Tampilkan postingan dengan label SOUVENIR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOUVENIR. Tampilkan semua postingan



Dalam rangka mengembangkan dan melestarikan songket sebagai salah satu produk budaya melayu Riau sekaligus memperingati Hari Ibu, Pemerintah Kota Pekanbaru bekerjasama dengan Hj. Evi Meiroza Herman
(Puan Sri Julang Songket Negeri) menyelenggarakan pembuatan tenun songket terpanjang, dengan ukuran panjang 45 meter dan  lebar 60 cm. Tenun Songket ini didaulat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Songket Terpanjang di Indonesia.













Artikel Terkait :
BATIK RIAU
PENCIPTA BATIK RIAU
Tanggal 25 Mei 2012 lalu Riaudailyphoto.com berkesempatan ngobrol-ngobrol dengan pemilik Semat Tembaga H. Encik  Amrun Salmon di Kediamannya jalan Kuantan VII Pekanbaru. EncikAmrun Salmon putra kelahiran Siak yang mengenyam pendidikan di ISI Yogyakarta merupakan pencipta Batik Riau.Kala itu H. Encik Amrun Salmon merupakan Pengurus Dekranasda Provinsi Riau melakukan percobaan pembuatan batik,dibuatlah percobaan demi percobaan yang akhirnya dapat menghasilkan suatu pola baru dengan membuat batik tulis/colet berpola. Pola yang dipakai mengambil ilham dari tabir belang budaya melayu Riau yang  bergaris memanjang dari atas kebawah dengan motif-motif Melayu yang ada. Motif ini terutama terdapat pada tabir pelaminan Melayu Riau. Dari motif-motif yang ada ini pula dikembangkan menjadi sebuah motif yang baruyang diberi nama sesuai aslinya. Dari pengembangan motif tradisional yang ada diciptakan motif baru yang tak lari dari akarnya, yaitu antara lain : Bungo Kesumbo, Bunga Tanjung, Bunga Cempaka, Bunga Matahari, Kaluk Berlapis, dan lain-lain. Batik Riau ini tumbuh berkembang dan diberi nama “Batik Tabir”. Hingga saat ini setidaknya Encik Amrun Salmon telah menciptakan empat motif seperti motif tabir, sosou, tabur dan gelombang. 



Menurut H. Encik Amrun Salmon batik merupakan suatu aktivitas memberi warna dan motif pada suatu bidang yang dibatasi dengan lilin. Namun kini batik tersebut telah dimodifikasi dan dikembangkan dengan berbagai macam motif  dan corak diluar pakem atau motif standartnya yang biasa digunakan para pengrajin batik di jawa. Batik Riau merupakan salah satu pengembangannya, Batik Riau memiliki warna, ragi, ragam corak dan motif  dengan sentuhan Melayu yang dikembangkan melalui tekat.


Sejauh ini upaya yang dilakukan H. Encik Amrun Salmon kurang mendapat dukungan dan perhatian dari Pemerintah Daerah. Menurut Encik Amrun Salmon seharusnya pemerintah memahami apa yang diperlukan pencipta dan pengrajin batik tersebut. Kalau tidak, ya seperti sekarang. Apalagi pasaran Batik Riau anjlok sejak pihak-pihak pemilik modal bahkan pemilik kebijakan melempar motif ini di pasaran dan mencetaknya secara pabrikan dengan ukuran bal ratusan meter.Hingga saat ini semua motif Batik Riau milik Encik Amrun Salmon belum bisa dipatenkan karena keterbatasan dana.





Kini diusianya yang senja H. Encik Amrun Salmon memiliki kekhawatiran siapa yang akan melanjutkan dan meneruskan Batik Riau miliknya. Menurut Encik Amrun Gerai Semat Tembaga miliknya dulu memiliki banyak pekerja pengrajin batik,namun kini ia memiliki dua pekerja saja, hali ini terjadi karena semakin berkurangnya order permintaan Batik riau dan juga semakin menjamurnya Batik Riau cetak yang dijual di Toko-Toko Kain di Riau bahkan juga diluar Riau. Batik Riau di Semat Tembaga merupakan Batik Tulis Asli menggunakan tangan manusia dengan tingkat kesulitan yang rumit.


