena sembari berjalan ke luar. 

Kini Pertunjukan randai bukan hanya sekedar Kesenian tetapi telah menjadi Sebuah Identitas dan Jati Diri bagi Kuantan Singingi.


Pada Tahun 2016 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah  menetapkan 150 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan Randai menjadi salah satu dari Warisan Budaya Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201600309.


Pada pembukaan Festival Pacu Jalur ke-116 pada Tanggal 21 Agustus 2019   Museum Rekor Indonesia (MURI) telah menetapkan Sebuah Rekor Baru dengan Nomor Register : 9124 kepada Kabupaten Kuantan Singingi yang telah mempersembahkan tari randai yang diikuti oleh 1.574 penari dari seluruh lapisan masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi. 





Sumber :
  • https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/randai-kuantan-warisan-budaya-takbenda-indonesia-2016
  • Dialog dan Wawancara dengan Tokoh Masyarakat Kuantan Singingi
  • Youtube (Randai )



Ratik Togak yang telah dilakukan oleh nenek moyang kita dahulu salah satu tujuannya adalah untuk mengagungkan Asma Allah sembari berdo’a kepada Allah SWT, memohon petunjuk, berkah serta keselamatan agar negeri kita ini senantiasa berada dalam lindunga-Nya.”. Ratib togak, Ratik Bosa, Ratik Togak, Ratib Saman, Rakib Saman dan berbagai macam nama lainnya.

Ratik Togak di daerah Riau khususnya di Rokan Hulu sudah menjadi tradisi bahkan Rakib Togak atau Ratik Togak menjadi sebuah Tugu, tugu ini persis berada di depan Islamic Centre yang begitu megah. Ratik bermakna zikir, ratib. Ianya dilakukan oleh kaum tasawuf/ sufi untuk mencari puncak kenikmatan berzikir, dinamakan juga sebagai ratik soman (ratib tharikat Samaniah). Zikir seperti ini biasanya dilaksanakan pada penutupan khalwat 41 hari jamaah thariqat. Semacam kenduri keluar dari suluk. Ianya khusus dilakukan oleh kelompok jamaah thariqat (sufiah) dan tidak mengajak orang lain atau masyarakat umum. Sufi punya cara tersendiri dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah. Upaya mencari jalan halus menuju Allah itu ditempuh mengikuti wasilah guru Thariqat yang turun temurun. Beragam zikir dilakoni mulai dari yang seperti ini (dalam kenduri Thariqat) hingga zikir Sirr atau sampai pada Zikir Fana (tanpa gerak lisan dan tubuh). Bacaannya menurut zikir yg diajarkan Rosulullah. Tidak ada ucapan fasik dan munkar dalam zikir tersebut. Mereka juga menjaga adab serta kehalusan perasaan di hadapan Allah. Jika ingin merasakan nikmat Zikir Sufiah Thariqat Muktabaroh, harus masuk dulu jadi jamaah. Murid dibimbing oleh guru atau tuan syaikh (guru besar).


Pada Tahun 2018 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah  menetapkan 225 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dan Ratik Togak menjadi salah satu dari Warisan Budaya Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201800635.




Puluhan  ikan Koi  berseliweran di parit yang temboknya serta Trotoar di Sekitar parit tersebut di cat warna warni dan spontan Pemandangan unik ini menjadi viral bagi warga Kota Pekanbaru




Trotoar dan drainase ini persis berada di depan Kantor Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Riau Jalan Jendral Sudirman Pekanbaru. Sekitar 30 ekor Ikan Koi ini disebar di parit tersebut, Parit ini menjadi habitat Ikan Koi dan pada parit tersebut diberi pembatas berupa jaring kecil dengan tujuan Ikan tersebut tidak berpindah ke Parit lain, Pemandangan ini menjadi viral bahkan pantauan kami disekitar Trotoar tersebut terlihat beberapa Kendaraan terparkir hanya untuk berswaphoto dan juga memberi makan ikan tersebut.


Sayangnya air dalam parit tersebut tidak terlalu jernih sehingga keberadaan Ikan tidak terlihat begitu jelas. 

Keberadaan Ikan dalam parit di Indonesia merupakan fenomena yang hampir ada di setiap daerah , seperti di Bandung, Banyuwangi dan Yogyakarta, namun di Riau ataupun Pekanbaru ini adalah yang pertama dan semoga Drainase lain dapat disulap menjadi tempat habitat ikan.

