Zapin atau Zafin adalah sejenis tarian yang pada dasarnya merupakan
bentuk permainan yang menggunakan kaki yang semula hanya dimainkan oleh
kelompok laki-laki saja, sekarang bisa ditarikan berpasangan. Dalam
bahasa Arabnya Tari Zapin disebut dengan ?Al Raqh Wal Zafn? , yang
berarti menari dengan menggunakan kaki. Masuknya Zapin di Asia Tenggara
bermula dengan kedatangan pedagang-pedagang rempah yang juga sebagai
pengembang Agama Islam. Tari Zapin Pecah Dua Belas telah ada sejak
berdirinya kerajaan Pelalawan tahun 1811-1945 yang merupakan tari
tradisi Kabupaten Pelalawan tepatnya di desa Pelalawan yang dibawa oleh
pedagang atau pengembang ajaran Islam dari Johor.
Dinamakan Tari Zapin
Pecah Dua Belas dikarenakan ragam pertama dipecah menjadi ragam kedua
atau berhubungan dengan ragam kedua. Ragam kedua dipecah menjadi ragam
ketiga atau berhubungan dengan ragam ketiga, begitu seterusnya sampai
dengan ragam ke dua belas yang ditutup dengan Tahtum atau Sembah. Tari
Zapin Pecah Dua Belas biasanya ditampilkan pada acara keistanaan, acara
peringatan agama Islam serta acara pernikahan yang diiringi gambus dan
marwas.
Tari Zapin Pecah Dua Belas ditarikan dalam bentuk gerak yang
pada umumnya banyak menggunakan gerakan kaki, sedangkan gerakan tangan
kurang ditonjolkan. Posisi tangan kiri membentuk siku-siku dan
dirapatkan di sisi dada sebelah kiri serta jari tangan digenggam sejajar
dengan dada. Posisi tangan kanan bergerak sesuai dengan gerak kaki yang
dilangkahkan. Tari ini ditarikan berpasangan dan maksimal 3 ( tiga )
pasang penari yang hanya menggunakan pola lantai sederhana dan tidak
menggunakan properti. Pada ragamnya banyak menggunakan gerakan kaki
sehingga gerakan tangan akan mengikuti badan karena tumpuannya hanya
pada kaki.
Instrumen musik yang digunakan adalah Gambus dan Marwas.
Gambus yang dimainkan hanya satu buah, gambus mulai dimainkan dari awal
pertunjukkan tari Zapin Pecah Dua Belas hingga akhir pertunjukkan tari
tersebut. Gambus terbuat dari batang cempedak, bagian bawah diberi
rongga dan ditutup dengan kulit kambing dan memiliki senar. Sedangkan
Marwas yang dimainkan dalam mengiringi tari Zapin terdiri dari empat
buah marwas, yang dimainkan oleh empat orang pemain. Marwas terbuat dari
batang nangka atau batang kelapa serta dilengkapi dengan kulit kambing
sebagai penutup kedua sisi yang berfungsi untuk dipukul.
Pada
Tahun 2020 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan
dan Kebudayaan telah menetapkan 153 karya budaya sebagai Warisan Budaya
Tak Benda Indonesia dan Tari Zapin Pecah Dua Belas menjadi salah satu dari Warisan BudayaTak Benda dengan Nomor Registrasi 202001118.
Tari
Inai adalah sebuah tarian tradisional Melayu yang disajikan dalam
rangkaian kegiatan adat Perkawinan Melayu di daerah Riau khususnya di
Kabupaten Rokan Hilir. Tarian Inai ini umumnya hanya dilakukan di rumah
mempelai wanita saja, sedangkan di rumah mempelai laki-laki tidak
dilakukan kegiatan malam berinai, hanya saja inai akan diantarkan ke
rumah mempelai laki-laki. Tetapi ada juga sebagian masyarakat melakukan
kegiatan tari inai ini untuk menghibur anak laki-laki yang dikhitankan.
