Tampilkan postingan dengan label KAMPAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAMPAR. Tampilkan semua postingan

Keberadaan Kampar sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya "tergilas" publikasi. Selama ini publik menyangka pusat Kerajaan Sriwijaya ada di Sumatera Selatan (Sumsel) karena lebih banyak publikasi mengenai Sriwijaya oleh orang-orang Sumsel. Namun fakta berbicara lain. Keberadaan Candi Muara Takus membuktikan, pusat Kerajaan Sriwijaya ada di Kampar.

Sebenarnya ada sesuatu yang jauh lebih menarik dari sekadar view yang ditampilkan di kompleks Candi Muara Takus di Desa Muara Takus Kecamatan XIII Koto Kampar Kabupaten Kampar. Sesuatu yang akan mengubah sejarah.
Tidak hanya sejarah Kampar secara khusus, namun sejarah Melayu di dunia.
Berdasarkan sejarah yang telah disusun di Indonesia, ibukota Kerajaan Sriwijaya berada di Sumsel. Bahkan, menurut sejarah Melayu di Malaysia, pendiri Kerajaan Melaka, yakni Prameswara yang kemudian berganti nama menjadi Muhammad Iskandar Syah berasal dari Sriwijaya yang diyakini berada di Sumsel.

Namun sebagaimana dikatakan Pemerhati dan Peneliti Sejarah Kampar Drs Abdul Latif MM, pandangan tersebut akan berubah. Sebab keberadaan Candi Muara Takus membuktikan lain.  ''Berdasarkan penelitian di dunia, sebuah candi merupakan pusat kerajaan dan pusat keagamaan di kerajaan Hindu/Budha. Jika Candi Muara Takus berasal dari Kerajaan Sriwijaya, dengan demikian pusat Kerajaan Sriwijaya pada zaman dulu berada di Kampar, bukan di Sumsel,'' jelas Latif yang juga seorang budayawan Kampar ini.

Hal yang paling menguatkan bahwa Candi Muara Takus merupakan pusat kerajaan tertua di Asia Tenggara tersebut adalah adanya istana yang berada di sekitar candi pada zaman dahulu. Saat ini istana yang terbuat dari kayu itu tidak ada lagi, terkikis oleh berjalannya waktu. Latif mengungkapkan, istana Sriwijaya telah lama runtuh. ''Dulu ada istana di sekitar candi. Tapi sudah lama runtuh. Masyarakat sekitar tidak ada lagi yang ingat persis tahun berapa istana runtuh saking sudah lamanya,'' urai Latif yang juga merupakan Guru PPKn di SMA 2 Bangkinang dan sudah 16 tahun berkecimpung dalam kegiatan penelaahan sejarah Melayu, terutama di Kabupaten Kampar ini.

Hanya saja, karena publikasi terhadap Kerajaan Sriwijaya sudah terlebih dahulu dilakukan orang-orang Sumsel, pusat Sriwijaya dianggap berada di wilayah Sumsel. Bahkan buku sejarah yang disusun juga memuat demikian. Padahal di Sumsel sendiri tidak pernah ditemukan bekas istana maupun situs sejarah berupa candi. Hanya di Kampar ditemukan situs peninggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya berupa candi dan bekas istana yang telah runtuh.
''Daerah Sumsel itu saya kira hanya sebagai daerah perhentian pelabuhan terakhir yang dilakukan orang-orang Kerajaan Sriwijaya,'' ungkap alumni Jurusan PPKn FKIP Universitas Riau ini.

Sebenarnya, Latif sudah memaparkan banyak hal terkait pusat Sriwijaya di Muara Takus pada seminar-seminar kebudayaan di Riau maupun di provinsi lain. Seperti di seminar kebudayaan di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Para akademisi UGM bahkan mendukung pandangan dan fakta yang disampaikan Latif. ''Akademisi UGM mendukung saya. Mereka memberi semangat agar saya terus mempublikasikan mengenai pusat Sriwijaya yang berada di Kampar agar diketahui masyakarat,'' sebut pria kelahiran Kuok 4 Juli 1958 tersebut.  Tidak hanya akademisi UGM yang mendukung pandangan yang menyebutkan pusat Sriwijaya ada di Muara Takus. Sebanyak 16 peneliti dari Belanda yang pernah meneliti di daerah Kampar menyatakan pandangan serupa. ''Hanya saja kurang terekspos ke publik,'' sebut Latif.