 
Bertuah orang berkain songket
Coraknya banyak bukan kepalang
Petuahnya banyak bukan sedikit
Hidup mati di pegang orang
Kain songket tenun melayu
Mengandung makna serta ibarat
Hidup rukun berbilang suku
Seberang kerja boleh di
Bila memakai songket bergelas
Di dalamnya ada tunjuk dan ajar
Bila berteman tulus dan ikhlas
Kemana pergi tak akan terlantar
 
Tenun Songket Melayu Pekanbaru merupakan kekayaan asli negeri bertuah, khasanah songket melayu Riau ini amatlah kaya dengan motif dan serat dengan makna dan falsafahnya, yang dahulu dimanfaatkan untuk mewariskan nilai-nilai asas adat dan budaya tempatan. Seorang pemakai songket tidak hanya sekedar memakai sebagai busana hiasan tetapi juga untuk memakai dengan simbol-simbol dan memudahkannya untuk mencerna dan menghayati falsafah yang terkandung di dalamnya. Kearifan itulah yang menyebabkan songket terus hidup dan berkembang, serta memberikan manfaat yang besar dalam kehidupan mereka sehari-hari.



Serentak Menyusun Jemari
Salah dan khilaf maaf diberi
Kain Songket Melayu Berseri
Tenunan Asli Karya Anak Negri

Assalammualaikum awal bermula salam
Shalawat dan salam kepada junjungan kita
Ya Nabi Muhammad

Langkah rentak rajut bertingkah
Sepuluh jari menjunjung marwah
Bagai tersirat banyak faedah
Punya sejarah Negeri Bertuah


Orang pertama yang memperkenalkan Tenun ini adalah seorang pengrajin yang didatangkan dari Kerajaan Terengganu Malaysia pada masa Kerajaan Siak diperintah oleh Sultan Sayid Ali. Seorang wanita bernama Wan Siti Binti Wan Karim dibawa ke Siak Sri Indrapura, beliau adalah seorang yang cakap dan terampil dalam bertenun dan beliau mengajarkan bagaimana bertenun kain songket. Karena pada saat itu hubungan kenegerian Kesultanan Siak dengan negeri-negeri melayu di semenanjung sangat lah erat, terutama juga dalam hal seni dan budaya melayu yang satu. Pada awalnya tenun yang diajarkan adalah merupakan tenun tumpu dan kemudian bertukar ganti dengan menggunakan alat yang dinamakan dengan "Kik", dan kain yang dihasilkan disebut dengan kain Tenun Siak. Pada awalnya kain tenun siak ini dibuat terbatas bagi kalangan bangsawan saja terutama Sultan dan para keluarga serta para pembesar kerajaan di kalangan Istana Siak. Kik adalah alat tenun yang cukup sederhana dari bahan kayu berukuran sekitar 1 x 2 meter. Sesuai dengan ukuran alatnya, maka lebar kain yang dihasilkan tidaklah lebar sehingga tidak cukup untuk satu kain sarung, maka haruslah di sambung dua yang disebut dengan kain "Berkampuh". Akibatnya untuk mendapatkan sehelai kain, terpaksa harus ditenun dua kali dan kemudian hasilnya disambung untuk bagian atas dan bagian bawah yang sudah barang tentu memakan waktu yang lama. Dalam bertenun memerlukan bahan baku benang, baik sutera ataupun katun berwarna yang dipadukan dengan benang emas sebagai ornamen ( motif ) atau hiasan. Dikarenakan benag sutera sudah susah didapat, maka lama kelamaan orang hanya menggunakan benang katun. Dan pada saat ini pula kain tenun songket siak dikembangkan pula pembuatannnya melalui benang sutera. Nama-nama motif tenun Songket Riau itu antara lain, Pucuk Rebung, Bunga Teratai, Bunga Tanjung, Bunga Melur, Tapuk Manggis, Semut Beriring, Siku Keluang. Semua motif ini dapat pula saling bersenyawa menjadi bentuk motif baru.