Kegiatan tari inai ini dibagi menjadi dua macam yaitu Tari Inai Tunggal
dan Tari Inai Pinggan 12:
1. Tari
Inai Tunggal yaitu tarian inai yang ditarikan satu orang penari saja,
dimana penarinya juga memegang inai di dalam piring yang ditambah bunga
atau lilin. Dan tidak menari di atas pinggan yang bersusun dari 1-12.
Pada zaman dahulu masyarakat lebih banyak melakukan kegiatan tari inai
tunggal, sementara tari inai pinggan 12 hanya dilakukan sebagian
masyarakat yang mempunyai persatuan saja, tetapi sekarang tari inai
tunggal dan pinggan 12 sudah dilakukan bersamaan.
2.Tari
Inai Pinggan 12 yaitu penari inai menari di atas pinggan yang bersusun
dari 1 sampai 12 menjulang ke atas dan di tangannya memegang inai di
dalam piring dan ditambah dengan bunga atau lilin. Tarian inai ini
dilakukan lebih dari satu orang. Tari Inai merupakan bentuk seni
pertunjukan yang mana gerakannya seperti gerakan silat yang berfungsi
untuk menghibur raja sehari atau pengantin yang duduk di pelaminan dan
mengibur masyarakat sekitar yang datang menyaksikan serta memperoleh
keberkahan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.
Gerakan tari inai diawali dengan bersalaman dengan pengantin sebagai
tanda penghormatan raja sehari atau pengantin untuk menandakan bahwa
tari inai akan dimulai. Kemudian tiga langkah ke belakang dengan posisi
jongkok yang artinya memohon izin kepada raja sehari atau pengantin
untuk memulai tari inai. Setelah tiga langkah ke belakang penari dalam
posisi jongkok berputar penuh ke arah kanan dan kiri, artinya memberi
penghormatan dan memohon izin kepada masyarakat yang menyaksikan karena
adab tarian ini tidak bisa membelakangi orang yang menyaksikan, karena
orang yang meyaksikan tersebut ada orang tua-tua, karena itu diberikan
gerakan seperti gerakan persembahan dengan arah berputar. Kemudian
Penari maju tiga langkah ke samping kanan dalam keadaan jongkok sambil
memainkan tangannya, kemudian tiga langkah ke samping kiri dan maju ke
depan untuk mengambil inai. Kemudian penari kembali ke belakang untuk
siap –siap mendaki pinggan yang sudah tersusun.
Setelah itu
penari mendaki pinggan yang tersusun sambil menari dengan menggunakan
inai di atas pinggan menghadap raja sehari atau pengantin, kemudian
turun dari pinggan dan meletakkan inai di tempat semula sambil menari
dan melangkah tiga langkah ke belakang untuk menutup tarian inai dalam
keadaan salam sembah sepuluh jari dan memutar badan ke arah kiri dan
memutar balik ke arah kanan. Maknanya, ketika mendaki pinggan 12 apabila
12 pinggan yang dinaiki tidak runtuh, maka hubungan rumah tangga sang
raja sehari akan baik-baik saja. 12 pinggan artinya 12 bulan. Penutup
tiga langkah ke belakang bermaksud memberi hormat dan izin kepada raja
sehari bahwa tari inai pinggan 12 selesai ditarikan. Lalu gerakan
memutar badan bermaksud meminta izin dan mohon maaf kepada raja sehari
dan masyarakat yang menonton jika dalam melakukan tarian ada tarian yang
tidak sengaja membelakangi para orang tua.
Pada dasarnya
gerakan tari inai tunggal dan pinggan 12 sama saja, yang membedakan
hanya pada tari inai tunggal tidak menggunakan atau mendaki pinggan yang
tersusun sebanyak 12 pinggan. Peralatan yang disediakan terlebih dahulu
untuk mendukung proses berjalannya sebuah pertunjukan yaitu alat musik
pengiring tarinya seperti biola, gendang, tetawak (gong). Irama yang
mengiringi tari inai ini adalah irama patam, mambang dan pelanduk.
1.Patam artinya melambangkan ketegasan karena irama patam pergerakannya keras seperti pergerakan silat.