Jika hanya diperhatikan sekilas, bagi orang awam, Candi Muara Takus terlihat kurang menarik. Hanya terdapat 3 candi yang dinamakan candi tua, candi bungsu dan candi mahligai yang disebut juga stupa candi. Kompleks candi hanya terlihat berupa onggokan batu warna oranye kemerah-merahan . Di halaman candi yang seluruhnya dipagari besi tipis berwarna silver, ditanami rumput dan tanaman hias berupa bunga asoka. Sedangkan bekas pelabuhan di sekitar candi yang sekarang berupa Sungai Kampar pada tepiannya dibangun panggung sebagai tempat duduk-duduk dan melihat-lihat bagi pengunjung.
Tak jauh dari situ tampaklah bekas-bekas benteng yang dibangun untuk melindungi istana dan Candi Muara Takus. Sebagian benteng sudah tertimbun tanah.

Saat ini bekas benteng yang terlihat hanya berupa tembok-tembok dengan bahan batu yang sama dengan batu candi. Di sekitar lokasi juga terdapat bekas tempat pemandian putri yang sudah berupa onggokan batu. Sedangkan di sekitarnya terdapat tempat berjualan pedagang makanan, minuman dan pakaian bergambar Candi Muara Takus yang dijual kepada pengunjung candi.
Pada sebagian tanah yang diinjak di lokasi kompleks candi menuju bekas tempat pemandian putri didapati batu-batu yang sedikit menyembul ke atas permukaan tanah. Sepertinya batu-batu itu hendak bernafas ke permukaan tanah karena bagiannya yang lain masih tersembunyi di tanah.

Namun bagi pengunjung, candi terlihat kurang menarik sebagai objek wisata. Beberapa pengunjung menyatakan, view candi terlihat kurang menarik. Ahmad Supriadi (31) mengungkapkan, tidak ada sesuatu yang begitu menarik dari candi peninggalan abad 12 Masehi itu. Supriadi mengaku sudah 4 kali mengunjungi candi. Namun yang ia temukan hanya keadaan yang sama, onggokan batu berwarna oranye kemerah-merahan .
''Saya sudah berkali-kali ke sini, tapi terlihat hanya begitu-begitu saja,'' ungkap Supriadi yang ditemui di area candi. Hal yang sama dipaparkan Lina Hardian (27). Lina juga mengungkapkan bahwa candi kurang menarik dari segi view yang ditampilkan. Apalagi candi kurang terkelola dengan baik sebagai objek wisata. ''Kelihatan kurang menarik. Karena tidak dikelola dengan baik,'' tutur Lina.


Labersa Waterpark berada di Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar. Labersa Waterpark dibangun diatas lahan seluas 6,5hektar oleh Hutahean Grup. Labersa Waterpark merupakan wisata air terbesar dan terlengkap di Riau untuk saat ini. dari Kota Pekanbaru Labersa WaterPark ini dapat diakses melalui Jalan Parit Indah. 



Labersa Waterpark memiliki 5 area kolam yaitu kolam dewasa (adult pool) untuk orang dewasa yang ingin berolahraga berenang atau bermain flip bersama teman temanya, kolam adventure(adventure pool) kolam dengan beragam permain seperti seluncuran, air mancur, ember tumpah dengan 5000 galon, dan masih banyak lagi cocok untuk anak – anak bahkan orang dewasa, kolam arus (lazy river pool) yaitu sungai buatan yang mengelilingi area labersa waterpark dengan panjang 950 m dan merupakan lazy river terpanjang di Indonesia, kolam bayi (baby pool) wahana ini khusus di peruntukan tamu kecil kita sehingga akan mengasah kekreatifannya. dan kolam Buaya (Crocodile river) yaitu  wahana permainan seluncuran , race slide, spiral slide, vertical slide dan big jump slide yang dapat menguji andrenaline pengunjung.