Menurut Indra Agus Lukman Kepala Dinas ESDM Provinsi Riau , ide parit unik ini berasal dari Gubernur Riau dan Wakil Gubernur Riau ketika mereka melihat hal demikian di Luar Kota (#)


Museum Sang Nila Utama Provinsi Riau menggelar Pameran Bersama Museum se-Sumatera, Pameran bersama museum se-Sumatera ini berlokasi di Museum Sang Nila Utama  yang terletak  di Jl. Jenderal Sudirman Pekanbaru. Pameran berlangsung sejak tanggal 26 September hingga 24 Oktober 2019 dari pukul 08.30 sampai dengan 17.00 WIB. Pameran Bersama Museum Sumatera menggelar Pameran Senjata Tradisional Se-Sumatera dan Pameran yang di Pekanbaru ini adalah Pameran Museum Bersama yang ke 5 dan sebelumnya telah dilakukan di Provinsi yang berbeda dan tiap Provinsi bergilir menjadi Tuan Rumah. Pada Pameran kali ini memamerkan sebanyak 79 senjata tradisional yang  berasal dari Aceh 7 koleksi, Sumatera Utara 12 koleksi, Sumatera Barat 8, Riau 16 koleksi, Jambi 7 koleksi, Bengkulu 12 koleksi, Sumatera Selatan 9 koleksi dan Lampung 8 koleksi.

Pameran Museum ini diikuti oleh 8 Museum Provinsi di Sumatera yaitu Museum Sang Nila Utama Riau selaku Tuan Rumah,  Museum Negeri Nagroe Aceh Darussalam, Museum Negeri Sumatera Utara,Museum Adityawarman Sumatera Barat, Museum Siginjei Jambi, Museum Negeri Bengkulu,Museum Bala Putera Dewa Sumatera Selatan, Museum Ruwa Jurai Lampung



Pameran Bersama Museum se- Sumatera ini bertajuk "Senjata Tradisional Sumatera" dengan tema Senjata Tradisional Dalam Bingkai Kehidupan Sosial dan Budaya Masyarakat Sumatera. Berdasarkan pantauan kami Pameran bersama ini cukup di repon masyarakat Pekanbaru dan seitarnya, terutama Pelajar yang ada di pekanbaru, Ela salah satu pelajar SD di pekanbaru menuturkn bahwa ia mendapat tugas dari Guru untuk melihat pameran dan juga mencatatnya. Ibu Agustina Guru Pendamping Ela menuturkan kami cukup berterima kasih kepada Dinas kebudayaan Riau yang menggelar Pameran Bersama ini, cukup banyak tambahan pengetahuan bagi kami, minimal kami menetahui dan melihat langsung Senjata senjata yang ada di Pulau Sumatera.

Senjata Tradisional Upacara Adat Se-Sumatra
Pameran Senjata Tradisional Sumatera ini dapat digolongkan atas :
  • Senjata untuk mengolah makanan merupakan senjata yang digunakan untuk mengolah makanan berupa senjata tajam untuk memotong hewan atau tumbuhan.
  •  Senjata untuk berburu.
  • Senjata untuk membela diri.
  • Senjata untuk menyerang
  • Senjata untuk upacara adat
  • Perubahan Fungsi Senjata dipakai untuk beberapa fungsi lainnya seperti pertunjukan debus/dabus.
  • Perkembangan senjata tradisional, yaitu perubahan nilai dan fungsi senjata yang digunakan sebagai hadiah (souvenir), hiasan, lambang daerah, tugu.


Senjata koleksi dalam Pameran Senjata Tradisional se-Sumatera 2019
  • Senjata Mengolah Makanan
    1. Parang Enggano
    2. Parang Pendek
    3.  Palitei
    4.  Pisau Tumbuk Lado
    5. Sumateralith Kapak Genggam
    6.  Parang Pendek


      Senjata Tradisional Berburu se SumateraAdd caption

  •  Senjata Berburu
    1. Buk-buk
    2. Mata Tombak
    3. Panah
    4. Panah Sakai
    5. Serampang Mata Satu 
    6. Serampang Mata Tiga 
    7. Sumpit 
    8.  Sumpit Suku Sakai
    9. Tombak 
      Senjata Tradisional Membela Diri se Sumatera


  • Senjata Membela Diri
    1. Badik
    2.  Kerambit
    3.  Kuduk
    4. Pedang Palembang
    5. Pengganda Berukir
    6. Pudoi
    7. Pukulan Kayu Runggam 
    8. Rencong 
    9. Skin
    10. Tameng 
    11. Tombak 
    12. Tongkat Sumam
      Senjata Tradisional menyerang se Sumatera

       
  •  Senjata Menyerang
    1.  Beladau
    2. Gala Rimbau
    3. Jenawi
    4. Keris (Tiap Daerah di Sumatera memiliki berbagai jenis Keris)
    5.  Pedang
    6. Pedang Portugis
    7. Peudeung 
    8. PeudeungTumpang Jeungki 
    9. Piso Halasan 
    10. Sondang
    11. Tologu 
    12. Tombak Berambut 
    13. Tombak Berluk
    14. Tumbuk Lado 
    15. Tombak Raja Kampar
    16. Trisula 
    17. Umban Tali
  • Senjata Upacara Adat
    1. Gambik
    2. Keris
    3. Keris Berluk
    4. Keris Tidak Berluk 
    5.  Keris kuno
    6.  Keris Terapang
    7.  Pedang Kelewang
    8. Pisau Jantan
    9.  Rambai Ayam
  •  Senjata Berubah Fungsi
    1. Mata Dabus
    2.  Serampang Trisula
    3. Slope
    4. Trisula
  • Perkembangan Senjata Tradisional
    1. Maniatur Baluse
    2. Tameng