2.Mambang, dalam bahasa Melayu adalah jin atau makhluk halus, pergerakan penari inai ini seperti orang yang tak sadarkan diri.
3.Planduk
arti dari bahasa Melayunya adalah kancil, dan irama musik yang
dimainkan santai atau lemah lembut, begitu juga penarinya.
Urutan penampilan Tari Inai Pinggan Dua Belas:
Pertama,
dalam keadaan jongkok penari mundur tiga langkah kebelakang sambil
mengangkat tangan salam sepuluh jari, kemudian dengan posisi badan yang
sama dengan mengangkat tangan salam sepuluh jari penari memutar badan
kekiri 360 derajat dan memutar kembali kearah kiri.
Kedua,
penari maju tiga langkah samping kanan dalam keadaan jongkok sambil
menggerakan badan dan tangannya sesuai musik yang di mainkan, kemudian
tiga langkah kesamping kiri dan maju kedepan untuk mengambil inai.
Ketiga,Sebelum
mengambil dan Memegang inai yang di atas paha, terlebih dahulu penari
mengangkat tangan separti salam jari sepuluh pernari memutar badan
kearah kiri 360 derajat dan memutar kembali kearah kanan dalam pososisi
jongkok. Kemudian penari kembali kebelakang untuk siap-siap mendaki
pinggan yang sudah tersusun.
Keempat,
penari mendaki pinggan yang tersusun sambil menari dengan menggunakan
Inai diatas pinggan menghadap keraja sehari/pengantin, kemudian turun
dari pinggan dan meletakan inai ditempat semula sambil menari dan
melangkah tiga langkah kebelakang untuk menutup tarian inai dalam
keadaan salam sembah sepuluh jari dan memutar badan 360 derajat kearah
kiri dan memutar balik kearah kanan.
Dalam penampilan pertunjukan tari Inai ini, penari memakai busana melayu yaitu:
1.Mengunakan baju teluk belanga atau cekak musang dan seluar/celana yang agak longgar untuk memudahkan gerakkan tari inai.
2.Di
bagian kepala penari memakai destar atau hiasan kepala seperti songkok,
tanjak dan hiasan kepala lainnya untuk mengahalang peluh atau keringat
yang menitis dan juga untuk mengikat bilamana rambut yang panjang.
3.Kemudian memakai hiasan sampin untuk mengetahui identitas penari.
Tari
inai pinggan 12 masih dilestarikan di Kecamatan Pasir Limau Kapas,
sedangkan di kecamatan sekitarnya hanya tari inai tunggal saja. Pada
zaman dahulu Datuk atau orang tetua yang mempunyai ilmu kebatinan, bisa
menari di atas pinggan, bagaimanapun berat badan mereka pinggan
tersebut tidak akan pecah. Hal tersebut sudah ada pada zaman dahulu dan
menjadi tradisi, akan tetapi Datuk atau orang tetua tidak menurunkan
ilmu kebatinan yang mereka punya. Untuk mengingat tradisi supaya tidak
hilang seiring berkembangnya zaman, maka salah satu keturunan Datuk atau
orang tetua zaman dahulu pada masa sekarang mengembangkan tari
berdasarkan sejarah yang telah ada.
Pada
Tahun 2020 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan
dan Kebudayaan telah menetapkan 153 karya budaya sebagai Warisan Budaya
Tak Benda Indonesia dan Tari Poang menjadi salah satu dari Warisan BudayaTak Benda dengan Nomor Registrasi 202001111.