Labersa Waterpark juga memiliki beberapa fasilitas permainan tambahan seperti motor race, water futsal dan bouncy slide. Untuk kenyamanan bersantai bersama keluarga terdapat fasilitas untuk beristirahat sejenak, “GAZEBO” itulah nama yang diberikan Management . Labersa Waterpark yang telah dilengkapi dengan balcony dan kamar bilas pribadi, selain itu tersedia Loker agar para pengujung merasakan aman dan tidak khawatir dengan barang-barang bawaannya ketika bermain dan bergembira bersama keluarga. Dan untuk menghibur para pengunjung.


Jami Mosque is located in the Pasar Usang Desa Tanjung Cape Berulak Air Tiris, Kampar, about 52 km from Pekanbaru. This mosque was founded in 1901 on the initiative Engku Mudo Sangkal, a scholar who consolidate the potential ninik-mamak and cerdik-pandai from 20 villages in Air Tiris. The mosque was completed in 1904 which was inaugurated with great fanfare by the entire community with Air Tiris buffaloes were slaughtered 10.



Kantor Bupati Kabupaten Kampar ini berada di Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Kampar disekitar Kantor Bupati ini juga terdapat beberapa Kantor Dinas, Kantor DPRD Kabupaten Kampar dan juga Gedung Olahraga.
Balai Adat Kabupaten Kampar ini berada di jalan Ring Road Kota Bangkinang, dan tidak jauh dari Kompleks Perkantoran Pemerintah Daerah Kabupaten Kampar.
Balai Bupati Kabupaten Kampar ini berfungsi sebagai Rumah Dinas Jabatan Bupati Kabupaten Kampar. Balai Bupati ini berada di Jalan. Prof. M. Yamin Kota Bangkinang





Taman Kota Prof. M. Yamim Bangkinang berada di Pusat Kota Bangkinang, taman ini berada di Jalan Lintas yang menghubungkan Kota Bangkinang dengan Pekanbaru. Taman ini persis berada di jalan Prof. M. Yamin tepatnya berada di sebelah Balai Bupati Kampar.