Tokoh Wanita Melayu Riau yang sangat berperan dalam mengembangkan kerajinan kain tenun songket melayu Siak di Riau adalah TENGKU MAHARATU. Tengku Maharatu adalah permaisuri Sultan Syarif Kasim II yang kedua, setelah permaisuri pertama, Tengku Agung meninggal dunia. Dia melanjutkan perjuangan kakaknya dalam meningkatkan kedudukan kaum perempuan di Siak dan sekitarnya, yaitu dengan mengajarkan cara bertenun yang kemudian dikenal dengan nama tenun Siak. Tenun Siak yang merupakan hasil karya kaum perempuan telah menjadi pakaian adat Melayu Riau yang dipergunakan dalam pakaian adat pernikahan dan upacara lainnya. Berkat perjuangan permaisuri pertama yang dilanjutkan oleh permaisuri kedua, perempuan yang tamat dari sekolah Madrasatun Nisak dapat menjadi mubalighat dan memberi dakwah, terutama kepada kaum perempuan. 
Berawal dari sulitnya mendapatkan souvenir khas Riau ,Riau Rubber Merchandise terinspirasi untuk membuat Souvenir, souvenir dengan harga yang murah, berkualitas dan mempunyai Ciri Khas Riau.



Gantungan Kunci Maskot PON XVIII RIAU TAHUN 2012
 


Sovenir Ekslusif Khas Riau karya Riau Rubber Merchandise  bisa didapatkan di :
  1. Sejuta Melayu Shoppe
    Komplek Sudirman City Square Blok B7
    Jalan Jendral Sudirman Pekanbaru Telp (0761) 888810
  2. PSPS DISTRO :  Jln Beringin  - Gobah


Gantungan Kunci Istana Siak sebagai Souvenir Khas Riau
 




Selain membuat Souvenir Ekslusif Khas Riau dari karet ,Riau Rubber Merchandise juga bisa mengerjakan orderan Souvenir untuk Komunitas, Instansi, Perusahaan dll sesuai dengan desain dan permintaan pemesan. Pemesanan banyak  atau kerjasama dapat  menghubungi  Riau Rubber Merchandise di - 081268102750

Gantungan Kunci Pustaka Soeman HS Pekanbaru yang dapat dijadikan sebagai oleh-oleh     Khas Riau
Gantungan Kunci Askar Bertuah Tim PSPS PEKANBARU dan gantungan Kunci  Kelompok Suporter Asykar Theking. Souvenir Wajib bagi Pecinta PSPS PEKANBARU.




Sampan Kampo adalah angkutan tradisional masyarakat di Sepanjang Sungai Kampar, khususnya di Kabupaten Pelalawan. Sampan Kampo ini dapat di jumpai di Beberapa daerah di Kecamatan Pelalawan dan Teluk Meranti. Sampan Kampo ini dapat dijumpai di Desa Kuala Tolam, Pelalawan, Sungai Ara dll. 



Untuk memperkenalkan dan mempromosikan Sampan Kampo kepada masyarakat Luar, kini telah dibuat miniatur atau replika Sampan Kampo. Di Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan Replika Sampan Kampo ini dapat di peroleh di Dewan Kesenian Pelalawan  yang bersekretariat di Gedung Balai Adat Pelalawan. Selain itu usaha yang telah di Lakukan Pemerintah Kabupaten Pelalawan untuk memperkenalkan Sampan Kampo ini yaitu dengan mengadakan Lomba  Pacu Sampan Kampo di Desa Sei Ara, Kecamatan Pelalawan tiap tahunnya, dan  event ini sangat berguna untuk menarik minat wisatawan. 



Burung Serindit adalah Fauna khas Riau yang dijadikan maskot PON XVIII 2012 di Riau. Bagi orang melayu Riau, Serindit dimitoskan sebagai kebijaksanaan, keindahan, keberanian, kesetiaan, kerendahan hati maupun lambang kearifan. "Burung Serindit" di Maskot PON XVIII 2012 mengenakan pakaian Melayu Riau lengkap dengan kain songket, dan tentunya baju yang digunakan "Serindit' dengan warna kebesaran melayu yaitu warna Kuning dan Serindit juga memegang obor api PON.