Silat pangean merupakan seni bela diri yang lahir dan tumbuh di Kenegerian Pangean Kabupaten Kuantan Singingi. Silat ini diwariskan secara turun temurun oleh guru-guru besar silat pangean yang biasa dikenal dengan Induak Barompek. Di dalam sejarah lisan, silat Pangean diyakini bermula saat salah seorang penduduk dari negeri Rantau Kuantan yang bergelar Bagindo Rajo pergi berguru ke Datuk Betabuh di Lintau, Sumatera Barat. Kepergiannya bertujuan untuk mempelajari agama Islam dan juga silat sebagai seni untuk membela keyakinan agama. Di saat kepergiannya ke negeri Lintau, istri Bagindo Rajo, Gadi Ome, yang tetap tinggal di Pangean bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya, Gadi Ome didatangi roh Syekh Maulana Aliyang datang dari tanah suci Mekkah. Selain bertemu Syekh Ali, Gadi Ome juga bertemu istri Syekh Ali yang bernama Halimatusakdiah. Dari Halimatusakdiah, Gadi Ome belajar ilmu silat. Sehingga Bagindo Rajo dan Gadi Ome merupakan guru yang pertama kali mengajarkan silat Pangean. Oleh sebab itu silat Pangean terdapat dua sifat yang berbeda, yaitu kasar/keras dan lunak/lemah gemulai tapi mematikan.
Seiring perjalanannya, pasangan suami istri ini mulai menurunkan keahlian silat mereka. Pada awalnya, silat hanya diajarkan di kalangan keluarga. Gadi Ome menurunkan ilmu silat menurut suku yang ada padanya (matrilineal). Sedangkan Bagindo Rajo menurunkan ilmunya kepada kemenakan dari keturunan ibu. Datuk Untuik adalah orang yang pertama menjadi murid Bagindo Rajo. Datuk Untuik diangkat menjadi murid karena Bagindo Rajo memiliki hutang budi terhadap ayahnya, Tan Garang. Kala Bagindo Rajo menuntut ilmu ke Lintau, Tan Garang merupakan orang yang menjaga Gadi Ome di kampung halaman. Dari Datuk Untuik, ilmu silat kembali diturunkan ke Pendekar Malin, Maliputi, Pak Ngacak, dan Menti Kejan. Keempat murid pertama Datuk Untuik ini kemudian diangkat menjadi Induak Barompek, gelar tertinggi yang dipakai dalam persilatan ini sampai sekarang. Mereka merupakan kelompok guru yang bertugas untuk menjaga kemurnian dan menurunkan ilmu silat Pangean.
Secara umum silat pangean dikelompokkan dengan beberapa bagian yaitu: 1. Silek Tangan (silat tangan kosong),2. Silek Podang (silat dengan menggunakan senjata pedang),3. Silek Parisai (silatyang menggunakan senjata pedang dan perisai). Silat Pangean dikenal dengan gerakan yang lembut dan gemulai namun menyimpan kekuatan yang mematikan. Hal ini merupakan ciri dari gerakan silat pangean yang tidak hanya diandalkan pada teknik gerakan, namun lebih disertai oleh suatu refleksitas yang tinggi yang mudah terjadi karena suatu keyakinan dan keteguhan ilahiah seorang pesilat. Persebatian antara raga dan jiwa yang berserah pada Tuhan Yang Maha Kuasa, menciptakan gerak lembut dan tenang tetapi berisi kekuatan yang dahsyat. Setiap orang yang ingin memasuki Pencak Silat Pangean harus melalui serangkaian proses dan memenuhi syarat-syarat untuk bisa bergabung.
Persyaratan yang diperlukan untuk memasuki Pencak Silat ini antara lain ayam jantan satu ekor, beras segantang, kain putih, putik limau manis, pisau sebilah, dan cincin perak. Beberapa faktor yang mempengaruhi orang untuk memasuki pencak silat Pangean diantaranya adalah untuk melindungi diri, karena Pencak Silat dimaknai sebagai seni beladiri atau seniuntuk mempartahankan diri. Kemudian di dalam Pencak Silat terdapat unsur-unsur keagamaan yang mengajarkan untuk selalu bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, Faktor lainnya, karena Pencak Silat ini masih tertutup, kebanyakan anggota yang bergabung dalam Pencak Silat ini bermula dari seseorang yang mereka kenal mengajak mereka.