Istana Raja Gunung Sahilan
Bekas istana Kerajaan Gunung Sahilan (1700-1941) masih berdiri di kawasan Kampung Gunung Sahilan, Kecamatan Gunung Sahilan (Kampar Kiri) Kabupaten Kampar. Sebuah bangunan renta yang tampak uzur dimakan usia, bahkan nyaris rubuh karena tidak adanya perhatian sama sekali. Melihat kondisinya yang sangat dan sangat memprihatinkan itu, niscaya beberapa tahun ke depan situs sejarah paling bernilai tersebut akan punah-ranah. 
Istana Raja Gunung Sahilan
Istana Kerajaan Gunung Sahilan dari Pekanbaru Ibukota Provinsi Riau berjarak lebih kurang 70km atau dapat ditempuh lebih kurang 1jam perjalanan darat. Dulunya jalan akses menuju Istana,kita harus melewati jalur sungai melewati Sungai Kampar melalui rakit,pompong atau sampan. Kini Telah berdiri dengan kokoh sebuah jembatan. Tidak jauh dari jembatan tersebut kita dapat menjumpai sebuah Istana Tua yang sudah tidak terawat yaitu Istana Kerajaan Gunung Sahilan, Istana ini tepat berada di Jalan Istana.
Istana Raja Gunung Sahilan (Tampak dari Samping)
Istana ini persis berada di depan Alun-alun Ninik mamak masyarakat Gunung Sahilan.  Didalam istana ini terdapat beberapa benda peninggalan Kerajaan Gunung Sahilan, diantaranya  meriam kecil atau lelo (sebutan masyarakat tempatan), kendi, gong hitam, tombak, pedang, payung kerajaan, yang apabila dibuka diyakini masyarakat sekitar maka daerah gunung sahilan akan turun hujan, sebuah guci yang pada musim kemarau terisi penuh, tapi ketika musim hujan gucinya kosong, kata masyarakat setempat yang menyakininya., tempat tidur beserta kasur dan beberapa photo lama yang terpajang didalam istana.
Istana Raja Gunung Sahilan (Tampak Samping)
Pada mulanya, Gunung Sahilan bernama Gunung Ibul. Letak perkampungannya, berjarak satu kilometer dari kampung sekarang ini. Di kawasan Gunung Ibul itu, masih terdapat beberapa bekas situs sejarah yang juga tidak terawat dan nyaris hilang sejak perkebunan kelapa sawit menjamur di sepanjang Sungai Kampar. Di masa Gunung Ibul, atau Kerajaan Gunung Sahilan Jilid I, masyarakat masih beragama Budha, dibuktikan dengan bekas-bekas kandang babi dan tapak-tapak benteng. Beberapa keturunan raja terakhir, Tengku Yang Dipertuan (TYD) atau lebih sering disebut Tengku Sulung (1930-1941) seperti Tengku Rahmad Ali dan Utama Warman, kerajaan Gunung Sahilan Jilid I diawali dengan Kerajaan Gunung Ibul yang merupakan kerajaan kecil. Menurut penuturan nenek moyang dan orang tua mereka, Kerajaan Gunung Ibul ada setelah runtuhnya kerajaan Sriwijaya. Pembesar-pembesar istana berpencar satu persatu dan mulai mendirikan kerajaan-kerajaan kecil, salah satunya di kawasan Gunung Ibul. “Cerita soal Kerajaan Gunung Ibul memang tidak memiliki bukti kuat seperti kerajaan Gunung Sahilan sekarang. Sebab kami mendapatkannya dari cerita secara turun-temurun tapi kami percaya karena memang bukti-buktinya masih ada,” ungkap Tengku Rahmad Ali yang rumahnya berada tidak jauh dari istana. 
Bagian Belakang Istana Raja Gunung Sahilan
Menurut Tengku Rahmad Ali, Utama Warman dan Tengku Arifin bin Tengku Sulung kisah awal kerajaan Gunung Sahilan karena terjadinya keributan antar orang sekampung. Tidak jelas sebab musabab terjadinya keributan itu, yang pasti keributan mereda setelah tetua adat dan para khalifah bersepakat untuk mencari seseorang untuk di-raja-kan di Gunung Sahilan. Pilihan mereka jatuh kepada Kerajaan Pagaruyung yang saat itu dalam masa keemasannya. Sebelum kerajaan jilid II terbentuk, masyarakatnya sudah heterogen atau gabungan dari beberapa pendatang, baik dari Johor Baharu (Malaysia) dan orang-orang sekitar negeri seperti Riau Pesisir, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi dan sebagainya. Penduduk asli kampung bersuku Domo, sedang enam suku lainnya merupakan pendatang yang beranak-pinak di sana. Meski harus diakui, masih banyak versi lain mengenai sejarah kerajaan tersebut dengan perbedaan-perbedaan yang tidak terlalu jauh. “Seperti kami dari suku Melayu Darat dan Melayu Kepala Koto adalah pendatang dari Johor, begitu juga suku lainnya, kecuali Domo. Ditambahkan Tengku Arifin, mengapa pilihan jatuh ke Pagaruyung karena saat itu, kerajaan itu terlihat cukup menerapkan sistem pemerintahan yang demokrasi. Karenanya, diutuslah tetua atau bangsawan Gunung Sahilan untuk meminta anak raja untuk di-raja-kan di Gunung Sahilan. Anak raja pertama dan kedua meninggal saat disembah seluruh masyarakat. Keadaan negeri menjadi tidak menentu dan diutuslah seorang lagi untuk datang ke kerajaan mapan itu guna mencari siapa yang pantas di-raja-kan di negeri Gunung Sahilan. “Saat itu, utusan negeri mendapatkan kabar dan melihat langsung bahwa anak raja yang bisa di-raja-kan di sini yang berkulit hitam dan kurang molek rupanya. Setelah mendapat izin, anak itu dibawa ke Gunung Sahilan dan di-raja-kan. Karena masih kecil anak itu tidak datang sendiri tetapi membawa pembesar istana lainnya ke negeri ini. Saat itu pula mulailah disusun, peraturan pemerintahan, termasuk adat-istiadat raja-raja jadilah sekarang garis keturunan di negeri ini berdasarkan ibu atau matrilineal,” tutur Tengku Arifin panjang lebar. Sejak saat itu, raja-raja yang diangkat bukan anak kandung raja melainkan keponakannya. Berturut-turut raja yang pernah didaulat di Kerajaan Gunung Sahilan antara lain Raja I (1700-1740) Tengku Yang Dipertuan (TYD) Bujang Sati, Raja II (1740-1780) TYD Elok, Raja III (1780-1810) TYD Muda, Raja IV (1810-1850) TYD Hitam. Khusus raja keempat tidak didaulat seperti raja sebelumnya sebab TYD Hitam bukan anak kemenakan raja Muda, melainkan anak kandungnya. Namun TYD Hitam sebagai pengemban amanah memimpin selama kurang lebih 40 tahun. Raja V (1850-1880) TYD Abdul Jalil, Raja VI (1880-1905) TYD Daulat, Raja VII (1905-1930) Tengku Abdurrahman dan Raja VIII atau terakhir TYD Sulung atau Tengku Sulung (1930-1941). “Kerajaan ini tidak pernah berperang dengan Belanda dan kami tidak merasakan bagaimana kejamnya akibat penjajahan itu. Pihak kerajaan dan Belanda bahkan membuat kesepakatan untuk tidak saling mengganggu. Hanya saja, di masa pendudukan Jepang kerajaan ini dibekukan dan diganti dengan distrik,” kata mantan guru tersebut.