Sebelum memulai proses latihan setiap anggota Pencak Silat diwajibkan untuk mengenakan atribut yaitu berupa peci dan kain samping. Anggota Pencak Silat yang tidak mengenakan atribut tidak diperbolehkan mengikuti sesi latihan namun tetap diperbolehkan masuk dan duduk di balai silat. Teknik-teknik dan gerakan dasar yang diajarkan dalam Pencak Silat Pangean ini memiliki empat gerakan dasar yaitu langkah empat. Langkah empat merupakan empat langkah dasar yang digunakan dalam Pencak Silat Pangean untuk bertahan dan menyerang. Teknik dasar dalam Pencak Silat Pangean yang digunakan untuk menyerang yaitu menggayung, memopat dan menikam. Pencak Silat Pangean memiliki struktur yang posisinya akandipilih oleh guru Pencak Silat itu sendiri. Posisi itu antara lain adalah guru, wakil guru, penghulu laman, induk berempat, anak bungsu dan anak laman (murid pencak silat). Silat Pangean sudah tersebar ke berbagai wilayah di Riau. Selain sebagai tradisi pewarisan bekal kehidupan, Silat Pangean kemudian digunakan sebagai rangkaian helat dan upacara adat dalam hal penyambutan atau pertemuan berbagai pihak.
Pada
Tahun 2018 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan
dan Kebudayaan telah menetapkan 225 karya budaya sebagai Warisan Budaya
Tak
Benda Indonesia dan Silat Pangean menjadi salah
satu dari Warisan Budaya Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201800640.
(Sumber : Buku Warisan Budaya Tak Benda Hasil Penetapan Kemendikbud 2013 - 2018 Provinsi Kepulauan Riau dan Riau/ Halaman 130)
Tari Gendong telah ada sejak abad ke-16 sebelum masuknya Kerajaan Siak. Kesenian tari tradisional ini lahir, tumbuh, dan berkembang di tengah masyarakat yang dikenal sebagai Suku Asli Anak Rawa tepatnya berada di Kampung Penyengat Kecamatan Sungai Apit, yang diiringi alat musik gendang, gong, dan biola. Fungsi tari ini adalah sebagai sarana upacara tolak bala dan sebagai sarana hiburan masyarakat suku Anak Rawa. Penari terdiri dari enak orang wanita yang saling bergantian bernyanyi. Tari Gendong yang penuh suka cita ini dapat dilihat dari cara berjoget dan bernyanyi semua penari maupun penonton yang larut dan ikut dalam suasana kegembiraan. Tarian ini dahulunya ditampilkan pada malam hari saat masyarakat sedang istirahat, sehingga tarian ini dijadikan sebagai hiburan bagi masyarakat yang mana saat siang hari lelah dengan pekerjaan dan pada malam harinya mereka menghibur diri dengan menyaksikan maupun ikut menari dengan para penari Gendong. Tari ini memiliki unsur magis, seperti menyediakan sesajen di dalam pertunjukannya, penari melantunkan sebuah lagu terlebih dahulu sebagai tanda akan dimulainya Tarian Gendong, kemudian barulah penonton boleh menari dengan penari. Penonton yang ingin menari dengan penari harus memiliki lagu dan membayar Rp 10.000. Kemudian, barulah diperbolehkan menari. Di sini dapat dilihat interaksi sesama masyarakat sangat baik dengan 152ditampilkannya Tari Gong ini dapat menjalin silaturahmi serta kekeluargaan yang sangat baik antar masyarakat.
Pada
Tahun 2018 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan
dan Kebudayaan telah menetapkan 225 karya budaya sebagai Warisan Budaya
Tak
Benda Indonesia dan Tari Gendong menjadi salah
satu dari Warisan Budaya Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201800646.
(Sumber
: Buku Warisan Budaya Tak Benda Hasil Penetapan Kemendikbud 2013 - 2018
Provinsi Kepulauan Riau dan Riau/ Halaman 151)
Dari segi sejarah, komposisi bunyi dan instrumen yang digunakan pada calempong oguong, tidak ada unsur-unsur budaya Arab atau melodi dari daratan Asia. Berarti musik calempong oguong sudah ada sebelum masuknya Agama Islam pada abad 13 Masehi. Pada zaman primitif dengan kepercayaan animisme, di Wilayah kampar sekarang, masyarakatnya sudah membuat instrumen bunyi-bunyian yang terbuat dari kayu atau bambu, namanya gambang.
Gambang dipakai pada kelompok musik gong tanah dengan pemainnya empat orang. Melodi gambang pada gong tanah yang juga masih ada hingga sekarang di Kampar kiri sama dengan melodi calempong logam. Setelah adanya industri logam di daratan Asia, alat musik dari logam ini dibawa pedagang ke daerah Kampar maka penggunaaan kayu sebagai alat musik pindah kepada logam. Calempong oguong yang alatnya terbuat dari logam awalnya dibawa perantau Kampar dari Singapura yang saat itu masih berada dibawah negara Malaysia. Dari Singapura, peralatan yang berupa oguong (gong) dibawa sampai di wilayah yang saat ini bernama Pekanbaru. Oguong itu terus dibunyikan dari Pekanbaru sampai ke Kampar. Dari bunyi oguong itu masyarakat jadi tahu, perantau Kampar dari Singapura telah pulang.
Calempong oguong tradisi terdiri dari lima orang pemain, yakni penggolong dan peningkah memainkaninstrumen enam buah Celempong, gondang peningka dua orang memainkan instrumen ketepak dasar dan ketepak bungo, serta seorang pemukul gong. Berikut fungsi alat-alat tersebut :
a)Calempong Alat musik perkusi terbuat dari logam. Enam buah calempong disusun dengan deretan nada tinggi ke tengah pada sebuah kotak berukir yang terbuat dari kayu. Kotak atau rumah calempong juga sebagai ruang resonansi.
b)Ketepak Alat musik perkusi yang sumber bunyinya selaput/kulit kambing. Bentuknya bulat dan dikedua permukaann ya ditutup kulit yang dirajut dengan rotan. Cara menggunakannya adalah ditabuh dengan jari atau dengan rotan. Ketepak menjadi alat musik pelengkap pada grup calempong
c)Gung (gong) Alat musik perkusi yang terbuat dari logam. Bentuknya bulat berongga. Gung menjadi alat musik pelengkap dalam calempong dan dikir gubano.
Dalam grup calempong tradisi selalu digunakan dua buah gung. Melodiyang dimainkan pada setiap judul lagu musik calempong baoguong atau calempong oguong hanya dua baris irama yang dimainkan berulang ulang. Dari cara memainkannya, calempong terbagi dua, yakni: Calempong rarak tono atau calempong jalan dengan tiga orang pemain. Masing-masingmemegangduacalempong yang memainkantigajenistingkah.
Calempong rarak ada pula yang diiringi ketepak panjang (gendang panjang) dan umumnya tak menggunakan gong. Calempong baouguong yang bermain sambil duduk. Perangkat instrumennya, yakni calempong sebanyak enam buah dengan dua orang pemain. Tugasnya sebagai penggolong dan peningkah terbuat dari logam kuningan.Gung dengan satu atau dua pemain terbuat dari logam Ketepak Suatu keistimewaan bagi instrumen gendang panjang pada 77calempong disebut ketepak adalah disebabkan gendang ini bila ditabuh bunyinya tak berdegung. Kulitnya terbuat dari kulit tak harus diregang.
Di beberapa daerah, gendang selaputnya diregang kencang sehingga bunyinya berdentang. Dalam menyusun instrumen, calempong bernada lebih tinggi diletakkan ke tengah baik dari kiri atau dari kanan. Salah satu nada calempong yang ditengah dianggap nada inti yang mempunyai kekuatan magis. Pada saat tertentu, calempong inti ini dilimaui (dibersihkan dengan air limau) dan dibacakan mantra-mantra. Ada kepercayaan bawah susunan calempong enam buah diibaratkan makhluk yang memiliki jiwa dan raga sebagai manusia. Calempong yang ditengah diibaratkan hati jantung.
Fungsi calempong oguong tercermin dalam ungkapan yang indah ini.