Komplek Makam Raja Raja Gunung Sahilan

Tidak jauh dari Istana dapat kita jumpai Makam-Makam Raja Gunung Sahilan, namun ada yang sangat menarik perhatian diantara sekian banyak makam tersebut terdapat Makam yang di nisan bertuliskan tahun 1357, apakah tahun yang dimaksud Tahun Hijriah atau Tahun Masehi, kemudian juga terdapat Makam yang bernisankan batu alam. 
Salah Satu makam Tua di Kompleks Makam Raja Raja Gunung Sahilan, di Nisan Makam bertulsikan tahun 1357
Salah Satu Nisan Makam Raja Gunung Sahilan yang bernisankan Batu Alam



Lepat Bugi atau Lopek Bugi biasa orang menyebutnya adalah kuliner Khas Kampar, lepat ini dapat kita jumpai disepanjang jalan di Jalan Lintas Pekanbaru Bangkinang. Lepat Bugi ini menjadi industri Rumah Tangga (Home Industri) bagi warga Kampar. 
lepat bugi

Lepat bugi terbuat dari tepung ketan, diisi dengan parutan kelapa yang manis didalamnya, kemudian di kukus dengan bentuk sedemikian rupa dan dibungkus daun pisang. 
lepat bugi

lepat bugi
Air Terjun Tanjung Belit berada di Desa Tanjung Belit Kecamatan Kampar Kiri Hulu Kabupaten Kampar. Untuk menuju ke Desa Tanjung Belit kita melalui medan yang sulit. Dari Kota Pekanbaru untuk menuju Desa Tanjung Belit kita melakukan perjalanan ke Gema ibukota Kecamatan Kampar Kiri Hulu,jaraknya sekitar 90km dari Pekanbaru.


Dari pelabuhan Gema, kita melanjutkan perjalanan menuju Desa Tanjung Belit menggunakan Perahu atau sampan bermotor, masyarakat sekitar menyebutnya Robin, karena sampan tersebut bermotor dengan Merk Robin. Kita Mengaliri sungai Sebayang yang indah dan masih alami, air yang sejuk sungguh jernih dengan dasar yang penuh bebatuan serta pasir dan dengan sangat jelas kita dapat melihat ikan didasar sungai.