Calempong nan menari. Gendang yang meningkah. Gong mengiyakan. Nan jauh
kami jemput, yang dekat kami himbau. Babogai kato sumando, diiyakan
ninik mamak.Banyak perbedaan, namun semuanya tetap akur dan harmoni dan itulah yang menjadi makna kesenian tradisional Kampar.
Calempong Oguang saat ini keberadaaanya berfungsi sebagai musik hiburan
untuk mengisi acara perkawinan, pencak silat, batogak kepalo suku dan
perayaan kampung lainnya dan saat ini musik calempong oguong
berkolaborasi dengan instrumen musik lainnya seperti mengiringi tarian.
Pada Tahun
2016 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan telah menetapkan 150 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak
Benda Indonesia dan Bedewo Bonai menjadi salah satu dari Warisan Budaya
Tak Benda dengn Nomor Registrasi 201600313.
Seperti apa alunan Calempong Oguang, temukan jawabannya dalam video berikut :
Kesenian Sijobang Kampar merupakan suatu bentuk teater monolog tradisional yang dimainkan oleh seorang seniman dengan berdendang, pantun dan syair serta gerak tubuh yang sesuai dengan isi cerita. Kesenian Sijobang umumnya dipentaskan pada malam hari setelah acara kenduri khitanan, kenduri akikah dan terkadang setelah upacara perkawinan. Kesenian Sijobang pada prinsipnya boleh saja ditampilkan pada siang hari, namun seniman Sijobang lebih menyukai penampilan pada malam hari karena suhu udara yang dingin menyebabkan suara mereka tidak cepat hilang dan tidak cepat lelah.
Sijobang lebih banyak ditampilkan pada acara khitan dan kenduri akikah karena memang ditujukan sebagai cerita untuk menghibur dan sekaligus sebagai media transmisi nilai-nilai budaya serta adat kepada anak-anak. Pertunjukan dimulai setelah sholat Isya sekitar pukul 20.00 wib dan istirahat pada pukul 24.00 wib setiap malamnya. Teater Buruong Gasiong biasanya ditampilkan selama tiga hingga tujuh malam tergantung permintaan tuan rumahyang memiliki hajatan. Menurut tradisinya, kisah yang dimainkan dalam Sijobang terikat pada cerita Buruong Gasiong (atau biasa juga disebut Gadi Buruong Gasiong) dan Uwang bagak Pinang Baibuik. Tidak seperti cerita rakyat pada umumnya yang dapat diceritakan sambil lalu, kedua cerita ini terikat pada metode penceritaan melalui pementasan Sijobang buruong gasiong. Keterikatan ini dikarenakan kepercayaan 83masyarakat terhadap aspek magis yang terdapat dalam cerita Buruong gasiong. Makin detil cerita disampaikanmaka semakin berhasil sang aktor menghibur para penonton. Alur naik turun emosi haruslah terasa oleh penonton.Dalam pertunjukannya pemain Sijobang memakai baju teluk belanga, celana panjang, ikat kepala atau kupiah. Si pemain juga membawa kain sarung yang sekaligus berfungsi sebagai selimut. Selain pakaian, pemainSijobangdiharapkan dapatmenyediakan properti yang terdapat dapat dalam cerita. Properti yang biasa dipakai berupa alat-alat dapur, dan tiruan senjata tajam.
Sejak zaman dahulu hingga saat ini, seniman Sijobang seluruhnya laki-laki. Dalam Sijobang, seniman laki-laki dituntut untuk mampu memerankan seluruh tokoh yang terdapat dalam cerita Buruong Gasiong dan Pinang Baibuik. Untuk membedakan antara tokoh perempuan dengan laki-laki, pemain Sijobang biasanya tidak memakai pakaian atau aksesoris yang identik dengan perempuan. Pembedaan hanya dilakukan dengan mengeluarkan nada suara yang lembut dan gerak tubuh yang gemulai. Ini dikarenakan seorang seniman yang sedang memainkan Sijobang tidak memiliki kesempatan untuk mengganti pakaian sesuai dengan tokoh yang sedang diperankan. Para penonton harus mampu menafsirkan sendiri tokoh yang sedang diperankan dan memahami kalimat yang diucapkan.