 Kredit Photo : Jendry (Forumer SkyScraperCity Riau)



Cagar Alam Bukit Bungkuk seluas 20.000 ha terletak di Kabupaten kampar, Propinsi Riau. dengan status Hukum CA Bukit Bungkuk ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 173/Kpts-II/1986 Tanggal 6 Juni 1986. dengan kekayaan flora dan faunanya :

1. flora : antara lain meranti (Shorea sp), bintangur (Calophyllum spp), kempas (Koompassia malaccensis maing), keruing (Dipterocarpus sp), balam (Palaquium gulta), durian hutan (Durio sp), kulim (Scorodocarpus boonensis), suntai (Palagium walsunrifolium), dan rengas (Gluta renghas). dan masih banyak yang lain

2. Fauna : beruang madu (Helarctos malayanus), harimau loreng sumatera (Panthera tigris sumatrensis), rusa (Cervus timorensis), kancil (Tragulus javanicus) antara lain kera ekor panjang (Macaca fascicularis) antara lain ayam hutan (Gallus gallus), bubut besar (Centropus cinensis) antara lain biawak (Varanus salvator), bunglon (Colates spp), Siamang (Shimphalangus Sindactilus), Ungko (Hylobates Agilis), Beruk(Macaca nemestrina),Kucing Hutan (Felis bengalensis)beberapa jenis kupu-kupu, ngengat dan beberapa jenis Katak

Kucing Hutan (Felis bengalensis)
ancaman saat ini bagi Kucing Hutan adalah Hilangnya Tempat Tinggal mereka begitu juga dengan satwa-satwa lainnya, selain itu perburuan juga menjadikan satwa ini diambang punah.

Ungko (Hyilobates Agilis)
Ungko atau dikenal dengan nama hylobates agilis merupakan satwa yang menggantungkan hidupnya pada hutan alami, dan mereka memakan buah dari hutan alam juga, ungko saat ini dalam status Endangered (Terancam punah). di ungko di Indonesia hanya berada dipulau Sumatera saja, dengan semakin tergerusnya hutan alam oleh perkebunan kelapa sawit dan masyarakat yang kena demam perkebunan kelapa sawit mengakibat satwa ini kehilangan tempat tinggal dan semakin hari jumlah mereka semakin menurun
 
Rumah Siompu Persukuan Datuk Singo Kenegerian Sungai  Pagar adalah Rumah Besar bagi Suku Datuk  Singo di Kenegerian Sungai Pagar (Sungai Pagar). Rumah ini terletak di Jalan Lintas Pekanbaru Taluk Kuantan Desa Sungai Pagar Kecamatan Kampar Kiri Hilir. Suku Datuk Singo di Sungai Pagar biasanya berkumpul dirumah ini pada saat acara adat dan juga acara keagamaan seperti berkumpul dan bersilaturahmi saat Idul Fitri.



Desa Pantai Cermin berada di Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Desa Pantai Cermin ini jaraknya dari Pekanbaru lebih kurang 20km. Desa ini,masih sangat alami, hutannya masih belum tersentuh oleh tangan usil manusia, dihutan Desa Pantai Cermin, sangat banyak kita jumpai berbagai macam buah-buahan seperti durian,manggis,markisa, kayu rotan serta berbagai satwa. Sebagian besar masyarakat Desa Pantau Cermin bermatapencaharian sebagai Petani dan juga Nelayan (mencari ikan). Menurut orangtua di Desa Pantai Cermin,desa ini dinamakan Pantai Cermin,karena dahulunya desa ini merupakan pantai,dan pantai yang memiliki air yang cukup jernih dan bersih sehingga kita bisa bercermin dibersihnya air tersebut. Didesa ini terdapat makam keramat,makan snag penyiar agama Islam di Pantai Cermin,konon sang wali tersebut berasal dari Irak. Makam tersbut sangat wangi. Banyak orang yang melakukan ziarah ke makam tersebut dengan berbagai macam tujuan dan maksud,diantaranya ada yang bertapa kemakam tersebut untuk mendapatkan ilmu kebatinan. Desa ini sangat pantas untuk dijadikan Desa Wisata di Kabupaten Kampar.
Mesjid Tua du Desa Pantai Cermin
Sebuah tangga, akses bagi warga Desa Pantai Cermin utk menuju Mesjid dan Sungai
Alat-Alat perikanan untuk menangkap Ikan yang digunakan warga Desa Pantai Cermin
Sampan milik warga, yang biasanya digunakan untuk mencari ikan di Sungai

Makam syekh said abdul hamid bin said abdul rahman di Desa Pantai Cermin,merupakan ulama dari Irak yang menyiarkan islam di daerah itu hingga akhir hayatnya. Untuk sampai ke makamnya kita harus menelusuri hutan dan melewati sungai selama 30 menit. Makam ini memiliki aroma yang cukup wangi

Rumah Panggung milik warga Desa Pantai Cermin
Sepeda Tua,sebagai alat transportasi sebagian kecil warga Desa Pantai Cermin


Pelaksanaan Cabang Olahraga Motorcross di PON 2012 diselenggarakan di Danau Rusa Sekitar PLTA Koto Panjang Kecamatan XIII Koto Kampar Kabupaten kampar.


PON XIII Riau Tahun 2012 akan dilaksanakan diberbagai Kota dan Kabupaten di Provinsi Riau. Salah satu Cabang Olahraga yang dipertandingkan adalah Balap Sepeda Motor atau dikenal dengan nama Road Race. Road Race di PON 2012 diadakan di Kota Bangkinang, Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Berikut rendering ataupun maket Sirkuit Road Race PON XVIII tahun 2012 di kota Bangkinang.

BACA JUGA : VENUES PON XVIII RIAU TAHUN 2012 
Kesultanan Kuntu Kampar terletak di Minangkabau Timur, daerah hulu dari aliran Kampar Kiri dan Kanan. Kesultanan Kuntu atau juga disebut dengan Kuntu Darussalam di masa lalu adalah daerah yang kaya penghasil lada dan menjadi rebutan Kerajaan lain, hingga akhirnya Kesultanan Kuntu dikuasai oleh Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit. Kini wilayah Kesultanan Kuntu hanya menjadi sebuah cerita tanpa meninggalkan sedikitpun sisa masa kejayaan, Kesultanan Kuntu kini berada di wilayah Kecamatan Kampar Kiri (Lipat Kain) Kabupaten kampar.

Kuntu di masa dahulu adalah sebuah daerah yang sangat strategis baik dalam perjalanan sungai maupun darat. Di bagian barat daya Kuntu, di seberangnya ada hutan besar yang disebut Kebun Raja. Di dalam hutan yang bertanah tinggi itu, selain batang getah, juga ada ratusan kuburan tua. Satu petunjuk bahwa Kuntu dulu merupakan daerah yang cukup ramai adalah ditemukannya empat buah pandam perkuburan yang tua sekali sehingga hampir seluruh batu nisan yang umumnya terbuat dari kayu sungkai sudah membatu (litifikasi). Salah satu di antara makam-makam tua itu makam Syekh Burhanuddin, penyiar agama Islam dan guru besar Tarekat Naqsabandiyah yang terdapat di Kuntu. Makam itu berada dekat Batang Sebayang. Syekh Burhanuddin diperkirakan lahir 530 H atau 1111 M di Makkah Almukarramah dan meninggal pada 610 H atau 1191 M.