Pada
Tahun 2017 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan
dan Kebudayaan telah menetapkan 150 karya budaya sebagai Warisan Budaya
Tak Benda Indonesia dan Zapin Api menjadi salah satu dari Warisan Budaya Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201700474
(Sumber : Buku Warisan Budaya Tak Benda Hasil Penetapan Kemendikbud 2013 - 2018 Provinsi Kepulauan Riau dan Riau/ Halaman 82)
Debus Indragiri Hulu adalah sebuah kesenian tradisional masyarakat Melayu Indragiri Hulu, yang telah ada semenjak kesultanan Indragiri yang dibawa oleh Syeh Ali Al Idrus (bangsa Arab Hadratul Maut). Tempo dulu kesenian Debus digunakan sebagai sarana penyebaran agama Islam di wilayah Indragiri, dan sekarang kesenian debus sebagai sarana hiburan pada perayaan pernikahan, Sunat Rasul, serta perayaan Islam lainnya. Alat yang dipakai dalam debus berupa sebilah besi yang tajam bermata tiga. Debus dilakukan secara bergiring-giring dengan kalimat berjanji diiringi musik Gebano serta dipimpin oleh seseorang Khalifa', lalu penari/pemain debus menusukkan debus bermata tajam ke lengan dan ke perut penari. Maka dengan izin Allah SWT penari Debus tidak terluka oleh tajamnya mata Debus. Pada akhir pertunjukan Debus ditutup oleh Khalifa' dengan do'a -do'a
Pada Tahun
2016 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan telah menetapkan 150 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak
Benda Indonesia dan Debus Indragiri Hulu menjadi salah satu dari Warisan Budaya
Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201600312.
(Sumber : Buku Warisan Budaya Tak Benda Hasil Penetapan Kemendikbud 2013 - 2018 Provinsi Kepulauan Riau dan Riau/ Halaman 73)
Tari Tradisi Joget Sonde merupakan tarian yang berasal dari Desa Sonde yang ada di Kecamatan Rangsang, Pesisir Kabupaten Kepulauan Meranti yang dikoreografi (diciptakan) oleh Cik Minah yang merupakan masyarakat asli Suku Akit dari Desa Sonde.
Pada awalnya Joget Sonde ini diciptakan untuk mengungkapkan kebahagiaan si koreografer dan hanya sebagai sebuah tarian bergembira dan tarian hiburan. Karena tari ini terciptanya di Desa Sonde maka diberilah nama dengan sebutan Tari Joget Sonde. Sejarah Desa Sonde itu sendiri adalah pada zaman dahulu pohon sonde hanya terdapat di daerah kampung tersebut, di mana getah pohon sonde tersebut bisa dijual dengan harga yang tinggi. Karena banyak orang yang pergi mengambil kayu sonde dan daerah tersebut tidak memiliki nama maka masyarakat setempat memberi nama Sonde.
Tradisi Joget Sonde dalam kehidupan masyarakat Sonde, Kecamatan Rangsang Pesisir mempunyai peranan yang sangat penting sebagai sarana hiburan. Tari ini dapat membangun solidaritas yang tinggi dalam lingkungan masyarakat karena mengajarkankepada generasi mudanya bagaimana bekerja sama dan membina rasa kekeluargaan antar masyarakat. Tari Tradisi Joget Sonde dipertunjukkan pertama kali di pada tahun 1960-an dalam acara pesta perkawinan.
Pada Tahun
2016 Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan telah menetapkan 150 karya budaya sebagai Warisan Budaya Tak
Benda Indonesia dan Joget Sonde menjadi salah satu dari Warisan Budaya
Tak Benda dengan Nomor Registrasi 201600314.
(Sumber : Buku Warisan Budaya Tak Benda Hasil Penetapan Kemendikbud 2013 - 2018 Provinsi Kepulauan Riau dan Riau/ Halaman 78)