Menurut buku Sejarah Riau yang disusun oleh tim penulis dari Universitas Riau terbitan tahun 1998/1999, Kuntu adalah daerah yang pertama-tama di Riau yang berhubungan dengan pedagang-pedagang asing dari Cina, India, dan negeri Arab Persia. Kuntu juga daerah pertama yang memainkan peranan dalam sejarah Riau, karena daerah lembah Sungai Kampar Kiri adalah daerah penghasil lada terpenting di seluruh dunia dalam periode antara 500-1400 masehi. Zaman dahulu, Kuntu dikenal sebagai daerah yang subur dan berperan sebagai gudang penyedia bahan baku lada, rempah-rempah dan hasil hutan. Pelabuhan ekspornya adalah Samudra Pasai, dengan pasar besarnya di Gujarat. Kuntu juga adalah wilayah yang strategis sebab terletak terbuka ke Selat Melaka, tanpa dirintangi pegunungan.
Kuntu juga adalah tanah tua yang mula-mula dimasuki Islam yang dibawa oleh para pedagang dan di masa itu baru dianut di kalangan terbatas (pedagang) karena masih kuatnya pengaruh agama Budha yang menjadi agama resmi Sriwijaya di masa itu. Ketika Cina merebut pasaran dagang yang menyebabkan para pedagang Islam Arab-Persia terdesak, maka penyebaran Islam sempat terhenti.  Para pedagang Arab-Persia-Maroko mulai kembali berdagang di Kuntu dalam abad ke XII Masehi di masa kekuasaan Kesultanan Mesir era Fatimiyah, dinasti yang mendirikan Universitas Al Azhar di Kairo. Kuntu juga memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Islam Dayah di Aceh di bawah Sultan Johan Syah dalam hal perniagaan. Setelah kerajaan Pasai berdiri, mereka bahkan berhasil memonopoli perdagangan rempah-rempah di Kuntu.
Kerajaan Kampar saat ini berada di kabupaten Pelalawan (Dahulu Pelalawan menjadi bagian dari Kampar). Provinsi Riau. Kampar ditaklukkan oleh Melaka di bawah pimpinan Tun Mutahir dan harus menerima instruksi langsung dari Melaka. Kampar sangat strategis, karena merupakan jalur lalu lintas pengiriman emas dan lada dari Minangkabau. Dalam Sejarah Melayu diberitakan bahwa kakak Sultan Mahmudsyah Melaka, yaitu Sultan Munawarsyah, telah diangkat menjadi Raja Kampar pada tahun 1505 M. Dia kemudian mangkat dan digantikan oleh putranya yang bergelar Sultan Abdullah. Kampar yang dimaksudkan adalah Pelalawan yang kerajaannya berkedudukan di Pekan Tua. Pada mulanya yang menjadi raja adalah Maharaja Jaya yang beragama Hindu. Menurut legenda rakyat, negeri itu dulu didirikan oleh Maharaja Dinso (Fals, 1882).

Sultan Abdullah Kampar kemudian menjadi menantu Sultan Mahmudsyah Melaka. Walaupun menantu, dia tidak setia. Saat Portugis menyerang dan menguasai Melaka pada tahun 1511 M dan mertuanya menjadi buronan Portugis, Sultan Abdullah malah berbaikan dengan Portugis yang kemudian mengangkatnya sebagai Bendahara orang-orang asing di Melaka.

Sultan Mahmudsyah yang saat itu bersemayam di Bintan mengirim armada yang dikepalai menantunya yang lain, Raja Lingga, tetapi Kampar diselamatkan oleh armada Portugis di bawah pimpinan Jorge Botelho, dan langsung mengungsikan Abdullah ke Melaka. Kemudian Sultan Mahmudsyah menyebarkan kabar angin ke Melaka, seakan-akan Abdullah secara rahasia mempersiapkan pemberontakan terhadap Portugis. Mendengar berita ini orang Portugis curiga dan termakan kabar tersebut, sehingga Abdullah ditangkap dan dihukum gantung di Malaka. Kejadian ini membuktikan ketidaksetiaan Portugis dan merupakan tamsil bagi Gubernur Jenderal Belanda, Pieter Both seperti termuat dalam suratnya kepada Sultan Tidore tahun 1612 (Verhoeff, 1645). Sultan Mahmudsyah dikejar-kejar Portugis dari Bintan, sehingga ia harus bertahan di Kampar (Pelalawan) sampai mangkatnya pada tahun 1528 M (Marhum Kampar).
Bukit Naang adventure park is an attractive place to play. Natural atmosphere, the trees are cool, here we can enjoy the natural panorama Bukit Naang Kampar. Here is a variety of adventure fun. and there is also a water park.